Kala Musim Petir

Beberapa bulan yang lalu, waktu masih awal-awal musim hujan, biasa hujan diikuti petir sahut menyahut. Bagi yang sudah lama tinggl di Riau, cuaca yang agak ekstrim sudah menjadi hal biasa. Apalagi bagi warga Dumai, yang katanya panas banget, lebih panas dari Kerinci.
Serupa dengan sore itu, jam 5 sore matahari masih terik menyengat, tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dengan awan menggantung yang pekat, sekian menit kemudian hujan lebat. Sekitar jam 6, hujan reda dan cuaca kembali cerah, nampak cahaya matahari mengintip dari sela-sela sisa awan hujan. Tapi sesekali masih terdengar suara gemuruh petir. Kami sekeluarga asyik nonton Jim Jam, chanel kesukaan Zaki, sambil menunggu adzan Maghrib ( adzan jam setengah 7 kurang). Tiba-tiba terdengar suara petir yang kuat sekali, bikin jantung kami serasa lompat... Sampai-sampai si Zaki nangis ketakutan. Gelap. Mati lampu, saya rasa karena sambaran petir tadi, yang sepertinya deket sekali, kaya di belakang rumah aja petirnya.

Saya gendong Zaki, saya cup cup dan peluk, biar tenang kembali. Setelah minum air putih, saya ajak keluar rumah, yang suasananya lebih terang. Beberapa orang juga terlihat keluar rumah. Berharap lampu segera normal kembali. Tapi kami tunggu-tunggu lampu tak kunjung menyala. Singkat cerita, baru sekitar tengah malam lampu menyala kembali. Jelasnya saya juga ga tau, karena saya terbangun Shubuh rumah sudah terang benderang. Informasi dari beberapa ibu rumah tangga bahwa tengah malam lampu baru menyala kembali.

Pagi setelah siap (bahasa melayu untuk menyebut selesai) kerjaan dapur dan bersih-bersih halaman, Zaki pengen nonton TV. Tapi kok...ga ada reaksi apa-apa setelah saya nyalakan. Beberapa kali saya ulangi sama aja. Saya cabut stekernya kemudian saya pasang kembali, masih sama. Ada sesuatu dengan TVnya. "Zaki ga jadi nonton Jim Jam ya..." bujuk saya ke si kecil.

Ga sampe sehari, dengar tetangga pada ribut TVnya rusak, komputernya semalam berasap, radionya rusak. Beruntung kami cuma TV saja, ada yang borongan ketiga-tiganya, ada yang 2 TV juga. Sederet kami yang 10 rumah, ada 4 rumah yang peralatan elektroniknya rusak. Kata suami dan beberapa teman sesama DCS Engineer yang kadang maen ke rumah, rumah kami grounding systemnya buruk. Yakin...pasti kantor housing ramai dapat pengaduan warga.

Dan betul, beberapa hari kemudian ada survey instalasi listrik dan pengukuran pake earth tester dari petugas housing ( perusahaan sub kontraktor yang mengurusi segala tetek bengek yang berhubungan dengan rumah, mulai dari perabot rumah, kasur, tempat tidur, AC, water heater, lantai, cat rumah sampai korden, bahkan seprei), tapi tidak untuk alat elektronik pribadi.

Bagi kami tidak ada TV bukan masalah besar, ada TV pun kami jarang nonton, paling-paling kalau si Zaki pengen nonton Jim Jam, atau ayahnya pengen nonton bola. Tetangga pada sibuk ngundang tukang servis TV buat rame-rame, tapi gagal. Sepertinya terkendala keribetan peraturan masuk komplek ato apa. Sedang untuk membawa TV atau komputer ke tempat servis agak rumit birokrasinya, musti minta surat-surat ke kantor security, baru bisa lewat pos 1 dengan aman tanpa di stop sama security penjaga pos .

Sesuatu yang mengejutkan, pagi-pagi saat buang sampah saya tengok TV tergeletak begitu saja di samping tempat sampah. Yang bener aja, pikir saya. TV masih bagus, segede TV saya sekitar 29 inch, layar datar, di buang begitu saja... Kesimpulan saya, si empunya TV ga mau ribet dengan kerumitan prosedur mbetulin TV, buang aja TV lamanya, beli aja yang baru...
Sudah rejekinya para bapak tukang sampah.

Tapi ga cuma TV aja, banyak barang-barang yang sekiranya masih bisa dipakai, main lempar aja ke tempat sampah. Baru-baru ini stroller bayi, karena si Odette (tetangga selang 1 rumah dari rumah saya) sudah 2 tahun, kereta bayinya dibuang begitu saja. Kadang sepeda anak-anak (yang paling sering saya lihat) selama 2 tahun tinggal di Riau Complex, seingat saya sudah 4 kali nampak sepeda di buang di tempat sampah, padahal masih kuat kerangkanya, paling roda depannya ga ada, tinggal velgnya aja, ato jerujinya pada patah-patah.

Saya sering merasa sayang dengan barang-barang yang keliatan masih bagus tapi kok dibuang. Tapi mau ngambil pun juga buat apa. Andai di lingkungan luar, rasanya kok ga kaya gini banget, ya kan? Paling ga, diperbaiki dulu, kemudian kalo sudah bosan, bisa disumbangkan atau dikasihkan yang membutuhkan. Ato mentang-mentang rusak langsung pada bisa beli lagi yang baru yak? Entahlah.

Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Kala Musim Petir”

  1. Bunda, kalau boleh tanya perumahan RAPP kena pengaruh polisi ASAP gak sih ? Kedua, kalau jenuh Bunda ngapain ? khan mau jalan2 ke Mall jauh harus perjalanan 2 jam dan itupun hanya tiap Sabtu yaa kalau gak salah ada bis ke kota ..

    BalasHapus
  2. hehehe...tau aja Bapak. Sekarang baru dak ada asap Pak, tapi kalau musim kemarau asap banyak, hampir tiap hari. Kalau musim hujan adanya aroma kentutnya si pabrik yang katanya bau dollar... masha Alloh, bikin pening kepala baunya, bisa mabuk kalo dak biasa. Iya betul Bapak, Sabtu Minggu ada bus ke Pekanbaru.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya