Menyiasati Kabut Asap Ala Keluarga Saya


Kabut asap yang menyeruak dan menyesak dalam setengah bulan ini membuat sebagian warga komplek kalang kabut. Bersyukur minggu ini bertepatan dengan liburan sekolah, sebagian warga melarikan diri ke daerah asalnya masing-masing. Ada yang ke Padang, Siantar, Medan, Aceh, Jakarta, Bandung, Semarang dsb. Sebagian lagi merencanakan untuk traveling ke Jogja, Bali, Singapura bahkan Thailand. Rugi ya, ke Singapura disuguhi kabut asap juga...apa bedanya dengan berdiam di komplek saja...(*ngeles-nya orang yang nggak kemana-mana kayak saya).

jarak pandang cuma 50 m

Untuk pulang ke Jogja, masih mikir di ongkos karena sebulan lalu baru saja mudik. Mau berkunjung ke rumah Bulik Upik di Padang, ayah nggak ada cuti. Ya sudah di rumah saja.
Beberapa keluarga di Jawa tentu khawatir melihat berita di televisi yang mengabarkan Pelalawan juga termasuk salah satu titik yang paling parah terkena imbas pembakaran hutan. Dan memang, kondisinya sangat menyesakkan dada. Beberapa hari mata saya pedih, hidung dan tenggorokan terasa panas dan batuk-batuk. Bahkan kami serasa manusia "pingitan", yang sehari-hari berdiam diri di dalam rumah. Baru keluar rumah saat asap mulai menipis.

Partikel debu dan serpihan sisa pembakaran berterbangan bahkan hingga masuk ke dalam rumah. Padahal rumah kami terhitung brukut alias sangat sedikit lubang ventilasinya. Memang sejak awal, dari jaman penghuni sebelumnya yang orang Taiwan, rumah kami didesain untuk dipasangi AC, lubang-lubang ventilasi ditutup dengan kaca. Tapi sejak kami tinggali, beberapa lubang itu kami bongkar agar sirkulasi udara lancar. Kaca kami ganti dengan kasa halus untuk mengantisipasi serangan nyamuk hutan.

Dengar kabar terakhir, Kecamatan Sering, sekitar 15 km dari tempat tinggal kami adalah wilayah yang paling parah terbakar, hingga pemukiman penduduk pun ikut terbakar. Tak heran jika udara di wilayah kami juga sangat pekat asap. Anda pernah makan ikan pe? Nah, seperti ikan pe hidup...sangit-sangit nikmat aroma badan kami...

Untuk menghindari masuknya partikel debu ke dalam rumah, ayah menutup ventilasi yang terbuka dengan kain basah, untuk menangkap butiran debu yang beterbangan. Setelah kain kering, diganti lagi dengan kain baru yang dibasahi.

lubang angin yang tertutup kasa

ayah memasang kain (sebenarnya itu selimut Zaki)

nah...begini jadinya

Selain itu, nutrisi makan kami juga sangat kami jaga, agar badan tidak tumbang dan kalah oleh kabut. Minum susu, makan sayur, buah, minum madu, kurma dan asupan gizi seimbang lain. Apalagi untuk ayah yang kerja di pabrik, yang bila tak ada asap pun sudah penuh dengan polusi klorin dan H2S.

madu, buah, kurma...semua Zaki suka
Masker juga sangat penting. Perusahaan juga membagi-bagikan masker gratis buat kami. Terutama bila pergi ke luar rumah. Tapi, kadang tidur pun kami pakai masker...(hehehe...berlebihan ya?)

Zaki juga semangat pakai masker
Nah, semoga tips di atas berguna bagi Anda yang tinggal di kawasan rawan kabut asap semacam Riau dan sekitarnya.

Posting Lebih Baru Posting Lama

27 Responses to “Menyiasati Kabut Asap Ala Keluarga Saya”

  1. Cara yang cerdik memakai kain basah, untuk menangkap partikel debu. Gak usah terlalu banyak keluar mbak .., malahane bisa konsentrasi ngeblog .. he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Is: makasih dukungannya Mas...iya, keluar rumah kalau kepepet beli sayuran saja. Ngeblog mah kalau selo gawean rumah Mas...

      Hapus
  2. wah tentunya sangat tidak mengenakan yah banyak asap..semoga cepat teratasi masalahnya

    BalasHapus
  3. mbak kalo tidur pake masker apa nggak bahaya ya? dipertimbangkan lagi tuh. mendingan ngumpul di ruang ac aja tidurnya, lebih aman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahanya kan CO2 nya di hirup lagi jadi lemes deh...

      Hapus
    2. iya sih, kepikiran kayak gitu juga Pak Zach...tapi bener deh, ampun debu sisa pembakaran bener-bener masuk rumah walau AC sudah dinyalakan. Sampai udara di dlm rumah berwarna abu-abu karena penuh debu...piring-piring dan segala perabotan penuh debu...

      Hapus
    3. tapi beneran ya Mbak, hati2 dan mawas diri selalu

      Hapus
  4. saya turut prihatin *gayanya niru yudhoyono presiden RI*
    semoga cepat hilang kabut asapnya dengan turun hujan mungkin atau lenyap dengan cepat tertiup angin menuju negara eropa sana.
    kalau keadaan seperti ini memang si kecil tetep menjadi prioritas utama keselamatan dalam keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul Pak, maunya sih ngungsi ke Jogja saja...tapi pesawat pun banyak yang delay gitu...lagian ongkosnya juga mahal. Hamdalah Zaki baik-baik saja, malah saya yang sempat batuk-batuk dan sesak nafas...

      Hapus
    2. wah, hati2 selalu ya Mbak

      Hapus
  5. jam segini gimana asapnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih tetap putih keabu-abuan

      Hapus
    2. putih abu-abu kayak seragam SMU saja Mas Is.

      menjelang malam hari kabut semakin pekat, mungkin karena udara berat yah,,,jadi debunya turun ke bawah.

      Hapus
  6. Waduh kabut asab Separah itu rupannya, jadi kepikiran gimana keponakan Saya. Sampai kini masihkah Pekat asapnya?

    BalasHapus
  7. dari dulu kok berasap terus ya mb? hehehehe,,,,
    th 2010an jga,,,,

    BalasHapus
  8. masih mending cuma asap, bu...
    disini kabutnya debu dari jalan hauling sama debu batubara dari stockpile. bukan cuma gangguan nafas, ngejemur baju juga repot item semua.

    *pancen kudu nyumbang londri...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya