Day 27: Karbitan


Istilah ini yang kemudian muncul di kepala, setelah mendengarkan pengalaman Om Roni, teman ayah di DCS Automation. Usianya masih muda, 26 tahun, tiga tahun lebih muda dari ayahnya. Berbadan tegap dan tinggi besar, dulu sering ke rumah kami. Tak menyangka, kalau ternyata Om Roni ini sakit-sakitan. Setahun terakhir, dia sering absen dari kantor karena berobat ke kota, beberapa minggu cuti karena sakit. Menurut dokter di kota, dia sakit asam urat akut. Sekujur badannya sakit-sakit. Berbagai macam obat-obatan dari dokter dikonsumsinya, tapi keadaan tak banyak berubah juga. Bahkan katanya, disentuh kulitnya saja sudah nyeri. Kasihan melihat kondisinya, tinggal sendirian di mess, tak ada yang ngurusi makannya, hanya mengandalkan katering dan bila bosan beralih ke makanan di KIK Food Court. Kateringpun hanya beberapa jenis makanan tertentu yang boleh dikonsumsi. Dokter menganjurkannya untuk diet. Tak boleh makan ini tak boleh makan itu. Tiap pagi sarapannya hanya buah apel dan pir. Sedikit makan nasi. Terkena paha atau telur ayam saja, badan langsung nyeri-nyeri katanya. Hingga berbulan-bulan berobat, tak juga ada perubahan, masih begitu-begitu saja.

Seperti yang lain-lain, bila sakit berlanjut, hubungi dokter di Malaka atau Kuala Lumpur atau Singapore. Begitu memang cara perusahaan membuat karyawannya tetep harus kerja--eh keceplosan.
Tapi benar juga, rumah sakit di sana memang berbeda. Menurut cerita Om Roni, dokter-dokter di Malaka care banget ke pasiennya. Biasanya mereka berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, begitu datang pasien dari Indonesia, mereka langsung menggunakan Bahasa Indonesia--ya memang gitu ya seharusnya, tapi tetep, saya salut. Begitu bertatap muka, bukan sakit dan keluhan yang ditanyakan, tapi, "Bagaimana perjalanan Anda Pak?"
Setelah itu dilanjutkan dengan becanda-canda dan saling tertawa. Sesi itu selesai, pertanyaan ganti lagi, "Roni kerja di mana, di bagian apa, bla bla bla...". Yah, ngobrol tentang banyak hal deh pokoknya. Baru setelahnya, ada konsultasi tentang kesehatan Om Roni, dilanjutkan beberapa test lab. Kesimpulan dari dokter Malaka, badan Om Roni baik-baik saja, hanya perlu mengatur pola makan, jangan membatasi makan hanya sekian jenis makanan, tapi menyeimbangkan asupan gizi, kemudian  pola kerja dan pola istirahatnya dijaga. Bahkan obat-obatan yang dari rumah sakit kota sebelumnya dilarang untuk dikonsumsi semuanya. So, asli tanpa obat. Hanya anjuran mengatur pola makan, kerja dan istirahat. Dua atau tiga kali kontrol ke Malaka, masih dengan anjuran yang sama...hamdalah sekarang dia sudah baik, sehat, makan biasa, tak ada pantangan. ???? Jadi tanda tanya besar di otak saya. Jadi, apa yang diperbuat dokter Malaka itu ya? Begitu hebatnya membuat pasien yang dulunya harus minum banyak jenis obat tiap hari dan mengatur diet makan hingga menyiksa, jadi sehat kembali tanpa obat?

Saya jadi teringat pengalaman beberapa bulan yang lalu ketika ayahnya sakit, badannya meriang, batuk pilek, sakit kepala, mual-mual, pokoknya tepar berat. Tanpa nunggu lama, saya antar ayah ke klinik yang jaraknya cuma 100 m dari rumah. Seorang dokter cantik dan masih sangat muda memeriksa. Dilihat dari wajahnya, usianya jauh lebih muda dari saya, mungkin sekitar 24 atau 25 tahun (kok saya terkesan tua banget di sini---huh). Ayah menyampaikan keluhannya, si dokter sibuk mencatat sesuatu, entah apa itu. Kemudian ayah disuruh berbaring dan ditempeli stetoskop di sana sini.

"Sudah Pak." kata dokter

"Terima kasih Dok." jawab saya---lho kok saya yang jawab, iya lah ayahnya malas ngomong kalau lagi sakit begitu.

"Ini resepnya, Bu, mohon diantar ke apotek."
Kertas putih yang penuh tulisan itu saya raih.

"Terima kasih banyak Dokter."

Kemudian saya gandeng ayah Zaki keluar ruang periksa menuju apotek. Tak perlu menunggu lama, petugas apotek memanggil nama ayah. Sekantong plastik kecil obat diserahkan ke saya, kemudian dibuka lagi untuk dijelaskan satu persatu. Ada 7 macam obat yang harus dikonsumsi.
Paracetamol untuk demam, obat syrup untuk batuk, kapsul kecil untuk pilek, obat hijau besar untuk mual, amoxicillin sebagai antibiotik, vitamin B komplek dan vitamin C. Haduuuuh, kok banyak banget sih...pikir saya. Ya udah, nggak mau saya nanya dan terheran-heran di situ terus karena ayahnya sudah sangat memprihatinkan--meler, bersin-bersin dan terbatuk-batuk di kursi tunggu, sambil jagain Zaki. Kami langsung pulang.

Sampai di rumah, setelah makan nasi sesuap dua suap, ayahnya mau minum obat. Tapi melihat tumpukan obat segitu banyak, ayahnya jadi mual--mblenger--. Saya yang nggak sakit saja melihatnya udah eneg, apalagi ayah. Akhirnya hanya paracetamol yang saya ambilkan untuk ayah. Dua hari hanya minum paracetamol, badan ayah sudah baikan, bahkan sehari setelahnya ayah sudah bisa berangkat ke pabrik. Jadi apa artinya obat yang banyak tadi kalau bukan hanya mubadzir terbuang.

Apakah ini yang diajarkan di sekolah kedokteran? Saya rasa kok ada yang kurang tepat di kasus-kasus di atas. Rasanya ada yang aneh saja. Penggunaan obat berlebihan yang tak sebanding dengan sakit yang diderita justru akan menimbulkan penyakit baru, misal hati atau ginjal. Anehnya lagi, hal itu benar-benar ada. Jadi apa arti gelar dokternya yang diraih susah payah bertahun-tahun di bangku kuliah? Itulah yang saya maksud karbitan--dari kata karbit Kaya pisang aja dikarbit biar cepet mateng ya... Begitu sudah mendapat gelar, langsung bisa terjun ke lapangan...Beberapa saudara ayahnya mendapatkan gelar dokter spesialis di awal kepala tiga. Semoga tugas-tugas mulia sebagai penolong sesama itu tak dimanfaatkan hanya sebagai gengsi dan kebanggaan, tapi sebagai amanah yang betul-betul dijunjung.


Catatan ini hanya sebuah kegelisahan saya sebagai seorang bodoh...apabila ada manfaat di dalamnya, boleh diambil, apabila tak ada manfaatnya ya dibuang saja. Tapi buangnya jangan sembarangan ya...apalagi berserak-serak bikin mampet parit...hehehe

Happy Fasting semuanya !!! Bagi yang sudah mulai mudik, semoga perjalanannya lancar, selamat sampai tujuan...aamiin.




Posting Lebih Baru Posting Lama

48 Responses to “Day 27: Karbitan”

  1. ini ceritanya gmna sih mbak ... saya kok jd bingung

    BalasHapus
    Balasan
    1. bingung yah...sinih deket deket biar tak pencet jempolnyah

      Hapus
    2. ngapain bingung
      langsung komen aja kenapa sih
      masa kalah sama mang lembu..? :D

      Hapus
    3. mang lembu sama mang rawins itulah tipikal laki2 sejati. ehh..

      Hapus
    4. cuma ajang berbagi Mbak Nia...nggak harus paham, yang penting hepi-hepi di sini...

      laki-laki sejati itu dibungkus daun jati ya? ehhh

      Hapus
    5. emang nasi uduk di bungkus daun jati

      Hapus
    6. sejati kan kalo daunnya satu
      ini banyak berarti polijati ya..?

      Hapus
  2. diujung do'a saya selalu bilang sama Allah..."ya Allah...kalau aku mati, aku mau matinya ngga pake masuk rumah sakit dulu...kalau bisa langsung blas...saya ngga mau sebelum mati harus sakit hati dulu sama ulah perawat, dokter dan rumah sakit...blas kan saja ya Allah..."
    #sampe begitu saya berdo'anya...tau dong apa yang saya maksudkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pahan Pak Ci...semoga kita semua dikaruniai keselamatan. kesehatan...dan meninggal dalam khusnul khatimah, aamiin

      Hapus
    2. masuk surga tanpa hisab, amiin...

      Hapus
  3. oh iya ini bukan mas roni yang dari cilebut itu kan???soalnya mas roni yang diceritakan mbak masih muda sih baru 26 tahun kayak saya dong, hehehe
    tahu kan yang saya maksud.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ini sih selisihnya jauh Pak Agus...yang di Cilebut itu kan sudah sesepuh...sedang Om Roni yang di sini masih bujang...hahaha

      Hapus
    2. ouwh masih bujang tho, makanya kalau sakit kok tidak ada yang ngopeni selain dokter, hehehe..
      semoga tikda kambuh lagi deh asam urat nya.

      Hapus
    3. hoi saya masih kepala tiga hoi..

      Hapus
    4. kepala tiga hampir njimil kepala empat kan ?

      Hapus
  4. biasanya kalau dokternya cantik gitu memang cepat sembuh mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, beda obatnya kali Pak...ada tambahan obat mata juga sih

      Hapus
    2. tapi ya jangan bawa panci ke praktik dokter dong mbak

      Hapus
  5. ada istilah lagi mbak, yaitu kebrangas, mateng sebelum waktunya, hehe
    orang tua saya dulu kalau mau mengajari saya, atau kalau saya bisa sebelum waktunya saya disemoni, kebrangas, makanya orang sekarang cepat tua, lha semuanya cepat dilalui sebelum masanya je mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebrangas itu kesannya kok kayak diperam dan dipaksa ya pak...
      betul baget tapi, orang sekarang ceper tua, tuh buktinya ada di foto atas zaki...ehhh...keceplosan.

      ya itu lah yang saya maksud. kadang gelar dokter yang didapat bukan dimanfaatkan dengan semestinya, kerja asal-asalan, nggak dengan hati....main kasih obat dan diagnose saja...kurang teliti...tengok di negara tetangga, yang profesi dokter dijunjung dan dijaga betul...hingga diagnose-nya pun tak terburu-buru, juga tak merugikan pasien...memeka layaknya teman bagi pasien, bukan ahli yang menggurui seperti dokter-dokter di negara kita...saya pribadi pernah punya pengalaman menyedihkan dan mengenaskan, tapi tak mampu saya menuliskan...

      Hapus
    2. satu lagi nih saya jadi tau gambaran dokter di kawasan regional asean, bisa saya aplikasikan jika saya bersapa dengan orang lain.
      terima kasih tutorialnya mbak, hihihihi

      Hapus
    3. tutorialnya perlu difulbek nggak

      Hapus
    4. nanti tak pulbek balik deh

      Hapus
  6. kirain karbitan itu yang buat buat itu,hehe, semoga lekas sembuh,, sayang sekali saya gak mudik tahun ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya memang, dibuat-buat agar cepet mateng Mas...jadi hasil yang didapat pun tentu nggak semanis bila masak di pohon kan? hamdalah dalam keadaan sehat kok...saya juga nggak mudik...tos dulu, ada temennya

      Hapus
    2. gedang mentah di karbit, 2 hari mateng, biar cepat dapat duit jika di jual di pasar, bandingkan dengan menunggu gedangnya tuwek dulu kemudian di imbu beberapa hari, dapat duitnya kan lama,
      ealaaaaah, ujung ujungnya duit sih..
      keceplosan deh saya

      Hapus
    3. pengalaman ya mas agus yan suka jual gedang,hoho

      Hapus
    4. gedangnya tetangga tak jual mas

      Hapus
  7. yah begitulah adanya...sekarang anak saya stop konsumsi anti biotik...bisa2 kekebalan tubuh malah turun kalo kebanyakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebanyakan karbit nanti njebluk loh

      Hapus
    2. nah itu bener banget Lik Pacul...antibiotik yang dikonsumsi dalam jangka lama justru akan melemahkan daya tahan tubuh, saudara saya bilang begitu...saya mencopy statemen dari beliau...apalagi anak-anak kan butuh banyak bekal untuk pertumbuhannya, kasihan bila harus terhambat obat...

      nah kan terbukti Pak Zach hobi main petasan...

      Hapus
    3. yang hobi Kang Pacul Jelek, Mbak

      Hapus
  8. tapi dokternya kan keren ga karbitan. mau menyesuaikan bahsa dengan konsumennya untuk meningkatkan kualitas layanan. sama kaya spg di negaranya pacul sana. biarpun repot tetap saja berusaha mengena dengan target pasarnya teriak geratis geratis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohh jadi rika jebulnya dokter ya

      Hapus
    2. kalau dokter-dokter di Malaka, Singapore dan KL keren-keren memang Pak. Nggak karbitan pula. Maksud saya dokter yang di kota dan yang di klinik...aneh gitu...

      Hapus
    3. dokter spesialis server kayaknya Pak Zach...

      Hapus
    4. mas rawin kan dokter spesialis, spesialis throw big water

      Hapus
    5. pada spesialis semua. saya spesialis apa coba. masa spesialis klepon.

      Hapus
  9. sudah di kampung nih saya. alhamdulillaah, lancarnya terlancar Mbak. manteep, alhamdulillaah, makasih doanya teman-teman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Pak, senang rasanya melihat sahabat-sahabat pada berkumpul dengan keluarga besar masing-masing...pasti lebaran nanti banyak cerita dibagi... Bagaimana kabar Arien Pak? Nggak capek kan habis perjalanan jauh dari negeri seberang?

      Hapus
    2. wah bangzach mudik ya, alhamdulilllah selamat sampai tujuan, tinggal saya neh hoho

      Hapus
    3. capek sih Mbak. banyak uring-uringan jadinya, dia. untung adiknya ngemong, ngalah meski banyak dimarahin kakaknya itu. duhhh jannn. tapi bahagia semua koq. salam sehat selalu untuk keluarga di sana ya..

      Iya Mas Rizal. makasih ya doanya. salam sehat ya Mas. lho, sekarang posisi dimana?

      Hapus
    4. minal aidzin wal faidzin ya mbak khusna, mohon maaf lahir dan bathin

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya