Pernah Kena Tilang?

Ada yang unik dengan sistem tilang menilang dan lalu lintas di dalam komplek.

Bagi warga yang baru pindah masuk ke Riau Komplek, bakal berfikir "iiih...kok ribet bener yak, tinggal di sini?". Tapi bagi yang sudah lama (kawakan) tinggal di sini (istilah orang Kerinci tinggal di dalam) berlaku tertib berlalu lintas sudah menjadi hal yang biasa.

Contoh simpel nih, setiap warga dalam wajib mempunyai id card berupa bedge, sesuai dengan status masing-masing. Misal kaya saya yang ibu rumah tangga ya harus punya bedge tanda pengenal, juga suami saya (tapi beda bentuk beda fungsi). Bedge saya cuma berisi identitas saya dan masa berlaku, bedge suami adalah bedge serba guna. Kenapa? Karena bedge dia id card karyawan, yang tiap kerja dipake buat ceklok, tiap keluar masuk komplek ga perlu surat ini itu, asal ada id bedge tergantung di leher, ga perlu diperiksa macam-macam oleh security penjaga pos.

Oh iya, KTP sama SIM "ga berlaku di dalam". Punya KTP  tapi ga punya bedge bakal jadi masalah, punya SIM tapi ga punya KIMPER (semacam SIM tapi hanya berlaku di sini yang maksudnya adalah bahwa pemegang kimper tu warga riau komplek yang memiliki SIM, boleh mengendarai sepeda motor-orang Sumatra kalau bilang motor tu kereta atau honda, mungkin jaman dulu baru merk honda aja yang ada kali ya yang ada...) juga jadi masalah.

Trus ga sembarang kendaraan baik motor atau mobil (kecuali sepeda) bebas keluar masuk komplek loh.
Idih memang ruepuot tenan, ga cuma orang aja yang harus punya id, tapi motorpun juga. Jadi si motor kita tu musti ditempeli stiker gt, yang isinya berupa type kendaraan, nomor id (biasanya 4 digit), kendaraan siapa (milik karyawan, kontraktor, pegawai housing, security, dll) dan masa berlaku (setaun sekali ganti). Bersyukurlah kami yang punya motor butut, jadi bekas stikernya ga keliatan banget, juga ga sayang ting blentong. Karena desain stiker tiap tahun ganti. Bagi yang motornya anyar-anyar, ada bekas stiker di mana-mana serasa jelek kali, sayang motor mengkilap gitu musti ting trembel bekas stiker yang dithethel.

Nah ceritanya nih, beberapa minggu lalu saya ke pasar, pagi-pagi jam 6 biar ga panas pulangnya nanti. Naik motor butut kami. Pelan-pelan aja saya jalan, karena maksimum speed yang dianjurkan cuma 30 km/jam. Tanpa tengok kanan kiri, saya belok kiri ke boulevaard (jalan masuk yang panjangnya 1 km an) komplek. Sebenarnya saya tau kalo ada rambu-rambu di situ, tanda STOP. Maksudnya sebelum membelok musti berenti dulu, ga peduli mau belok kanan ato kiri, di hampir pertigaan jalan pasti ada rambu STOP itu.
Karena saya tengok memang sepi banget, cuma saya aja yang lewat, karena masih pagi buta (adzan subuh jam 5). Tiba-tiba saja ada security patroli yang sepertinya memang sudah berdiri di situ sedari tadi.
"Selamat pagi Bu!" sapanya.
Dengan masih terheran-heran dan kaget (dan mikir juga, dari mana datangnya security itu) saya jawab, "selamat pagi Pak, ada apa Pak?" sok bengong dan bingung gitu.
"Ibu melihat tanda STOP di sana?" sambil menunjuk.
"Iya Pak, saya melihat."
"Ibu tahu artinya?"
"Iya saya tahu Pak".
"Kenapa tadi ibu tidak berhenti?"
Dengan polos (yang memang polos, lugu, jujur, kalem dan baik hati) saya jawab, "tadi saya sudah memelankan motor dan tengok kanan kiri ga ada kendaraan Pak, jadi saya lanjut"
"Ibu, siapa nama suami Ibu, di bagian apa tugasnya?"
Dalam hati, waduh mampuslah saya, bakal ditilang nih...
Kemudian saya sebutkan nama suami saya dan departemen dia kerja. Dan jeng jenggg....
Security mengeluarkan kertas pink dan menulis sesuatu, kemudian menuliskan nomor id motor yang tercantum di stiker. Diserahkan ke saya.
"Silahkan, Ibu boleh jalan"
Masih terbengong-bengong, saya raih kertas tadi dan pelan-pelan menjalankan motor.
Tau nggak, tilang nya enggak bayar si situ ato di kantor dia. Tapi bulan depan tengok di slip gaji suami, pasti ada potongan sekian ratus ribu untuk membayar tilang tadi...

Posting Lebih Baru Posting Lama

3 Responses to “Pernah Kena Tilang?”

  1. Selamat Siang..

    Bu.. untuk perumahan RAPP tsb, tipe nya seperti apa yaa, berapa kamar ? Kemudian untuk internet pasang sendiri yaa ? Krn saya denger khan TV Kabel ..

    Thanks
    Jusup Kristanto

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya pak Jusup. Untuk tipe rumah tergantung sama grade karyawan. Grade B sampai C2, setara dengan junior leader, tinggal di rumah long tipe 45, kemudian leader dan spv tinggal di rumah tipe 60, kemudian setingkat manager dan ekspatriat tinggal di rumah yang lebih gede lagi. Tapi ada beberapa karyawan yang tinggal di apartemen. TV kabel memang ada, free. Kemudian untuk internet, ada beberapa hot spot misal di aula mess-mess, di food court, sekolah, atau di hotel. Kalau untuk di rumah-rumah, internet mengusahakan sendiri.

      Hapus
  2. sayang ngga ada gambarnya ya KK?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya