Zaki Terkunci

Dua tiga atau empat kali Zaki keluar masuk kamar sambil berlari-lari riang seperti biasa. Dasar memang anak aktif, mana mau jalan, pokoknya lari aja...biar cepat sampai tujuan mungkin. Saya gak begitu memperhatikan apa sebenarnya yang membuat Zaki begitu antusias keluar masuk kamar. Karena sudah jam 09.00, cucian belum sempat dikeringkan, jadi saya sibuk gedubrak-gedubruk dengan mesin cuci, makin cepet selesai, makin cepet ke dapur untuk masak, pikir saya.

Selesai menjemur cucian, rencana mau jemur bantal-bantal dan guling sekalian, mumpung cuaca cerah setelah beberapa hari mendung.
Saya buka pintu kamar, e la dalah kok terkunci, saya pikir Zaki main-main di ruang lain. Tapi kok suara teriakan Zaki kayak dari kamar.
"Unda tantik, Aki bisa Nda!!!"
Tuh kan benar, Zaki di dalam kamar. Dia terkunci. Tapi kok, dari nada suaranya, sepertinya Zaki sangat puas bisa mengunci pintu sendiri. Apalagi dengan panggilan Unda tantik (bunda cantik)...yang menandakan dia lagi excited sekali. Tidak ada rasa takut atau panik sama sekali di benak dia. Saya pun awalnya juga tenang-tenang saja, paling dengan sedikit bujukan, dia akan membukakan pintu.
Tapi, saya bujuk-bujuk, dia malah asyik main lompat-lompatan di kasur. Saya bujuk lagi lagi dan lagi, Zaki cuek saja. Kemudian saya keluar rumah, saya intip dari jendela. Terlihat Zaki masih asyik di atas kasur sambil dadah-dadah melambaikan tangannya.
"Unda...Unda!!!"
Saya bujuk lagi Zaki supaya memutar kunci yang masih nancep di pintu.
"Enggak papa kok... Aki beyani kok." katanya.
Dipikirnya saya khawatir dia bakal ketakutan di kamar sendiri mungkin.

Setengah jam berlalu. Zaki belum mau membuka pintu juga, malah main mobil-mobilan dari bantal yang disusun-susun.

Deg
Teringat ada stop kontak nganggur dan kabel laptop kemlawer di bawahnya. Ah Zaki gak bakalan nyampe, pikir saya. Tapi...
Bukannya di kamar ada kursi dari meja rias.
Haduh...Teringat peristiwa setahun lalu waktu Zaki naik kursi nyoba nyolokin kabel setrika ke stop kontak, untung kepergok saya sebelum dia berhasil memasukkan steker ke lubangnya.
Serta-merta saya keluar rumah, saya intip Zaki dari balik jendela.
Sudah watak Zaki, gak bisa lihat yang namanya barang nganggur, semua dimainkannya, semua diotak-atiknya. Bahkan sampai sepeda baru dibeli pun umurnya gak sampai seminngu dicopotin sekrupnya pakai tool ayahnya.
"Zaki sayang, buka dong, mau ikut bunda nggak? Bunda mau ke kedai niiih...!" coba saya bujuk lagi. Tapi nihil, dia masih saja asyik di kamar. Kali ini laci meja rias diobrak-abriknya. Sambil mengeluarkan botol-botol kosmetik saya, kemudian beberapa disusun di sebelah tumpukan bantal.
"Nda aki mau pasang kenapotnya nih."
Whatever lah Nak, pokoknya bunda pengen zaki keluar saat itu juga.

Bawaan panik mungkin, saya langsung ke rumah tetangga, minta tolong kayak mana caranya supaya Zaki mau keluar kamar. Ayahnya kerja, jadi gak ada yang diajak diskusi. Ternyata tetangga pada liburan ke Pekanbaru, long week end karena ada imlek. Ayahnya yang kejatah on call, mau tak mau ya harus kerja.
Alhamdulillah salah satu tetangga ada yang stay di rumah. Saya mintain tolong, dia datang bantu saya bujuk-bujuk Zaki.

Lama gak ada progress.
Memeras otak.
Gak ada ide lagi.
Pada siapa saya minta tolong, apa iya saya harus mecah kaca jendela…
Ngucap kata jendela, tiba-tiba saya ingat bapak-bapak yang mbetulin jendela rumah tetangga sebelah. Housing. Hanya satu kata itu yang terlintas di pikiran. Kemudian saya pamit sama si ibu yang datang ke rumah buat jagain Zaki sambil ngawasi dari jendela.
Secepat kilat (haduh kok jadi lebay gini) saya pacu motor ke kantor Housing Departement. Ada beberapa karyawan ngobrol-ngobrol di samping kantor, kalau kantornya sih dicantolin tulisan “OFFICE CLOSED”, libur. Hanya beberapa karyawan saja yang standby.

Dengan semangat 45, bapak-bapak housing menyiapkan peralatan savety dan tangga. Katanya kalau tak bisa dibongkar paksa kuncinya, ya mereka mau lewat plafon rumah.
Jadi tidak enak bikin repot semua orang. Tapi demi keselamatan anak, harus begitu.
Sampai rumah, bapak-bapak segera menyiapkan alat-alat.
“Tapi, coba sekali lagi dibujuk, siapa tahu anaknya sudah bosan Bu.”kata salah satu petugas housing.
“Zaki, ayuk kita cuci mainannya…”
Langsung Zaki teriak.
“Mauuu Unda, Aki mau!!!”
Dan…ceklek, pintu dibukanya.
Ya Alloh, anakku ini kalau disuruh main air… Ga sadar kalau tindakannya sudah membuat banyak orang cemas.
Sudahlah, sekarang gak sekali-kali membiarkan kunci tergantung di pintu begitu saja. Lebih baik dicabut dan disimpan di tempat yang “aman” dari jangkauan.
Bukan takut karena terkurung, tapi karena hal-hal lain yang lebih membahayakan dan di luar dugaan.

Kesimpulan:
Bagi anak-anak, semua hal adalah mainan yang menyenangkan. Apalagi bagi balita yang rasa curiousity nya luar biasa besar. Semua ingin dimengertinya dan dipahaminya. Sudah selayaknya orang tualah yang harus lebih waspada dan hati-hati menjaga si kecil tanpa mengekangnya dan menakut-nakutinya.

Posting Lebih Baru Posting Lama

3 Responses to “Zaki Terkunci”

  1. nah yang ini saya belum baca. menarik nih kayaknya cerita soal ananda. ntar Insya Allah baca tuntas (soalnya lagi liqa', hehe)

    BalasHapus
  2. iya Mbak. memang pengawasan ke anak mesti ekstra banget ya... ngeri begitu kan jadinya...
    alhamdulillaah hepi ending. syukurlah, ikut seneng

    BalasHapus
  3. betul Pak, kadang ditinggal kedip saja, anak tau-tau jatuh atau terpeleset. Apalagi tipe anak yang aktif...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya