Foto Pernikahan

Tadi buka-buka lemari, niatnya mau bersihkan dan rapikan beberapa buku yang berantakan dan beberapa printilan jilbab yang nyelip diantara tumpukan-tumpukan kertas kerja ayah.
*kurang kerjaan banget tu barang, sampe nyelip-nyelip segala...*

Lemari yang mustinya buat tempat baju sekarang beralih fungsi jadi tempat buku dan dokumen. Kami bingung mau naruh buku-buku di mana, kalau di taruh di rak buku (yang bentuknya selalu terbuka dan rendah) tu buku nggak bakalan selamet dari jarahan tangan si Zaki. Inggat peristiwa lampau, yang buku-buku ayah dilukis pakai tinta sama Zaki, atau beberapa dokumen yang berisi prototype gawean ayah jadi koyak-koyak diguntingi.
Yah, jadilah tu buku pindah ke lemari, dan rak buku pindah ke dapur, buat ngamankan panci-panci bunda, sementara baju dipaksa dan dijejal masuk ke lemari satunya.

Hati agak terusik ketika melihat album foto pernikahan kami. Gatel pengen liat lagi. Saya buka halaman demi halaman...aahhh indahnya kala itu. Zaki pun cukup kooperatif dan memperhatikan. Dia sudah tidak bertanya-tanya lagi tentang dirinya di mana, karena sudah beberapa kali Zaki saya ajak melihat foto pernikahan kami dan saya jelaskan kalau waktu itu Alloh belum membikin Zaki. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal, dia masih belum mau menerima kenyataan kalau foto wanita di samping ayah adalah bundanya.
*heuhhhh...kasian deh bunda...*


"Aki nggak mau punya unda kaya gitu!!!"

Hadeh...

Protes Zaki berulang-ulang diarahkan ke saya.
Kelihatannya Zaki ngeri sama saya. Nggak pernah wajah saya ditemploki tetek bengek kaya gitu. Apalagi lipstik yang sangat mencolok, merah.
Yang jelas Zaki nggak familiar sama bunda yang berdandan, karena selama ini yang dilihat nggak kaya gitu. Hal yang sudah di luar bayangan Zaki tentang sosok bundanya.

Ya sudah lah...nerima saja.

Bersyukur mempunyai anak yang nggak ribet dan menerima bundanya apa adanya tanpa harus dipoles. Zaki lebih akrab dengan hal-hal yang sederhana dan nggak riweh tentang ini itu. Seperti waktu awal bulan lalu, saat Zaki saya ajak belanja di supermarket. The one and only supermarket di Pangkalan Kerinci, walau ada juga Ramayana sih, tapi didominasi dengan baju-baju saja. Untuk keperluan bulanan, saya memilih supermarket, karena harganya lebih murah dan barang-barangnya baru terus, karena perputaran barang cepet. Nah, waktu semua isi list sudah masuk ke keranjang, saatnya antri di kasir...lumayan panjang antrinya walau sudah tanggal 2. Gajian di sini jatuhnya akhir bulan, biasa tanggal 28 atau 29.
Seorang ibu-ibu di depan saya yang sudah selesai bayar menyodorkan sebungkus es krim ke Zaki yang lagi sibuk di dalam troli belanja.
"Zaki, beli susu ya..."sapa ibu itu.
Saya agak kaget juga, rupanya ibu-ibu tadi adalah Kak Vida, tetangga bawah...lho, iya tetangga yang rumahnya di belakang rumah saya beberapa gang. Karena kontur tanah yang bergelombang, naik turun, rumah dia di bagian lembah sana.
"Eh...Kak Vida, kirain siapa...iya belanja nih Kak".
Tentang es krim tadi...mengejutkan..*lebay*...Zaki bilang "enggak mau!!!" dan langsung berdiri di troli dan minta turun.
Eh telisik punya telisik...rupanya dia takut sama Kak Vida yang memang pada saat itu dia berdandan menor banget, sampe eye shadow-nya keliatan hijau banget dan blush on nya merah merona banget...kondangan kali.

Hihihi...memang Zaki nih.

Posting Lebih Baru Posting Lama

8 Responses to “Foto Pernikahan”

  1. mantap...
    aku malah ga tau foto nikahan ngumpet dimana
    kebiasaan ga pernah mikirin acara seremonial kali
    yang penting hasilnya udah ada tuyul 2
    haha

    BalasHapus
  2. hehehe...tuyul2nya yang ngegemesiiiiin banget sampe lupa kapan nikahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ncen katrok kok
      tanggal lahir anak istri wae ga pernah inget
      untunge selalu tak bikinin jurnal makane bisa ngecek ke blog, "ooo bulan depan si ncip tambah umur setaun..."

      Hapus
  3. zaki,..kaya nama anak saya mba hehehe...
    keindahan memang akan lama di kenang yah...

    BalasHapus
  4. hamdalah iya betul...makasih Pak El, sudah berkunjung. Salam buat putranya...

    BalasHapus
  5. kayak istri saya Mbak, sama kayak Njenengan, nggak kenal sama make up. apalagi perhiasan. ya sudah polosan gitu. tapi ketahuilah Mbak, saya sebagai suaminya malah makin kagum sama kecantikannya. pasti deh ayahnya Zaki juga merasakan yang demikian. bersahaja isdebes.

    BalasHapus
  6. wah, makasih pujiannya bikin tambah semangat nih Pak. Bukannya nggak mau pake make up kalau saya, tapi kadang belibet dan malah nggak pede, takut bedaknya nggak rata dan lainnya, ya mending saya nggak make up aja sekalian...hehehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya