Teganya Teganya Teganya...

Tiba-tiba saja teringat peristiwa 2 bulan lalu. Peristiwa menjengkelkan yang pernah saya alami. Sebenarnya kejengkelannya sudah reda sejak beberapa pekan yang lalu, tapi tadi terpicu sedikit, jadi dongkolnya kambuh lagi. Rasanya gonduk dan sesak di dada.

Peristiwanya dimulai pada suatu pagi di akhir bulan November tahun lalu. Eda Florens datang ke rumah (orang-orang biasanya manggil dengan sebutan eda, walau saya orang jawa, saya juga memanggil dengan sebutan itu, ngikut yang laen, padahal kata eda adalah sapaan bagi sesama perempuan khusus orang batak, mungkin setara mbak atau jeng). Tidak biasanya tetangga yang satu ini ke rumah saya. Agak terkejut juga, saya lagi ngepel tiba-tiba si Eda datang nyamperin. Tanpa ba bi bu, langsung nanya saya. Kurang lebih percakapannya seperti ini.
" Bunda, lagi sibuk?"
"Eh Eda, enggak kok, cuma tinggal ngepel saja. Ada apa Da?"
"Aduh Bun, aku mau ngrepoti nih"
"Ngrepotin apa to Eda ini, selagi saya masih bisa bantu, insha Alloh saya bantu Da."
Pikiran saya langsung tertuju ke sepeda motor, soalnya si eda biasanya suka minjam sepeda motor Bu Sinta (tetangga samping rumah persis) yang kebetulan lagi pergi. Wah, pasti mau minjem motor saya...
Lha wong si eda ni sebenarnya punya mobil lho, tapi nggak bisa nyupir, trus sepeda motornya dibawa suaminya kerja. Jadi kalau ke mana-mana suka nyari tumpangan atau pinjem sepeda motor orang...
"Bun, anak-anak gagal debet bulan ini, tadi dapat telpon dari sekolah suruh nyelesaikan dulu"
"O ya gapapa Da, sepeda motor saya nganggur kok, kalau mau eda bawa ke bank.."
Spontan saya jawab begitu, karena dari awal sudah kebayang mau minjem motor.
Anak-anak karyawan yang sekolah di yayasan perusahaan harus pakai auto debet dari rekening orang tuanya. Mungkin maksudnya biar tidak merepotkan accounting dan menghindari penyalahgunaan uang SPP kali.

"Aduh Bun, bukan itu maksudku... kalau Bunda ada dana, aku mau pinjem dulu buat nyelesaikan SPP anak-anak."
"Oh, hamdalah saya ada Da, memang butuh Eda berapa?"
"Ya sekitar 500 aja Bun"
Hamdalah beberapa hari sebelumya saya dapat pelunasan dari jualan gamis dan accesories jilbab. Tiap mudik ke Jogja, saya kulakan busana muslim dan beberapa pernak-pernik jilbab. Ya, itung-itung buat gawan.
"Oh, ada kok Da"
Kemudian saya ambil uang di map dagangan. Lima ratus ribu saya serahkan ke si eda.
"Wah beruntung aku Bun, bulan depan aku balikkan ya"
"Iya Da, ndak papa, pakai aja dulu"
Kemudian si eda pulang. Sempat mikir juga, kok ga minjem motor sekalian, trus nanti ke bank naik apa. Sedang bank ada di luar komplek, sekitar 2,5 km. Trus kalau gagal debet, mestinya kan cuma 150 ribu aja, anak si eda tiga, tiap anak SPP cuma 50 ribu karena sebagian dana sekolah sudah disubsidi paerusahaan.
Lagian ah masa sih orang se level Pak Manurung (suami si eda) sampai kehabisan uang, padahal karyawan se-letting-an dia gajinya tak kurang dari 8 juta per bulan. Ah, khusnudzon saja lah. Lebih asik main sama Zaki daripada sibuk memikirkan pertanyaan yang ga jelas...ndak baik.
Zaki lagi hobi naik sepeda besar,sepeda roda dua yang masih pakai roda bantu. Jadi sebentar-sebentar jalan-jalan sambil dorongin Zaki. Baru pulang sebentar, minta main lagi, bahkan ke kedai pun sepedanya dibawa. Padahal kedainya jauh. Sekalian olah raga.

Kembali ke letop..
Bulan Desember awal, sempat mikir mau ngingetin Eda Florens tentang uang 500 ribunya. Belum pernah nagih utang sih jadi agak gimana gitu... Biasanya teman-teman yang beli dagangan saya ga perlu ditagih, kalau udah waktunya, pada ngelunasi sendiri-sendiri.
Niat itu saya urungkan, karena mencermati kalimat si eda, katanya bulan depan..mungkin maksudnya sebulan waktunya. Kalau awal Desember kan baru 3 hari yang lewat.

Sebulan berlalu. Awal Januari, saya beranikan ke rumah si eda. Agak deg degan juga, mikir, gimana cara ngomongnya...tapi yang pasti suaminya sudah terima gaji.
"Permisiiii...Eda...!"
Pintu dibuka sama opungnya yang sejak natalan kemarin datang nengokin cucu-cucunya.
"Eda Florens ada Pung...?"
"Ada, lagi masak" kata si opung.
Kemudian saya dipersilahkan masuk. Si eda datang dari arah dapur.
"Ada apa Bun, tumben ke mari"
"Anu..da saya mau ngingatkan eda yang waktu itu pinjem uang untuk ngurus SPP"
"Uang apa...SPP apa?"
Dengan gaya sambil mengingat-ingat dan kaya agak lupa gitu.
Perasaan saya langsung dak enak sama sekali.
"Gini da, akhir November lalu eda kan pinjam uang saya 500 ribu untuk ngurus SPP."
"Oooooh itu"
Saya langsung lega kembali.
"Ee Bun, bukannya bulan kemaren sudah aku bayar ke kau.."
Deg...kok jadi gini, pakai kata KAU segala.
"Aduh da, belum lho da, belum ada saya nerima uang dari eda" lanjut saya.
"Ahhh, jangan macam-macam kau ini..."
Hati saya langsung ga enak dengar nada yang seperti itu.
"Demi Alloh, saya belum menerima pembayaran dari eda"
"Hati-hati kalau ngomong ya.. jangan kau bikin urusan jadi repot ya...! Tengoklah bukti di bank, apa ada kami gagal debet selama ini... mau bukti!"
Waduh saya langsung panas dingin dibegitukan. Jelas-jelas saya yang minjemin uang, kok seolah-olah saya yang ngutang.
"Maaf da, saya berniat nagih hutang yang 500 ribu yang belum eda bayar..."
"Kurang keras aku ngomong, sudah aku bayar bulan kemaren..tau!" teriak si eda sambil mengacung-acungkan jarinya. Serem amat...
Kemudian si opung ikut angkat bicara.
"Heh bagus Bunda ni pulang sekarang, dari pada bikin ulah di sini."
Jantung saya berdegub kencang, ga tahan dengar kata-kata yang sekasar itu. Langsung saya gendong Zaki pulang, tanpa pamitan. Sampai rumah saya menangis sejadi-jadinya.. Merasa kecewa, sudah bersikap baik kok malah diperlakukan sebaliknya. Saya kaget dengar kata-kata sekasar itu, yang langsung dan jelas ditujukan ke saya.
Masya Alloh kok ada orang yang setega itu ya...
Di luar dugaan, Zaki nyeloteh sambil ngelus-elus tangan saya...
" Nda...jangan nangis ya, mau Aki bikinkan susu?"
Seketika hilang jengkel dan tangis saya, geli dengan tingkah Zaki.
Bikin susu untuk diri sendiri aja belum bisa kok mau bikinkan susu bunda, lagian bunda ga minum susu. Zaki Zaki...
Pengen rasanya melanjutkan nangis lagi, tapi sayang...kasian Zaki sudah bersusah payah membujuk saya supaya tidak menangis...
(I love U my baby boy Zaki)

Sorenya ayah Zaki pulang kerja, langsung saya nyerocos laporan tentang peristiwa menjengkelkan tadi pagi. Eh ayahnya dengan ringan menjawab...
"Yang sabar Nda, besok biar ayah bikin SS lagi, trus rewardnya buat bunda deh..."
Cubitan tebal mendarat di pinggang ayah Zaki. Dia ketawa-ketawa aja, padahal hati saya dongkol sekaligus gemes dengan tingkah dia.
SS (singkatan dari apa ya...lupa) yang jelas semacam innovation atau improvement atau temuan baru di Digital Control System. Semacam ide brilian dan inovatif gitu, nah kalau SS nya disetujui dan bagus, dapat reward berupa uang. Jumalahnya ga mesti sih, sekitar 400 ribu sampai 700 ribu bahkan sampai 3 juta kalau SS-nya menang dalam kontes--kaya kontes robot saja. Mungkin karena saking seringnya bikin SS, ayahnya masuk Top Eight di Riau Pulp. (Ngelus dada..bangga)

Beberapa hari kemudian, setelah pikiran saya tenang (mudah-mudahan ikhlas...ikhlas...ikhlas) saya cerita sama Budhe sebelah. Budhe dengan reaksi biasa saja mendengarkan. Padahal harapan saya, Budhe bakalan terkejut (ga bilang wow loh ya). Rupanya Budhe juga pernah dikibulin sama si eda itu. Padahal Budhe ni Ibu RT, kok ya bisa dipedaya sama warganya, pikir saya. Dulu Budhe pernah dikibulin gara-gara panci Oxxone. Si eda ngutang panci Oxxone 1 set seharga 800 ribu sama Budhe (yang memang jualan panci Oxxone). Dan motifnya agak sama, awal-awal bayar cicilan rajin, tapi ujungnya dia ga mau bayar utang dengan alasan sudah bayar..Tipe Budhe orang yang ga mau ribut (apalagi ibu RT) ya diikhlaskan saja.."Toh ga bakalan menang melawan orang kaya gitu" kata Budhe.

Memang...rasanya perlu dikasih pelajaran orang yang satu ini...

Anehnya, istrinya kibul sana kibul sini, si suami ga tau lho...Tapi kalau dipikir, memang mustahil orang seperti dia tukang tipu. Cantik, kehidupan mapan, ramah, pandai bergaul...
Apa memang saya yang terlalu lugu dan katrok ya..
Yang jelas hati saya lega dengan memposting tulisan ini.

Posting Lebih Baru Posting Lama

5 Responses to “Teganya Teganya Teganya...”

  1. Hey very interesting blog!

    Feel free to surf to my web site - Vouchers

    BalasHapus
  2. iya bunda nanti kalau dia tak lagi datang memang dia merasa tuh

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya