Potret Masyarakat: Krisis Air

Seingatku, duluuu...sekali, waktu aku masih kecil, waktu simbah putri masih kuat menggendongku, kampungku tak pernah kekeurangan air.
Air selalu melimpah di mana-mana. Bahkan sawah di kampung ditanami padi sepanjang tahun. Parit-parit kecil yang mengalir di sela-sela hamparan permadani padi pun selalu gemericik oleh air beningnya. Kontur lahan di desaku yang berbukit dan bertanah padas putih sepertinya nggak begitu berpengaruh terhadap ketersediaan air sepanjang tahun, layaknya daerah ngarai yang selalu hijau dan kaya air. Tebing-tebing padas di sekitar rumah bahkan meneteskan air, bak ada mata air di dalamnya. Aku kecil sering menampung tetesan air itu di tangan untuk aku minum.

Ahhhh...indahnya.

Ingat dulu tiap liburan sekolah tiba, aku SD sering alot nggak mau di ajak berlibur ke tempat oma (mamah-nya mamakku) di Madiun, aku lebih senang main di sawah di kampung bapak bersama teman-teman, yang kebanyakan adalah laki-laki, sedangkan ceweknya cuma segelintir. Di lingkunganku kala itu, anak-anak sebaya aku, aku saja yang cewek. Kalaupun ada, usianya usianya jauh di atasku, ataupun jauh di bawahku, bahkan adikkupun dua-duanya adalah laki-laki. Tapi itu bukanlah sebuah penyesalan ataupun hal yang menyedihkan. Berkat teman-temankulah, aku jadi tahu gimana caranya menangkap ikan di kali, mencari belut, memanjat pohon kelapa, main nintendo-------permainan populer kala itu, bahkan main bola ataupun ketapel. Satu yang sungguh sulit aku lupakan, ketika kerikil ketapelku melesat menghantam punggung mbah Karto (alm) yang sedang memandikan sapinya di kali. Uuuhhh...bandelnya aku kecil.

Tapi semua hal indah itu, sekarang hanya dongeng semata. Sekitar 15 tahun terakhir, warga kampung sering mengeluh kekurangan air. Sawah yang dulu hijau oleh tanaman padi, sekarang berubah menjadi ladang palawija. Air sumur menjadi cepat habis sebelum musim kemarau tiba. Tak jarang kami harus membeli air dari mobil tanki penjual air. Satu tanki air 1000 L dipatok antara Rp 90.000 sampai Rp 120.000. Air dari tanki di tuang ke sumur atau bak penampungan. Untuk skala rumah tangga, air itu bisa bertahan hingga sebulan.

Seingatku, beberapa kali LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dari kota mencoba menolong kami dengan beberapa alternatif mendapatkan air bersih.

Sekitar akhir tahun 90-an, ada program sumur bor, air dialirkan dari sumur bor ke bak-bak penampungan air yang ditempatkan di beberapa titik di kampung. Tapi cuma bertahan beberapa bulan saja, habis itu macet setelah pihak LSM menyerahkan ke warga untuk dikelola secara mandiri. Bahkan sekarang bak-bak itupun nganggur dan sebagian sudah dibongkar warga untuk dialih fungsi.


image dari google

Sekitar tahun 2006 atau 2007, setelah gempa melanda Jogja dan sebagian besar daerah Bantul, CHF Australia, sebuah LSM internasional, mencoba memberi solusi dengan memasang pompa air raksasa di  Sendang Pangkah, yang merupakan salah satu sumber air besar, yang airnya mengalir terus sepanjang tahun, bahkan di musim penghujan, airnya tumpah-tumpah membludak ke sungai di sampingnya.

Sumber energi listriknya di dapat dari beberapa panel surya lebar yang dipasang di samping sendang. Ada sebuah bak penampungan di sebelahnya. Air dialirkan melalaui pipa-pipa PVC ke rumah-rumah warga yang dipasang secara gotong-royong.

sungai di sebelah sendang pangkah

sendang pangkah waktu dikuras

Sekitar 6 bulan kami bisa menikmati air mengucur dari kran. Sesekali pihak LSM berkunjung untuk mengecek (maintenance). Beberapa warga juga diminta untuk mengikuti semacam pelatihan untuk mengelola air, termasuk bapak yang kala itu diminta sebagai teknisi listrik.

Setelah LSM sepenuhnya menyerahkan "air tiban" itu ke warga, terjadi beberapa kendala. Diantaranya adalah hilangnya beberapa instalasi listrik yang dipasang, misal lampu-lampu penerang sendang atau kabel-kabel. Bahkan saklar-saklar pun dirusak. Sepertinya ada oknum-oknum jail yang sengaja melakukannya.

Bapak dan rekan-rekan pengelola sering tombok untuk mengganti alat-alat tersebut. Sebenarnya ada juga dana dari warga yang rumahnya dilairi air karena setiap meter kubik air, diganti dengan Rp 2.000,-
maksudnya sebagai uang lelah bagi para pengelola. Tapi tidak semua warga mampu membayarnya, jadi kadang direlakan begitu saja, karena memang kondisi yang tidak mendukung. Terutama bagi warga-warga sepuh yang sudah tidak produktif.

Dengan tersendat-sendat, air bisa terus mengalir. Pipa-pipa PVC yang bocor atau pecah menjadi PR pengelola juga. Bapak yang didapuk sebagai teknisi listrik pun tak jarang ikut menggali tanah untuk mengganti atau menyambung pipa yang rusak.

Tapi rupanya pengabdian para pengelola harus berakhir di tahun 2008 karena ulah pihak yang sangat tidak bertanggung jawab dan egois. Beberapa panel surya dilaporkan hilang. Ya...hilang. Sungguh suatu peristiwa yang sangat menyulut emosi. Kalau sekedar kabel atau saklar, iya bisa langsung segera diganti. Tapi ini panel surya yang harganya jutaan, bahkan puluhan juta, siapa yang mau mengganti. Uang dari mana?
Aku nggak habis pikir tiap ingat peristiwa itu. Sungguh perbuatan yang sangat keji. Bukankah air untuk warga adalah sesuatu yang sangat esensial dan diharapkan?

Memang letak sendang agak jauh dari perkampungan warga, dekat dengan daerah ladang dan alas (bukan hutan, tapi alas, tanah tak bertuan yang luas dan ditumbuhi pohon-pohon liar).

Ironis sekali.
Potret sebuah kampung di ujung Kabupaten Bantul yang dulunya melimpah air, sekarang harus bergelut melawan kekeringan. Daerah-daerah landai yang dulu sebagai area resapan sekarang sudah berubah menjadi perumahan. Banyak sekali developer yang berlomba-lomba membeli tanah warga untuk didirikan perumahan murah. Kawasan yang dulu edum dan tenteram, sekarang mulai terasa hingar-bingarnya. Hingar-bingar yang membuatku tidak begitu nyaman, karena ternyata banyak warga perumahan justru adalah orang-orang kaya yang membeli RS (Rumah Sederhana) untuk dibangun kembali menjadi rumah mewah.

Membayangkan rumah-rumah mewah dengan mobil-mobil mahal terparkir di depannya, yang beberapa ratus meter dari situ terdapat rumah reyot yang terbuat dari anyaman bambu, dengan sepeda onthel yang tersandar dengan tumpukan jerami di atasnya. Ohhh...
Penduduk asli serasa tersingkirkan.

Hal yang sangat ironis lagi adalah ketersediaan PAM di komplek perumahan. PDAM dengan senang hati memanjangkan pipanya ke komplek perumahan, sedangkan warga yang jaraknya cuma "sejengkal" dari situ mengalami kekurangan air. OMG! Apa sebenarnya yang terjadi dengan negara ini?


Katanya sih, Januari 2013 PAM masuk ke desa kami, tapi kenyataannya hingga medio 2013 pun, belum ada tanda-tanda PAM dibangun. Semoga itu semua bukan janji-janji pilkada atau pil pil yang lainnya.






Posting Lebih Baru Posting Lama

94 Responses to “Potret Masyarakat: Krisis Air”

  1. Begitulah negeri ini, ya ng kaya semakin kaya yang miski terpinggirkan. Air Bersih sudah sudah untuk ditemukan. Daerah Bantul kok bisa seperti itu ya ? coba postingan ini disertakan fotonya ppasti lebih bisa menyentuh pembacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kemarin waktu pulang kampung ndak sempat ke area pemasangan panel suryanya je Pak Dj, baru terpikirkan untuk posting juga baru2 ini...

      Hapus
    2. Saya dulu suka main kebantul, kanan kiri masih terbentang sawah dan kebun berarti sekarang sudah padat ya ?

      Hapus
    3. saya sukanya main di toko Kotamas di Malioboro. tapi sekarang udah ilang

      Hapus
  2. masa kecil dulu memang beda dengan masa kecil sekarang ya mbak, dulu saya hobi cari ikan, kejar layang-layang di sawah cari mangga dengan ketapel, dll.
    masalah air ini seksi banget sepertinya, mulai dari pencurian yang memang ada unsur sabotase atau memang ambil keuntungan, begitu juga masalah politis.
    saya belum tau informasi apa kok bisa kekurangan air, apa karena ada tambang? hutan di tebangi atau apa? boleh dong di kasih tau...
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya karena keberadaan perumahan2 di bawah sana Pak, selain itu setelah terjadi gempa tahun 2006, keberadaan air juga semakin susah, mungkin adanya pergeseran kulit bumi dan pergeseran sumber2 air di dalam tanah, saya juga nggak paham Pak...

      Hapus
    2. kebaradaan tanah buat serapan air di mana saja, sekarang terancam ya Mbak. terkurangi seiring dengan perkembangan perumahan2 elit itu

      Hapus
    3. mungkinjuga resapan air hujannya kurang ya halaman rumah sekarang pada pakai cor beton, aspal ...

      Hapus
    4. oh iya gempa jogja mungkin juga mempengaruhi sumber air ya, tapi pohon juga sudah ilang entah kemana, dan bener sekarang sudah menjadi cor beton

      Hapus
    5. pohonnya dicor jadi pohon robot

      Hapus
    6. tanahnya diaspal juga sih

      Hapus
    7. ada developer baru di blog saya...hahaha

      Hapus
    8. mang yono kan? biasa menanam hutan beton dan juga ngecor dengan aluminium, keren kan mbak, hehe

      Hapus
  3. gambaran yang sama persis di tempat saya dulu di jawa mba, ketika masih kecil saya bisanya mandi di kali yang kala itu cukup bersih, tapi saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, kali sedikit dan kotor airnya...

    kalo PAM sih di tempatku ga ada, hanya sumur tanah dan bor yang banyak digunakan warga. Di tempat saya sekarang alhamdulillah air bersih masih melimpah, mengalir sepanjang musim dan masih asri..alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillaah, ikut merasakan kebahagiaannya

      Hapus
    2. hamdalah Pak...

      di tempat saya sekarang juga ketersediaan air dan listrik melimpah dan gratis, karena sumber energinya dari pabrik. bahkan pemda-pun beli listrik dari pabrik untuk menerangi sekabupaten Pelalawan. bersyukur banget.

      walaupun gratis, tapi bukan berarti boros.

      Hapus
    3. paling asik mandi dipancuran, sambil nunggu antrian mandi heheheh

      Hapus
    4. masih ada pancuran ya Mang?

      Hapus
    5. sumber di tuban dan mojokerto aman, dan air dari kali bisa langsung di minum karena bersih

      Hapus
    6. patut diacungi jempol Pak. di sini (riau) air dari sungai kampar sudah tercemar limbah pabrik kertas

      Hapus
    7. Alhamdulillah. Ikut seneng, masih banyak air bersih yang melimpah

      Hapus
    8. air mengalir sampai jauh

      Hapus
    9. nah itu yang menyebabkan banjir di rumah rengel tuban

      Hapus
  4. mbaak, saat sumur bor dulu dibuat, bukankah itu yang akhirnya menyebabkan keseimbangan air di dalam tanah jadi nggak baik ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sumur bor itu sumur artesis bukan?

      Hapus
    2. oh, iya betul banget Pak Zach, ada sumur bor sebuah di kampung saya, mudah-mudahan nggak nambah. itupun sekarang sudah nggak dipakai lagi.

      Hapus
    3. bisa juga itu penyebabnya

      Hapus
    4. tapi kan sebelum dibangun sumur bor sudah kekeringan duluan Mang...sumur bornya merupakan salah satu alternatif mendapatkan air tanah, pun jumlah sumurnya seantero desa cuma 1 biji.
      tp mungkin itu berdampak sekarang ini

      Hapus
    5. kalau mau bangun PAM kontek mamang ya hahahah.... promosi....

      Hapus
    6. Wah saya baru tahu, mang yono kerja di PAM yah

      Hapus
    7. berati pasukan berani mati yah hehe...

      Hapus
    8. saya dong pasukan berani hidup

      Hapus
  5. Alhamdulilah ya mbak... D kmpung saya air msh melimpah dan bersih...

    BalasHapus
  6. moso sih bantul sampe kekeringan
    orang gunung kidul wae sekarang ijo royo royo kok..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah, pandangan umum yang ada Pak Raw, dari luar tampak Bantul yang makmur dan gemah ripah, tapi rupanya di salah satu sudut yang tersembunyi (tak pernah diekspose media) kenyataannya jauh berbeda.
      Sekitar 2011 atau 2012 saya dan suami pernah sekedar email ke PEMDA, bahkan sms via hotline-nya, tapi tak ada tanggapan. bahkan hot linenya tak aktif

      Hapus
    2. gunung kidul itu berbukit ya

      Hapus
    3. bahasa endonesanya gunung selatan
      south mountain lahh

      Hapus
    4. nek lor itu ngaler nek ngidul itu ngidel ya

      Hapus
    5. waduh ampun rek , di celok njenengan kayak mbah yai

      Hapus
  7. liat fotonya, baru percaya jika bantul kekurangan air bersih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kan Mas Dj...itulah yang kami alami...
      pernah beberapa tahun lalu kemarau panjang, untuk mandi saja kami "nglurug" sampai ratusan meter, atau ngambil air pakai jerigen yang dimuat pakai sepeda motor...

      Hapus
    2. jerigen itu pimpinan regu koor?

      Hapus
    3. itu yang jadi bos lho mas

      Hapus
    4. kalau wakilnya itu sekjen

      Hapus
  8. waduh kekeringan ya, mbak... mungkin banyak pabrik disekitarnya ya, biasanya pabrik membuat sumur bor antara 100 - 200 meter...

    pakai ini aja mbak...
    Sekarang sumber air sudekat.
    Beta sonde pernah terlambat lagi
    Lebih mudah bantu mamak ambil air untuk mandi

    " ups iklan ya "

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...mamang ni bisa aja, minta royalti mang sama perusahaannya...

      pabrik...nggak ada tu mang, kami kebanyakan petani atau kerja sebagai buruh di kota, atau jualan di pasar...

      Hapus
    2. solusinya pakai PAM aja mbak.... pemerintah terkaitnya di demo aja hahahah

      Hapus
    3. profokokatornya mamang...hahaha

      Hapus
    4. iya nih, tangkap yuuk

      Hapus
    5. di masukkan karung terus di masukan gentong

      Hapus
    6. hihi, kebayang saya, mamang dimasukin gentong. jahat ahh, haha

      Hapus
    7. saya terpingkal geli...mamang meringkuk di gentong...hahaha. maaf mang

      Hapus
    8. huss jangan banter-banter nanti mamang bangun dari Wese

      Hapus
  9. semoga permasalahan air di Bantul cepat terselesaikan ya mbak, paling tidak pemerintah daerah segera cepat tanggap dengan kondisi ini tidak hanya mengurusi PADnya saja

    BalasHapus
  10. mestinya kekayaan alam di peruntukkan untuk masyarakat, tapi akhir2 ini justru di perjual belikan. mana keadilan negri ini?

    BalasHapus
  11. Alhamdulilah, disini air bersih sentiasa tersedia..

    BalasHapus
  12. Hmm.. Kalau melihat ketimpangan ϑĭ Negeri Ini, kapan ya bisa semua merata..? merenung.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan ya Pak...mendambakan indonesia damai dengan rakyat yang makmur merata...mimpi kita semua.

      Hapus
    2. semoga menjadi kenyataan mimpinya....yuk melamnun lagi

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya