Zaki dan Hal Baru

"Apa kau..."
"Dasal bongak" (baca:dasar bongak atau bodoh)
"Bego kali kau ini..."

Itu kalimat-kalimat yang sering terlontar dari bibir kecil Zaki beberapa hari ini. Saya penasaran sungguh, tidak pernah kami menggunakan kalimat-kalimat kaya gitu sehari-hari, kok Zaki bisa begitu fasih mengucapkannya. Setiap kali Zaki saya nasehati untuk tidak mengucapkan kata-kata kaya gitu, malah semakin sering dia melontarkannya ke saya atau ayahnya.
Nek dipenging malah kaya dikon, ingat kata Embah dulu waktu saya bandel.

Agak kewalahan kami mengatasi Zaki yang lagi bereksperimen dengan pengalaman barunya. Saya yakin, dia nggak paham betul makna kalimat-kalimat tersebut.
Kalau diperhatikan, teman-teman Zaki yang sering main ke rumah nggak pernah memakai kata sekasar itu. Jadi mikir, dari mana dia mendapatkannya. TV, nggak mungkin, karena saya selektif memilih channel TV untuk dia.

Saya langsung berburuk sangka dengan teman-teman Zaki beberapa hari terakhir yang sering ngajak Zaki main sepeda di ujung blok. Mood anak-anak yang berubah-ubah, kadang bosen dengan teman yang ini, ganti teman yang itu, bosen main ini, ganti main yang itu. Termasuk Zaki yang beberapa pekan sibuk dengan mobil radio control, sekarang berpaling ke sepeda roda duanya.

Tapi saya nggak mau 100% men-judge anak-anak itu biang keroknya. Sore tadi saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Selesai mandi, Zaki saya ajak main ke luar sambil bawa sepeda. Beberapa anak yang sedang main bola di ujung blok menarik perhatian Zaki. Dia mengayuh sepedanya ke arah teman-temannya itu. Ada 3 anak, 2 masih TK, satu anak lagi sudah kelas 2 SD. Biasanya saya nggak sedekat ini mengawasi Zaki main, cukup sambil duduk-duduk di bawah pohon mangga di depan rumah sambil mengontrol kalo anak-anak pada mulai main dekat jalan gede. Tapi karena terdorong rasa penasaran, saya ikuti Zaki, bahkan ikut-ikutan nendang bola segala, termasuk mengambilkan bola kala bola mulai memantul ke arah jalan. Tiba-tiba terdengar dari mulut Tobias, teman Zaki yang masih duduk di bangku TK, "bongak kali kau ini, jangan tendang ke arah situuuu....!"
Ooooo...jadi begitu ya.
Benar dugaan saya.
Tapi saya nggak mau mengecewakan Zaki dengan serta-merta mengajaknya pulang. Saya ambil sepeda Zaki, kemudian dengan sedikit bujuk rayu, Zaki mau juga saya ajak keliling blok.

Semakin sering Zaki mendengar kata-kata kasar, akan semakin sering pula dia mengucapkannya.
Yang bikin saya heran, apa orang tua anak-anak itu juga sekhawatir saya saat mendengar anak mereka berkata kasar. Tapi tak bisa dipungkiri memang, banyak orang tua pun yang kadang mengucapkan kata-kata kasar ke anaknya tanpa mereka sadari.
Hiks...hiks... bahkan saya yang sudah jadi orang tua pun pernah dikata-katai kasar sama tetangga saya...Jadi ingat peristiwa Januari lalu.

Bismillah...semoga beberapa hari ke depan Zaki bisa melupakan kata-kata itu.

Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Zaki dan Hal Baru”

  1. iya Mbak, anak-anak memory-nya lagi bagus2nya. termasuk untuk merekam nada-nada fals yang mengerikan. mari kita selalu waspada

    BalasHapus
  2. waspadalah...waspadalah...
    yup, leres pak...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya