Nilai Selembar Kertas


Sejak sudah bisa memegang alat tulis, Zaki saya akrabkan dengan kertas. Kertas putih biasa, buku gambar, kertas koran, kertas origami, kertas bekas kalender, bahkan karton bekas kemasan susu dia. Nggak cuma sekedar untuk menulis dan corat-coret dengan cat atau krayon, tapi kadang dipotong-potong, dilipat-lipat, bahkan kadang dibuat sup kertas kala dia main air.

kertas putih, mau diapakan?


Dengan kertas, harapannya dia bakal tidak menggunakan media lain untuk corat-coret, misalnya dinding, lantai bahkan kaca rias yang dilukis memakai lipstik saya. Tapi kenyataan ternyata berbeda. Ada saja dalih yang dilontarkannya.

"Bunda, jerapahnya lehernya panjaaaaaaaang banget, kertasnya nggak cukup" atau

"Bunda, Aki bikin jalan yang jauuuuuuuh banget untuk truk-nya"

Akhirnya leher jerapah yang dibikinnya memanjang dari kertas ke lantai, atau jalan truk yang dibikinnya mbleber hingga lantai dilanjutkan ke dinding. Ya sudahlah, Zaki tentu belum mengenal gambar perspektif kan, yang gambar jalan biar tampak jauh harus dikerucutkan atau disempitkan di satu titik....

Dulu ayahnya rajin membelikan dia buku gambar. Harapannya biar nggak berserak-serak di mana-mana. Tapi kadang satu buku gambar yang harganya Rp 5.000 habis dalam sehari, lebih hebat lagi, buku itu habis dalam sekali duduk. Dalam seminggu, tak kurang Rp 30.000 untuk beli buku gambar saja. Merasa kurang efektif, ayah membelikan dia kertas satu bendel. Lebih irit, karena ambilnya satu demi satu, bila sudah habis, baru ambil lagi.

Suatu hari, salah satu tetangga yang datang melihat-lihat barang dagangan saya, beliau nanya:

" Na, kertas sebanyak itu, macam mana suamimu ngambilnya dari office?"

"Ambil Bu? Oh, enggak, ini ayahnya beli kok, bukan ambil dari office"

"Ngapain beli, di rumahku banyak kok, kau ambil saja ke rumah, Papanya biasa ambil untuk si Dhea"

"Oh, punya saya juga masih banyak kok Bu"

Suatu hal yang sangat biasa di lingkungan kami, kebutuhan akan kertas layaknya bukan masalah, karena mereka tinggal ambil saja di kantor. Tentu untuk karyawan di bagian tertentu saja, bila karyawan lapangan yang menghadapi mesin atau di bagian produksi, malah nggak memungkinkan ambil kertas seenaknya. Biasanya karyawan yang punya office, yang nggak melulu di depan mesin terus-menerus. Sebenarnya, ayahnya juga nggak melulu di mill, tapi beliau punya office sendiri, yang bila tak ada troubleshoting, akan stand by di kantor untuk coding dan lain-lain.

gudang kertas

Ayahnya sesekali juga bawa pulang kertas beberapa lembar, tapi bukan untuk main-main Zaki tentunya, tapi untuk nge-print sesuatu atau corat-coret pekerjaan. Pernah suatu hari saya minta ayah untuk ambil beberapa lembar di kantor, kertas Zaki habis. Ayah bilang begini:

"Nda, tugas ayah di pabrik untuk bekerja, bukan untuk ngambil kertas, Sayang..."

Saya tertegun saja, toh cuma beberapa lembar, pikir saya.

Lama saya memikirkan kata-kata suami saya. Apa salahnya ambil beberapa lembar kertas, bahkan satu bendel sekalipun, toh juga nggak bakalan berpengaruh. Pabrik memproduksi kertas sebanyak 700-1000 ton kertas tiap harinya, diambil dikit juga nggak papa, nggak dilarang juga kok. Bunda masih saja ngeyeli kata-kata ayah.

Sebenarnya saya sadar betul kata-kata ayah yang tidak mau ambil kertas dari kantor. Ada pelajaran untuk bunda, bahwa kita dilarang mengambil barang yang bukan hak milik kita, walau barang itu nggak ada artinya buat si pemilik, walau barang itu cuma sebagian kecil dari harta si pemilik dan nggak bakalan marah bila diambil, walau kesempatan untuk mengambil tanpa sanksi sekalipun adalah sangat luas dan terbuka lebar...

Itulah yang membuat saya sangat mengagumi Ayah Zaki, keteguhan pendiriannya yang mengajarkan hidup agar selalu penuh berkah.

dua laki-laki imut saya


Ayah Zaki
 

Posting Lebih Baru Posting Lama

38 Responses to “Nilai Selembar Kertas”

  1. Hore, dapat pertamax
    Anak memang harus diberi sarana untuk menumpahkan kreativitas
    Saya setuju dengan ayahnya Zaki, kalau tugasnya di pabrik bukan untuk ambil kertas. Itu tugasnya pemulung, kasihan nanti gak ada kerjaan .. he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. wong pertamax mahal kok ya mau aja mas isnaeni ,
      mending pake minyak urut dong mayan bisa angetin kaki saat pagi dan sore buat jalan, hehehe

      Hapus
    2. Dapat pertamax mau tak jual lagi je mas Agus .. he he

      Hapus
    3. ooo kulakan to mas, ya udah bawa jurigen yang banyak, nek perlu galon galon di rumah itu diambil airnya

      Hapus
    4. Arep gawa tandon banyu wae .. he he

      Hapus
    5. wah, gayeng tenan obrolan bapak-bapak ini...tuan rumah malah klayapan wae...

      Mas Is: sebenarnya memang nggak ada larangan (bukan berarti ada perintah lho...) untuk ambil kertas di kantor Mas.

      pemulung itu banyak jasanya lho Mas, mereka membuat lingkungan kita jadi bersih dan barang2nya bisa didaur ulang...reuse

      Hapus
  2. saya masih ingat juga sering coret coret ditembok mbak, hehe
    masalah ambil kertas walau dikit aja dari kantor, itu sebenarnya prinsip saya juga sama. sekarang ambil kertas, besok kalau ada kesempatan yang lebih besar, akan mengambil barang yang lebih besar, misal data penting atau apa.
    Ini masalah pembiasaan diri saja kok mbak juga bisa dimaknai sebagai mengambil yang bukan hak kita walaupun orangnya kaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jikuk barang sing dudu hak-e ra marahi sugih, malah ngrendet2i rejeki yo mas Agus

      Hapus
    2. Mas Is: iya malah marai pikiran juga to?

      Pak Agus: Wah, Hayyu besok kayaknya juga nggak bakalan jauh dari papanya nih...tunggu tanggal mainnya hehehe...tunggu Pak Agus posting tentang coretan adik Hayyu...

      Betul Pak, insha ALLOH kalau terbiasa, lama-lama jadi habit...yang jelas, bikin hati tentrem

      Hapus
    3. mainnya di bioskop mana ya ?

      Hapus
    4. hus jangan di biasakan panggil papa, lha wong istri dan anak saya memanggil saya bapak je..
      kalau hayyu masih "apak" belum bisa bapak

      mainnya di pos kamling terdekat

      Hapus
    5. pastiada gedebok nya kan

      Hapus
    6. L - nya jatoh " kolak" hehehe

      Hapus
  3. BArakallah, ayah yang amanah, bunda yang patuh. Zaki punya teladan yang baik ^__^

    BalasHapus
  4. kecil2 sudah terbiasa dgn alat tulis....keren anaknya mbka. Jika dah gede yakin deh....jadi anak pinter. Insya Allah

    BalasHapus
  5. ambil kertasnya cuma berapa lembar tapi nanggung dosanya sama dengan yang satu rim....salut dengan papahnya zaki, patut jadi tauladan dengan kejujurannya

    BalasHapus
  6. urusan kertas, ko' jadi ungkapan rasa cinta yang dalem banget sama ayahnya zaki...kan kita kita juga udah tau banget kalau KK emang cinta duluan sejak pacarannya juga...hehehe

    #cling...buru2 kaburr menghilang takut panci melayang kena jidat licinku...sekali lagi.....cling

    BalasHapus
    Balasan
    1. masak di pacari terus gak di nikahi kang, kasihan ya orang yang pacaran dibujuki thok belum tentu di nikahi,
      hihihihi..
      mrenges aah

      Hapus
  7. Assalamu'alaikum .. mau lihat Zaki gambar

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikumsalaam warohmatullah.
      silakan mas, tapi jagnan di bujuki lho ya , anak kecil mas

      Hapus
    2. dan jangan diajarin gambar angin ya ehehe

      Hapus
  8. masya allaah,
    saya kagum gum pokoknya
    cap jempol tangan.

    apresiasi banget
    juara!!!

    BalasHapus
  9. mantab dah buat ayahnya Zaki... juara dah

    BalasHapus
  10. medingan corat coret tembok wae, ki...
    ngecetnya urusan perusahaan inih dan ga perlu nyolong kertas haha

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya