Kabut Asap Datang Lagi


Fenomena unik nan tidak nyaman dan tidak menyenangkan yang menyelimuti kawasan Riau dan sekitarnya ini datang lagi. Mimpi buruk bagi ibu-ibu yang punya bayi dan balita. Apalagi warga komplek, yang tiap hari sudah disuguhi bau NCG (Non Condensate Gas) yang aromanya jan plek mirip kentut dan dihujani debu serat kayu. Ditambah kabut asap…oh em jiiii.

Tiap musim kabut tiba, banyak anak-anak yang terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Bagaimana tidak, lha wong  sudah berdiam diri di dalam rumah pun aroma sangit (ikan asap kale…) dan butiran-butiran debu berwarna hitam tetap saja bisa masuk, walau nggak buka pintu dan jendela. Satu lagi derita emak-emak, cucian yang dijemur pun jadi kotor, bahkan serpihan-serpihan sisa pembakaran nyangkut di kain jemuran, kalau dikibaskan malah membekas goresan jelaga hitam. Hadeh, nyuci lagi…ampyuuuun.

Sabar nduk… *nduk…bu*

Kabut asap yang disinyalir berasal dari pembakaran lahan oleh petani ini sangat mengusik, terutama para pengguna jalan. Waktu parah arak pandang bisa 10-15m, menjadikan para pengendara harus extra hati-hati. Gambar ini saya ambil di suatu pagi menjelang siang di jalanan depan rumah.


Tapi kok ada yang aneh ya dengan kejadian ini… Harusnya  kalau pernah terjadi hal serupa sebelumnya, pemerintah daerah bisa mengatasi atau menindak pelaku secara tegas. *haiyah…bahasane* Para warga petani kadang cuma menjadi kambing hitam dan tameng para pengelola perkebunan besar  sebagai biang penyebab kabut asap.

Padahal di Riau banyak sekali perkebunan-perkebunan skala besar yang dikuasai oleh swasta. Baik perkebunan sawit maupun HTI (Hutan Tanaman Industri). Pihak pengusaha lebih memilih membersihkan lahan degan cara membakar, karena dinilai lebih mudah dan murah. Saya rasa hal inilah sebenarnya yang sangat berkontribusi dalam penurunan kualitas udara di Riau. Tapi sayangnya para pengusaha dan pengelola HTI itu kebal terhadap hukum. Pusingkan loh…

Contohnya saja industri pulp and paper di sini yang menargetkan jumlah produksi sebesar 2.800.000 ton per tahun. Wow…*bayangin dulu* (Kapan-kapan saya posting tentang jaket ayah yang ada tulisan bla bla bla yang intinya berhasil mencapai produksi sekian juta ton)
Padahal berat produk jadi pulp and paper adalah seperempat atau 25% dari berat bahan baku. Artinya kalau produk jadinya seberat 2,8 juta ton, ya kalikan empat saja.

2.800.000 x 4 = 11.200.000 ton kayu akasia tiap tahun.

Berapa ribu hektar HTI yang diperlukan? Yang jelas luaaassss sekali. Nggak heran kalau HTI-nya nggak cuma di Sumatera tapi mencakup Kalimantan juga.

Fatalnya lagi, adanya industri pulp and paper ini yang menjadikan daerah menjadi maju dan menyedot banyak sekali tenaga kerja. Misal saja pabrik tempat ayah kerja. Pabrik terdiri dari 3 bisnis unit, power, pulp dan kertas. Ayah yang masuk di bisnis unit pulp, dengan 4000 karyawan, belum termasuk kontraktor dan sub-kontraktor, jumlahnya bisa 6000 an orang. Entah unit-unit yang lain ayah kurang tau. Misal pukul saja jumlah orang yang ikut ambil bagian dalam industri ini ada 12.000 orang. Dari semua orang itu, tentu berhubungan dengan pengelola-pengelola  penunjang  kehidupan yang lain misal pasar, toko, rumah sakit, sekolah dll, hingga akhirnya rotasi uang dan barang kembali ke titik semula. Artinya si pabrik memenuhi hajat hidup orang banyak.

Udah pusing di ajak mbulet putar-putar dari tadi?

Intinya, saya cuma mau bilang, plis deh jangan ribut kalau kabut asap datang *padahal ribut dewe* karena sesungguhnya semua orang (mungkin ada segelintir yang enggak) berkontribusi di dalamnya.

NB:
Ini hanya kesimpulan dari seorang emak yang heran kenapa kabut asap selalu muncul tiap musim kemarau dan tanpa kulonuwun masuk di lingkungan saya…mohon maaf apabila ada pihak yang kurang berkenan.

Posting Lebih Baru Posting Lama

6 Responses to “Kabut Asap Datang Lagi”

  1. wahh gitu ya Mbak..
    kalo pas ke Riau saya belum ngalamin kena kabut asap. paling saat di Kalimantan, tu memang jaan.. sampe penerbangan ditunda sampai beberapa jam.
    ngeri ya

    BalasHapus
  2. Saya malah belum pernah ditunda penerbangannya gara2 kabut asap Pak, mudah2an Kamis depan kami pulang Jogja cuaca bagus...

    BalasHapus
  3. ah elah...
    petani seberapa luas sih kalo buka lahan
    bandingin sama pemegang hph

    pemrentahnya koplok pancen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang...lha pemerintah dapat uang banyak dari pemegang hph.

      Hapus
    2. tapi ya jangan peladang yang dijadikan sasaran
      sampe tipi juga ikutan mengamini...

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya