Mampir ke Museum Kota Pekanbaru



Siang itu Riau panas luar biasa. Pesawat kami baru saja landing jam 12.45 WIB dari Jogja. Begitu melangkahkan kaki menuruni tangga pesawat, hawa kering dan panas langsung menyeruak ke wajah kami.  

"Bunda, Aki mau jalan sendiri" kata anak saya ketika akan saya gendong.

Kami pelan-pelan turun, dengan memebawa satu tas kecil berisi 2 kotak makan siang yang sengaja kami bawa dari Jogja. 

Barang bawaan kami cukup banyak. Satu koper pakaian dan satu kardus besar barang dagangan dan oleh-oleh kami masukkan ke bagasi. Lama menunggu kedatangan bagasi kami. Letih saya menunggu, saya panggil seorang porter untuk membantu saya.
Sekitar setengah jam kami pusing melihat conveyor berputar-putar, akhirnya dua bagasi saya datang juga.

Di luar pintu kedatangan, ayah sudah tampak melambaikan tangan, menjemput kami.
Ke luar dari bandara, masih bersama porter, kami menunggu kendaraan jemputan yang ayah sewa untuk membawa kami menuju Pangkalan Kerinci. Tak perlu menunggu lama, Pak Amran dengan Innova hitamnya langsung membuka jendela, tersenyum ke arah saya.

Sekian menit kemudian kami melesat keluar dari area bandara Sultan Syarif Kasim II. Rasa lapar yang mendera perut saya (dan Zaki tentunya) memaksa kami untuk segera berheti untuk menikmati bekal yang kami bawa dari kampung, dua kotak nasi gudeg dengan satu paha ayam, satu telur dan sambal krecek yang cukup pedas. Buat saya dan Zaki. Ayah dan Pak Amran sudah makan sebelumnya, di salah satu rumah makan padang di sudut kota Pekanbaru, yang kata ayah, sambal ijonya "mak nyoooos".

Sambil mencari ke sekeliling, tempat yang adem dan nyaman untuk  makan, mata saya tertuju pada sebuah bangunan khas bergaya melayu, yang tampak gagah dan anggun. Kami berhenti di sana. Kami berjalan, salah seorang satpam menyapa kami. Ayah pun kemudian minta izin untuk numpang makan di sana. Satpam itu mengiyakan.

Rupanya, bangunan megah itu adalah sebuah museum. Tak sempat memperhatikan tadi.
Museum Daerah Sang Nila Utama Pekanbaru. Baru ngeh saya. Keadaanya sepi sekali.



Sampai di tempat teduh, kami segera mencuci tangan dengan air mineral yang kami bawa, kemudian makan. Zaki saya suapi dengan nasi dan ayam----yang tak pedas tentunya. Sekian menit, usai. Rasa penasaran kami menggelitik untuk melangkahkan kaki menuju anak tangga yang bersusun cukup tinggi, memasuki bangunan museum. Sebuah loby besar menyambut kami, dengan seorang ibu petugas berseragam coklat khas pegawai negeri sipil. Beliau tersenyum, menyodorkan buku tamu untuk kami isi.

Kami isi buku itu, kami kembalikan ke beliau. Kemudian beliau pun melanjutkan aktivitasnya, melihat tayangan televisi. Enaknya, pikir saya. Tanpa seorang pemandu pun, kami berkeliling. Zaki tampak senang. Sekian menit kemudian terdengar suara----hatchis...hatchisss...hatchissss--------hidung sensitif kedua laki-laki imut saya tak bisa dibohongi, mereka mulai alergi.




Kami cepat saja berkeliling, tak sempat membaca-baca hingga detail. Ada sekian ratus koleksi museum, mulai dari perkembangan pertambangan di Riau yang di sponsori oleh Chevron,  miniatur rumah melayu, pakaian adat, senjata-senjata tradisional melayu, termasuk beberapa senjata peninggalan Belanda, Al-Quran yang ditulis tangan, guci-guci peninggalan kerajaan, alat tenun bukan mesin, bedug raksasa, hingga sepeda onthel kuno.

Sungguh wadah yang luar biasa megah untuk barang-barang bernilai sejarah. Lelah kami berkeliling, naik turun tangga, ke lantai dasar, balik lagi ke lantai atas yang tersambung langsung dengan tangga keluar. Ada sebuah kejanggalan, tak sama waktu saya sering ke museum sebelumnya, baik di Jogja maupun di luar Jogja. Keadaan museum ini termasuk kotor menurut saya, debu di mana-mana, bahkan tampak beberapa etalase dihiasi sarang laba-laba, tampak tak terawat. Sungguh disayangkan untuk bangunan se-keren itu, tapi terbengkalai. Lagi pula, tak tampak seorang pemandu museum-pun menemani kami. Beda banget saat kami ke Museum Sonobudoyo Jogja kala itu, atau museum Arkeologi di Pacitan.

Di lantai atas, dengan menghadap ke arah depan, kami bisa melihat kemegahan bangunan lain di seberang jalan. Nuansa kemegahan berhembus kala menyaksikan lalu lalang jalan nampak kecil, sedang kami begitu tinggi di atas-----walau cuma 3 lantai. Satu lagi yang menggelitik, dari tempat kami berdiri, ada view aneh yang mengganggu pandangan. Posisi kami tepat di belakang loby, di lantai atasnya. Tampak ibu yang tadi dan seorang lainnya yang baru saja datang  sudah tidak nonton tivi lagi, tapi sibuk di depan komputer, ngapain coba...saya amat-amati, saya perhatikan, saya foto. Sayang, resolusi kamera saya terlalu kecil, sehingga kurang jelas. Beliau sedang main game di komputer...huhuhu hohoho hehehe. Lucu sekali parodi ini...nge-GAME? Orang lain kerja banting tulang, berangkat pagi, pulang pagi lagi, demi sesuap nasi...ini nge-GAME pun digaji...enaknya...





Posting Lebih Baru Posting Lama

89 Responses to “Mampir ke Museum Kota Pekanbaru”

  1. postingan aneh saya kali ini. entah kenapa, tapi postingan ini terfilter sama firefox di komputer saya, padahal tidak ada kata-kata yang mengandung maksiat...haduuuh nasib

    BalasHapus
    Balasan
    1. Firefox juga ciptaan manusia Mbak, nggak sempurna juga..:)

      Hapus
    2. pasti sudah garis tangan deh,

      Hapus
    3. sudah suratan ya Pak...hahaha

      Hapus
    4. jangan pasrah gitu dong, hehe

      Hapus
    5. mungkin penunggu museum ikut masuk postingan. jadi mozillanya takut..xixixi

      Hapus
    6. ada wewe gombelnya gitu

      Hapus
    7. semua gara2 ada kang agus ST...itu pasti
      mohon kepada yang bersangkutan agar tidak terlalu banyak berkomentar...silau dengan latar merahnya yeuh.

      Hapus
    8. kemaren bawa apa mbak dari musiumnya> mungkin pengen ikut eksis

      Hapus
  2. Seru nich Mbak Khusna, mampir ke museum, anak pasti senang, wisata sekaligus memberi pelajaran sejarah ya Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Boku juga seneng pasti
      ehh

      Hapus
    2. iya Pak Lulus, banyak ilmu yang didapat dari museum

      Pak Zach juga pasti seneng, yakin

      Hapus
    3. dan juga karena gratis tinggal ngisi buku tamu

      Hapus
    4. iya betul, belum saya sampaikan, GRATIS...

      Hapus
    5. apalagi kalau saya naik pesawatnya gratis langsung meluncur ke pekanbaru deh

      Hapus
    6. pasti saya nggak di ajak.

      Hapus
    7. tentu dong...enakan ngajak Mbak Nia

      Hapus
  3. saya beberapa kali ke pekanbaru tapi belum pernah kesini. padahal saya paling seneng sama museum. OK deh, ini mengingatkan saya, besok lagi kalo kesitu, pasti tak akan saya lupa: museumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Pak, lumayan asyik kok, lokasinya di Jalan Sudirman no 194 Tangkerang, Pekanbaru

      Hapus
    2. jangan lupa bawa gudeg 2 kotak dulu untuk bekal, nanti kelaparan lho

      Hapus
    3. minumnya pasti wedang jahe

      Hapus
    4. asik bisa ngajak mamang nih

      Hapus
    5. bisa Mang. bonceng belakang ya Mang.

      Hapus
    6. pasti disuruh dorong pas tanjakan he

      Hapus
    7. komentar kang zach dikolom ini ..sangat lebay deh ih

      Hapus
  4. punya bandara dewe ngapain nunut
    minta turun di deket rumah ga bisa ya..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang baru melayani rute pabrik-polonia medan, tiket 200 ribu an. kalau yang ke soetta balum ada Pak Raw

      Hapus
    2. bisa nggrowoki terowongan deket toliet nanti tembus rumah

      Hapus
    3. hahaha, kaya kelinci saya dulu, sudah dimasukkan kandang, kok bisa keluar...jebulnya bikin terowongan

      Hapus
    4. kaya kereta api masuk terowongan

      Hapus
    5. kayak welut sukanya ngeleng

      Hapus
    6. terjun payung lebih sip ya

      Hapus
  5. Balasan
    1. njih pak, leres, asli mbantul

      Hapus
    2. mbantul itu ada desa seturan ya

      Hapus
    3. seturan itu di daerah depok sleman kayaknya Pak Agus

      Hapus
    4. oh iya sih sleman sembodo, eman eman marai gelo

      Hapus
    5. kang pacul:...kalau yogya...masalah geto buwat looou....;o)

      Hapus
  6. sambal krecek kayak apa mb khusna?

    assyik dunk ,,, bisa jalan" mpe pekanbaru,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. sambil yang di kasih krecek kan ?

      Hapus
    2. Mbak Maya: sambal krecek yang melengkapi gudeg adalah sambal goreng krecek (olahan kulit sapi, yang kalau dimasak sambal goreng bentuknya lembek2 gitu, rasanya gurih)

      jalan2 ke Pekanbaru sesekali saja kok mbak, biasanya juga di pelosok di Pangkalan Kerinci

      Pak Agus: sambal terong, berarti sambal yang dikasih terong?

      Hapus
    3. oh gitu ya mbak, kalau sambel bajak berarti bajak sawah nangkring di layah atau cowek dong

      Hapus
  7. gimana museum mau ramai , wong menjaganya saja sudah bosan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulllah mbak khusna dan keluarga belum bosan

      Hapus
    2. mungkin jenuh nggak tau apa yang mau dikerjakan Raja.
      iya, saya nggak bosan kok

      Hapus
    3. Saya boleh nggak jadi patihnya?

      Hapus
    4. saya tikang parkir jarannya ae lah

      Hapus
    5. saya dong yang jadi brama kumbaranya

      Hapus
    6. mamang jadi mak lampir ya

      Hapus
  8. alhamdulilah perjalanan balik tidak membosankan, biasanya kalau balik itu bosan enak kalau pulang, seneng banget. turun dari tangga pesawat langsung disambut karpet merah dengan pengawalan ketat karena ada oarng penting liwat, lha kok ndilalah yang di jemput bawa makanan dua kotak bontotan gudeg, hehe....Itu di sponsori cevhron pasti ada maksudnya tuh si amrik, huu....apalagi ada sepeda kebo saya pengen banget memilikinya, yang merk humber, bsa, atau northon, hihihi...yang ngegame itu di tantangi mas ks main plant and zombie, pasti mas ks menang telak

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juara kalo ngegame apalagi kalo game chef2 an

      Hapus
    2. tidak membosankan kok Pak, kami senang, apalagi ada bedug raksasa-nya, sayang nggak bisa dengar suaranya yang gemelegar...iya, memang Chevron kan tambang teresar di Riau, jadi heran, kok April Asia nggak mau ikut nyeponsori penebangan kayu dan pembuatan kertas ya...
      Plant VS Zombie...saya dong juarahnya...hahaha

      Mbak Nia: ooo pantes mbak nia pinter masak, tutorialnya dari game to...

      Hapus
    3. yuk kita main game petak umpet.

      Hapus
    4. ayuk. saya jangan jadi yang jaga jandang loh..

      Hapus
    5. saya yang ngitik-ngitik yang kalah deh

      Hapus
    6. saya saja deh yang menang

      Hapus
    7. saya yang nonton aja deh

      Hapus
    8. maaf....saya ngga ngerti maksud komentarnya kang agus st...soalnya saya ngga baca artikelnya...mohon penjelasannya!!

      Hapus
    9. di penjelesan UUD 45 mungkin

      Hapus
  9. saya juga suka mengunjungi museum mbak, slama ini hanya dimojokerto dan surabaya aja mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya malah belum pernah ke Surabaya sama sekali mbak...naik kereta dari Jogja ke Gubeng ya?

      Hapus
    2. iyalah, masa' dari Pangkalan Kerinci. huhh

      Hapus
    3. ya bisa aja kalau mau turun mojokerto ya di stasiun mojokerto nanti telp istri saya biar disiapkan onde onde gotri sepur

      Hapus
  10. hadir kembali demi melihat yan lagi main game :)

    BalasHapus
  11. bangunannya mantebb pemandunya ndak ada, mungkin lagi pada buat postingan di mblog hehehe.... nanti mampir kesini ah kalau kesini lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha..iya, jangan-jangan lagi mosting saya sebagai tamu museum juga...

      Hapus
    2. saya dong pemilik museum. museum kamar saya doang

      Hapus
  12. hadir dan mampir lagi ke sini Mbak Khusna..

    BalasHapus
  13. saya kemaren sudah baca dan komen.
    sekarang saya nggak baca tapi komen. hebat kan saya..(^_^)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampean kuwi sakti mas...

      Hapus
    2. iya, Bli KS memang sakti serba guna eh...sakti mandra guna

      Hapus
    3. sakti guna-guna tepatnya

      Hapus
  14. wah kayanya seneng banget bsa berkunjung ke museum ya mba, di samping rekreasi juga ada edukasinya...

    oya saya sudah follow blognya mba, jadilah follower yang ke 300 di blog saya hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Pak El...
      btw, saya sudah follow blog panjenengan sejak awal saya punya blog lhooo...yang jelas bukan yang ke 300, tapi ke 200 sekian

      Hapus
    2. sekian. kayak abis dunia dalam berita

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya