Ayah dan Orang Talang Mamak

Belum genap sebulan peringatan Bulan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) berlalu. Peringatannya nggak tanggung-tanggung. Banyak lomba dan door prize yang di bagi. Kami mamak-mamak ikut lomba yang lumayan menantang, memadamkan api, cerdas cermat K3, sama keahlian menggunakan tabung pemadam api ringan APAR. Tiga minggu setelah peringatan Bulan K3, di mill terjadi accident. Berita yang sungguh mengejutkan, korban kecelakaan kerja adalah suami teman saya searisan. Beliau menghirup gas beracun dan pingsan, kemudian terjatuh dari ketinggian. Kata tim identifikasi, ketinggiannya 4m 30cm. Kedua kaki bapak itu patah.

Beberapa minggu suami teman saya dirawat di rumah sakit di Pekanbaru. Para ibu arisan belum bisa nengokin karena terkendala waktu yang nggak bisa kompak. Ayah Zaki kebetulan satu departemen sama korban, jadi waktu off 2 hari, kesempatan untuk nengok ke rumah sakit. Alhamdulillah, ternyata ayah nggak sendiri, tapi ada beberapa kawan yang juga mau njenguk. Berangkat bersama-sama pagi naik mobil salah satu kawan. Hamdalah kondisi bapak itu sudah baik, beberapa operasi sudah dilalui.
Selesai dari rumah sakit, ayah dan teman-teman segera pulang, karena ada beberapa orang yang nggak off, tapi masuk shift sore.

Perjalanan Pekanbaru-Pangkalan Kerinci menjadi tantangan tersendiri bagi ayah, medan yang naik turun dan berkelok-kelok sering membuat ayah pusing dan mual. Padahal waktu di Jawa, ayah nggak kaya gini. Setelah sampai di tanah Sumatra ayah jadi sensitif kalau melakukan perjalanan darat. Ya, pastilah, karena medan yang berliku sama tentunya bosen nengok kanan-kiri adanya hutan dan kebon sawit aja.
Di tengah-tengah galau perjalanan pulang, ayah dikejutkan salah satu teman yang menepuk bahu ayah dengan keras sambil menunjuk suatu arah. Ada apa, pikir ayah.
Masih dengan menunjuk, teman ayah berkata " eh, pada ngapain orang itu!"
Ayah yang masih mencoba memfokuskan pandangan juga terkejut, melihat serombongan orang, sebagian bertelanjang dada, dari anak-anak sampe kakek-kakek jalan beriringan sambil membawa banyak barang dan buntalan, mereka barjalan tanpa alas kaki. Membayangkan Riau yang panas luar biasa, dan aspal yang menyengat. Jadi merinding, alangkah kuatnya kaki mereka. Rombongan terlewati mobil. Dengan menoleh ke belakang, ayah dan temannya masih heran dengan aksi orang-orang tadi, kaya happening art saja.

Kemudian si empunya mobil, yang memang asli orang Riau, beliau cerita panjang lebar tentang orang-orang yang barusan lewat tadi. Mereka adalah orang Talang Mamak. Talang Mamak adalah salah satu suku asli Riau, tepatnya daerah Indragiri Hulu. Mereka hidup di daerah pedalaman, dan tinggalnya nomaden. Biasanya mereka tinggal di dalam hutan dengan berburu, tapi ada juga yang membuka areal bercocok tanam. Orang Talang Mamak pada umumnya berpakaian layaknya kita, bagi kaum laki-laki mereka terbiasa bertelanjang dada. Banyak mitos-mitos yang diceritakan tentang mereka. Kalau lagi jalan kaya gitu, artinya mereka lagi pindah tempat. Yang membuat sangat takjub, mereka tidak mau bepergian naik angkot atau menumpang mobil. Mereka lebih memilih menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Padahal jarak yang mereka tempuh bukan sekilo atau dua kilo, mereka bisa berjalan sampai puluhan kilo meter. Wah...

Sepintas tentang Suku Talang Mamak, jadi mengingatkan cerita waktu kami masih tinggal di Jambi. Suku Anak Dalam yang tinggal di daerah Tebo, Pegunungan Kerinci Jambi dan sekitarnya. Tapi orang-orang Talang Mamak ini kehidupannya lebih modern, ada dari mereka yang sudah tinggal menetap di perkampungan. Bahkan kabarnya ada yang sudah menempuh pendidikan tinggi menjadi dokter. Hebat ya...

Mendengar cerita panjang lebar kaya gitu, pusing dan mual ayah serasa hilang, dan sampai rumah dalam keadaan ceria. Ayah sangat antusias untuk balik bercerita ke saya dan Zaki.

Posting Lebih Baru Posting Lama

3 Responses to “Ayah dan Orang Talang Mamak”

  1. ohh talang mamak yang eksotis.
    di sana (saya refer to suku badui) pasti gudangnya orang jujur Mbak, sederhana dan militan.

    sebenarnya kalo pembangunan kita adil dan menjangkau mereka, mereka sangat bisa diandalkan sebagai manusia pembangunan yang berkarakter, jauh dari sifat2 oknum anggota DPR.

    BalasHapus
  2. mungkin meluruskan aja, yang mbak ceritakan itu berkemungkinan suku anak dalam (orang kubu jambi) yang memang akhir akhir ini beberapa kelompok kecil sering muncul didaerah riau.
    talang mamak sendiri merupakan komunitas adat yang pola hidupnya menetap, tidak berpindah pindah.. mereka hidup di sepanjang aliran sungai gangsal, sungai tenaku dan di rakit kulim, kehidupan talang mamak lebih baik dibandingkan suku anak dalam, namun tetap jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan masyarakat indonesia secara umum.
    anak dalam dan talang mamak terkadang memang dianggap sama bagi sebagian orang, mungkin karena kedua komunitas ini tidak bisa dipisahkan dari hutan sebagai sumber kehidupan mereka. sayang hutan mereka boleh dikatakan habis mbak, disekeliling mereka sekarang cuma hamparan kebun sawit dan HTI dari perusahaan tempat suami mbak bekerja..
    ironis memang.. kita yang merasa lebih beradab dan berbudaya dibanding mereka, menghancurkan tatanan adat dan kehidupan mereka..

    BalasHapus
  3. mungkin meluruskan aja, yang mbak ceritakan itu berkemungkinan suku anak dalam (orang kubu jambi) yang memang akhir akhir ini beberapa kelompok kecil sering muncul didaerah riau.
    talang mamak sendiri merupakan komunitas adat yang pola hidupnya menetap, tidak berpindah pindah.. mereka hidup di sepanjang aliran sungai gangsal, sungai tenaku dan di rakit kulim, kehidupan talang mamak lebih baik dibandingkan suku anak dalam, namun tetap jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan masyarakat indonesia secara umum.
    anak dalam dan talang mamak terkadang memang dianggap sama bagi sebagian orang, mungkin karena kedua komunitas ini tidak bisa dipisahkan dari hutan sebagai sumber kehidupan mereka. sayang hutan mereka boleh dikatakan habis mbak, disekeliling mereka sekarang cuma hamparan kebun sawit dan HTI dari perusahaan tempat suami mbak bekerja..
    ironis memang.. kita yang merasa lebih beradab dan berbudaya dibanding mereka, menghancurkan tatanan adat dan kehidupan mereka..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya