Dewandaru, Perjalanan dari Masa ke Masa dan Filosofinya

Dewandaru, Perjalanan dari Masa ke Masa dan Filosofinya

Nama Dewandaru membawa hawa mistis ya? Setiap pulang kampung ke Jogja, saya selalu menyempatkan belanja oleh-oleh untuk dibawa kembali ke rantau. Oleh-oleh kebanggan saya adalah bakpia. Iya lah, orang Jogja gituh. Bakpia hampir selalu ada dalam list belanjaan kami.



Ada toko bakpia enak di Jogja, Bakpia Kurnia. Tapi ketimbang ke tokonya, kami lebih memilih belanja di pabriknya. Bukan pabrik besar sih, skala industri rumahan. Walau tempatnya "ndepis" di gang kecil di daerah Pathuk, Jogjakarta, namun soal rasa, hmmmm jangan ditanya. Bagi saya, bakpia Kurnia yang paling enak, legit dan nendang... (*wink wink...promo dagangan orang)

Nah, saya kenal pohon dewandaru di Bakpia Kurnia ini nih. Di depan bangunan tempat pembuatan bakpia, terdapat pohon beranting banyak, menjulang kurang lebih 4 meter tingginya. Saya penasaran, buahnya aneka warna. Ada yang hijau, kuning, oranye, merah. Agak mirip cermai gitu.

Saya tanya-tanya sedikit ke pegawai bakpia, apa nama buah cantik tersebut, si mbak bilang buah dewandaru. Asem manis.

Dewandaru di beberapa daerah disebut juga asem selong, belimbing londo atau cereme asam. Nama ilmiahnya Eugenia uniflora L. Konon tanaman dewandaru berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia, dewandaru menyebar di Sumatra dan Jawa.

Bagi penggemar cerita pewayangan, dewandaru dikisahkan sebagai jenis pohon yang memiliki "kesaktian". Dalam terminologi Jawa, dewandaru diartikan sebagai kayu " Pembawa Wahyu Dewa". Maka tak heran jika tanaman ini disinggung-singgung sebagai tanaman yang penuh karomah. Hihi, saya nggak mau ngomong panjang lebar tentang ini. Karena bukan ranah saya.

Tanaman dewandaru bisa dimanfaatkan, baik batang, daun maupun buahnya. Batangnya sering digunakan untuk membuat aksesoris seperti gelang, tasbih, kalung, bahkan rekal atau alas baca buku/kitab.

Daunnya diekstrak untuk obat-obatan, salah satunya sebagai antirematik dan antidiabetes. Buahnya yang masam dipercaya membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, sedangkan bijinya dimanfaatkan untuk obat diare. Bahkan penelitian baru-baru ini mengatakan kalau buah dewandaru yang banyak mengandung antioksidan itu dimungkinkan bisa menjadi obat kanker.

Sekian cerita singkat tentang tanaman dewandaru yang tumbuh di Pathuk Jogjakarta. Lain kali kalau saya pas jalan-jalan, ada tanaman langka, akan saya posting di sini. Salam sehat, salam semangat !!!

Postingan Lama

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya