Day 14: Harus Bagaimana Coba?



Setahun terakhir, saya jadi sering dimarahi suami saya...

"Bunda mau-maunya ngangkati jemuran..."

"Lha musti gimana to Yah? Apa bunda musti bohong?"

"Sesekali cuekin saja, dijarne wae...nggak usah ditanggepi..."

"Tapi telpon terus tuh Yah."

"Nggak usah diangkat!"

Agak kasihan lihat mimik wajah ayah e mendengar aduan saya kemudian bereaksi seperti itu. Suami saya bukan tipe pemarah, bahkan selama berumah tangga, sama sekali belum pernah beliau marah ke saya, tapi setahun terakhir, tiap saya cerita tentang tetangga saya, beliau selalu menanggapi dengan nada tinggi.

Berawal dari telpon Bu Sinta Pakpahan, tetangga sebelah rumah yang lagi bepergian, sedang hari mendung-- waktu itu. Di rumah beliau ada putra nomor duanya yang baru kelas satu--masih waktu itu. Bu Sinta meminta saya mengangkat jemuran bajunya, takut kehujanan. Beberapa tumpuk pakaian saya "selamatkan" dari hujan. Lumayan banyak, karena anggota keluarga beliau 5 orang. Lega rasanya bisa berguna bagi orang lain, walaupun cuma hal sepele.

Ganti hari, kembali si mami itu pergi seharian, sedang anaknya yang nomor dua di rumah sendiri sepulang sekolah. Telpon lagi ke saya, katanya minta tolong buat nengokin rumah, ngecek apa anaknya di rumah atau enggak. Si papi anak itu kerja shift pagi, berangkat jam 06.30 pulang jam 15.30. Beberapa kali seperti itu, ya...saya anggap biasa. Menjadi tak biasa ketika suatu hari Joane, anak ketiganya dititipkan ke saya, katanya mau ditinggal ke pasar sebentar.

"Iya Bu, nggak papa, ditinggal saja di sini, aman kok...malah senang, Zaki ada kawannya." kata saya waktu itu.

Saya pikir, ke pasar paling lama dua jam, jam 9 juga udah pulang. Saya tunggu-tunggu, hingga jam 10, belum juga pulang. Sedang saya mau belanja sayur ke kedai untuk masak hari itu, untuk makan siang ayah e pada jam istirahat siang. Tak mungkin saya memboncengkan dua balita di motor ke kedai, cukup beresiko. Sedang jarak kedai cukup jauh dari rumah. Akhirnya hari itu ayah makan siang seadanya, sisa sayuran di kulkas saya masak campur bawur jadi satu. Tak ada ikan, ayam atau tahu tempe. Pukul 13.00, ayah Zaki kembali ke kantor. Saya masih dengan Zaki dan Joane. Berharap mami si anak segera pulang karena mau saya tinggal shalat dzuhur, bila ditinggal begitu saja takutnya mereka berdua berantem atau main panjat-panjatan di kursi, bahaya. Saya urungkan shalat, nunggu mami Joane datang. Hingga jam 14.00 belum juga pulang.
"Pasar mana sih kok lama banget?"
Akhirnya jam 15.00, mami Joane muncul juga menjemput anaknya. Hamdalah. Tak sempat lagi bertanya-tanya pasar mana yang dia datengi. Sepulang mereka, bergegas saya ambil air wudhu untuk shalat bersama Zaki.

Agak kesel juga. Mungkin si mami itu sudah membohongi saya atau memanfaatkan saya. Tapi saya tetap berusaha positif thinking, mungkin sepeda motornya mogok atau apa. Sudahlah.

Belum ada seminggu, lagi...mami Joane menelpon saya untuk ngangkatkan jemurannya yang sudah kering saat hari mulai mendung. OK lah, saya angkatkan.

Lagi, seperti itu diulangi lagi. Anyel hati saya.

"Bu, kalau mau pergi cuciannya diangkat dulu ya Bu." suatu hari saya bilang begitu ke mami Joane.

Ada sebulan lamanya dia tak pernah menyuruh-nyuruh saya lagi. Tapi setelah itu, balik lagi, hampir tiap dia pergi, saya ngangkatkan jemurannya. Saya tegur lagi...
"Aduh , lupa Bund...sumpah aku lupa." Tak berani saya melanjutkan teguran saya karena sudah dengar kata "sumpah" dari dia.

Sudahlah...selagi masih mampu, apa salahnya bantu tetangga.

Tapi lagi, pagi-pagi si mami datang ke rumah, "Bund, bisa minta tolong sebentar jagain Joane, aku mau ke galon ngisi minyak kereta." Galon sebutan untuk SPBU atau pom bensin. Kereta adalah sebutan untuk sepeda motor. Pukul 07.00 waktu itu, saya ingat betul karena baru saja saya ngantarkan ayah Zaki berangkat kerja. Joane asyik main sama Zaki, sesekali mereka berebut mainan kemudian berakhir perkelahian, Zaki nangis atau Joane yang nangis. Hingga pukul 12.00 saat ayah Zaki pulang makan siang, Joane belum dijemput juga. Papi Joane jelas nggak pulang istirahat di rumah, karena beliau karyawan operator, yang kerjanya shift 8 jam penuh di pabrik tidak seperti ayah Zaki. Sampai jam 15.00 Joane baru dijemput.

"Ke mana saja Bu?" tanya saya.

"Aduh, tadi keretaku pecah ban pulak, ke bengkel, antri pulak Bund, maaf ya..." saya tau, dia pasti bohong. Nggak mungkin ke bengkel sampai jam 3 sore. Ke SPBU paling lama 1.5 jam sudah termasuk antri bensin, trus ke bengkel paling lamaaaa 2 jam cukup. Lagian bengkel motor cukup banyak di Pangkalan Kerinci. Entah ke mana dia pergi.

suatu senja, Zaki dan Joane di dekat alat berat

Ayah Zaki mulai kurang suka terhadap perlakuan mami Joane ke saya. Beberapa kali saya ditegur beliau saat Joane dititipka ke rumah, bahkan pernah waktu itu Joane di rumah saya sampai pukul 8 malam. Tapi apa daya, saya selalu nggak punya alasan untuk menolak. Hingga kemarin hal yang besar terjadi, ketika anak sulung Bu Sinta, Jansen, kelas 2 SMP pinjam HP saya untuk menelpon maminya yang sedang klayapan, minta uang untuk iuran sekolah hari itu juga.
"Aduh, lupa aku Bund...tolong kasihkan dulu uangmu ke Jansen, nanti aku ganti."

Akhirnya saya berikan uang 3 lembar itu ke Jansen.

Sorenya ketika si mami pulang dari bepergian, saya tanyakan masalah uang itu tadi.

"Bund, katanya Jansen tak jadi pinjam uangmu."

"Eh, tapi tadi saya kasihkan uang itu ke dia, Bu."

"Tak ada dikasih katanya."

"Jadi?"

"Ya, terserah kau lah Bund, aku nggak mau tau karena kata anakku tak ada dia kau kasih uang."

Eh lah semprul tenan nih...
Mami dan anak sama resenya...beginikah bertetangga?

Padahal dalam Islam, adab bertetangga sudah diatur jelas dalam Qur'an.

Surah An Nisa:36
"Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."

Dalam hadits pun Rasullullah sudah mencontohkan,
"...barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." dan dalam riwayat lain disebutkan "Hendaklah berperilaku baik terhadap tetangganya." (Mutafaq'alaih)

Mohon maaf atas ketidaknyamanan membaca artikel (baca: kedongkolan) saya...


Happy Fasting !!! Semangat !!!

 

Posting Lebih Baru Posting Lama

25 Responses to “Day 14: Harus Bagaimana Coba?”

  1. peristiwa ini kali kedua saya dipermainkan tetangga...semoga jadi pelajaran buat semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah pertamaxnya di minum sendiri ya, apa krn baru dongkol nich ...heheeee

      Hapus
    2. saya semburkan lagi Mbak, puasa....hahaha.

      Hapus
    3. kereta minum di galon sampai jam 3 sore... semprul tuh tetangga sebelah...

      Hapus
    4. jiahelah dikomenin sendiri...
      gapapalah, bu
      ikhlasin saja
      rejeki itu ga salah orang kok
      tar juga balik lagi
      atau malah kondisinya kebalik
      ada rejekinya si jansen yang salah mampir ke ibue aki

      Hapus
  2. hehehe...tetangga itu macam macam ya mbak,ada yang baik ada yang belum baik. Ada yang nyemanak ada yang cari musuh. Sama kayak kita berteman, kumpul keluarga pasti ada yang baik dan belum baik.
    saya menyikapinya dengan tenang saja, kalau masalah angkat jemuran atau minta tolong tenaga saya masih mampu saya bantu, kalau sudah mengganggu kepentingan ibadah saya, saya tetep utamakan ibadah dulu. Kalau masalah uang plus menipu cukup satu kali saja , sudah begitu pergaulan saya batasi tapi tetep bertegur sapa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. santai waelah om
      semua ada kelompoknya masing-masing
      aku bola bali dimusuhin orang di blog juga tenang tenang saja. toh ga pernah kesepian selalu saja ada yang mau nemenin..

      Hapus
  3. hehehege,,,,
    sabar mb,,,,
    macam" tingkahlaku bersosial di masyarakat
    khususnya n
    bertetangga

    BalasHapus
  4. bagi saya sih itu masalah rutin sebagai risiko hidup bertetangga, Mbak.
    tinggal kesabaran dan berdiplomasi saja, Insya Allah akan bisa selesai masalahnya. Berdiplomasi misalnya, ngusulin ke beliau supaya punya asisten rumah tangga. mudah2an beliau ngerti apa yang dimaksud Mbak Khusna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum lama ini Ibu saya di Cilacap juga curhat ke saya analog permasalahan seperti ini. Saya usulin berdiplomasi, dan akhirnya clear permasalahannya. Alhamdulillaah.

      Hapus
    2. Pengalaman saya disini juga kompleks Mbak. mulai ada yang ngancam mau bakar rumah sayalah, intimidasilah, penghasutan bahwa saya korupsilah.. ahh, macem-macem, Mbak. Tapi bener2 saya niatin buat rekons sama mereka, tidak mendendam ke mereka, dan cenderung ngajak bicara. Alhamdulillaah sekarang semakin banyak orang-orang yang bersahabat dengan keluarga saya.

      Hapus
    3. ini lagi
      senenge tandhuk 3 piring diembat dhewe...

      Hapus
  5. memang macam-macam mbak sifat oang itu, mbak khusna tinggal omong apa adanya aja drpd dongkol dihati. biar semuanya jd clear dan bisa bertetangga dengan baik.

    BalasHapus
  6. jadilah tetangga yang sakinah mawadah warrohmah ... :D

    BalasHapus
  7. wadduh,,klo gitu keadaannya siiih ngeselin juga ya mbak. kalo saya kemungkinan besar akan jaga jarak ke orang itu,tapi tetap membalas sapaannya kalau disapa :)

    BalasHapus
  8. waaahhh, parah banget kl sdh begitu... sabar saja, biar Allah yg membalas... :)

    BalasHapus
  9. wah tetangga yang baik tu, :)
    Coba kalau tiap hari begitu, bisa semaput :)
    Kok kompak amat anak sama ibunya :)

    BalasHapus
  10. Ya ampuun. Kalau seperti itu sih kok rasanya udah kebangetan ya. Alhamdulillah selama ini aku melum menemukan tatangga yang seperti itu.

    Tapi dari pengalaman Teh Khusna dan apa yang diungkapkan Mas Zach, akan menjadi pelajaran buatku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gimana sih anak muda apa apa ga tau
      mau dihajarin apa lagi sok tinggal bilang ke bue zaki ama pae zach..

      Hapus
  11. lain kali jangan mau kalau disuruh, nanti malah ngelunjak sedangkan dia enak keluyuran,... tetangga semprul tuh hehehe

    BalasHapus
  12. tadi pagi jam 7.30 saya tengok postingan ini kok ndak ada ya

    BalasHapus
  13. Kadang memang kita perlu tegas, memang sangat sulit karena takut tetangga tersinggung. Tapi menurut saya harus dicoba, karena sudah merugikan sampai mas Berkah juga marah.

    BalasHapus
  14. ternyata tak selamanya rumput tetangga lebih hijau yah..

    BalasHapus
  15. bersikap tegas aja bu sama tetangga kaya begitu mah, gak perlu mikirin perasaannya lagi, gak perlu dipendem lagi, langsung aja libas. ^_^

    BalasHapus
  16. Saya bersaksi kepada orang besar bernama (drsunnydsolution1@gmail.com) yang membawa saya ke mantan saya setelah 1 tahun perceraian berhubungan dengan dia hari ini adalah mampu memecahkan
    masalah dari Anda. yang mengkhususkan diri pada
    berikut:
    (1) mantra untuk melindungi diri dari bahaya
    (2) mantra sihir
    (3) sesama jenis Cinta Spell
    (4) mantra penyembuhan
    (5) mantra tembus pandang
    (6) Spell kekayaan dan ketenaran
    (7) Eja untuk mendapatkan pekerjaan yang baik
    (8) Kuat cinta cor dan hubungan
    (9) mantra untuk membawa kembali mantan Anda
    (10) HIV, AIDS
    (11) JIKA ANDA INGIN MENGADOPSI ANAK TANPA STREET
    (12) Apakah Anda ingin menjadi kaya atau ingin melakukan ritual

    Dia memiliki kekuatan besar dan
    generous.You dapat menghubungi dia (drsunnydsolution1@gmail.com) berguna tanpa
    menekankan hakim hari ini

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya