Sesuatu Yang Dirindukan (dua)


Kemudian kami memasuki Jalur Lintas Timur Sumatra. Jalan yang dalam bayangan saya seperti Ring Road Selatan Jogjakarta------ternyata bukan. Tapi sebuah jalan yang tak begitu luas namun di atasnya banyak berlalu lalang kendaraan bertonase tinggi seperti truk trailer, truk tanki, tronton, dan bus-bus besar lintas Jawa Sumatra. 

Topografi tanah yang bergelombang, naik turun bukit membuat perjalanan kurang nyaman. Pening dan mual mulai mengancam saya di jam pertama perjalanan. Syukurnya pemandangan di luar kaca sanggup menakhlukkan mabuk perjalanan saya. Pemandangan yang membuat saya terhanyut dan takjub menyaksikannya. Diawali dengan keberadaan rumah-rumah panggung yang terbuat dari papan kayu yang berdiri kokoh diantara genangan air rawa. Suatu hal yang memang baru pertama kali saya lihat secara live dalam hidup saya. Tak ingin rasanya bus melaju begitu kencang. Andai Pak Supir mau berhenti sejenak---ah ngayal, ini bukan perjalanan wisata. Dua, lima, sepuluh, duapuluh seratus rumah terlewati, pun saya masih saja excited dengan bangunan sederhana itu. Sesekali terlihat jembatan kayu yang menghubungkan rumah dengan jalanan aspal di depannya. Asyik sekali, lekat saya menempelkan pandangan saya ke arah kaca jendela, sampai lamunan saya terpecah kala suami saya menepuk bahu saya, wajahnya sangat pucat dengan keringat dingin di dahinya. Ya, suami saya memang pemabuk berat---mabuk perjalanan, terutama alergi dengan kendaraan yang bernama bus. Anehnya, bila naik kereta api atau kendaraan pribadi, dia nggak ada masalah. Hanya bus dan kendaraan yang disupiri oleh orang asing yang membuatnya mabuk. Pesawat dan kapal feri termasuk di dalamnya.

Hampir 1,5 jam kami melewati Jalur Lintas Timur Sumatra sebelum disambut oleh simpang Kilo 73. Di simpang Kilo 73 itulah kami memulai petualangan baru. Jalan yang semula kami lewati berupa jalur aspal yang lumayan bagus dengan hiasan beberapa lubang dan aspal yang meleyot di bahu jalan, kini beralih ke jalan tanah berbatu begitu memasuki Kilo 73.

Lanscape wilayah merupakan perbukitan landai dengan vegetasi rapat berupa kebun karet, akasia dan kelapa sawit. Entah kenapa sampai detik ini saya belum bisa merubah citra wilayah itu di kepala saya. Yang ada hanyalah lorong temaram dengan pepohonan tinggi lebat di samping kiri-kanannya.

Getaran roda bus menghentak-hentakkan tubuh kami. Sesekali terasa bus terseok menghindari genangan air yang memenuhi sebagian jalan. Hingga di sebuah tanjakan suatu musibah terjadi. Sebuah truk logging penuh dengan muatan kayu akasia tumpah di jalan. Kayu-kayu berjatuhan dan meluncur ke bawah. Kendaraan-kendaraan di depan kami sontak berhenti termasuk bus kami. Bersyukur tak ada korban jiwa, hanya perjalanan yang terhambat saja.

kurang lebih seperti ini jalannya

Simpang Kilo 73 merupakan jalur ke arah pabrik, termasuk jalur bagi kendaraan pengangkut kayu akasia sebagai bahan utama pembuat kertas. Bila tanpa macet, jalur itu bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam hingga ke area pabrik di Kecamatan Tebing Tinggi, Tanjung Jabung Barat.

[Sekarang kabarnya wilayah itu sudah diaspal, jadi perjalanan ke pabrik bisa ditempuh dalam waktu yang lebih singkat]

Sekitar pukul 16.00 WIB, bus sampai di pos pertama pabrik, seperti Post I kalau di tempat kami sekarang. Security dengan seragam biru dodger khas SGI (PT. Security Group Indonesia), sama dengan security yang ada di April, menyambut. Namun aturan di Lontar (biasa kami menyebut begitu untuk LP3I) lebih longgar, tak ada pemeriksaan barang bawaan dan identitas---tak seperti di sini tempat tinggal kami di Riau.
Dari pos pertama itu, bus menuju jalur bercabang dan berbelok ke arah kiri. Kata suami saya, arah kanan menuju komplek perumahan karyawan. Arah yang kami ambil menuju mill site.

Di sisi kanan jalan tampak mess karyawan dan mess security berjajar berderet-deret hingga entah ujungnya di mana tak terlihat oleh mata saya. Setelah itu, bus menukik melewati jalan beton yang curam kemudian menanjak menuju gedung-gedung memanjang dengan deretan pintu dan tangga di depannya. Di sanalah kami diturunkan. Guess House atau mess tamu.

Posting Lebih Baru Posting Lama

52 Responses to “Sesuatu Yang Dirindukan (dua)”

  1. Dalam foto itu jalan sebenar atau cuma perumpamaan mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma salah satu foto yang saya ambil dari google Mas, tapi keadaannya 90 % mirip dengan jalan yang dulu pernah saya lewati.

      Hapus
    2. G-Mapnya oke sekali mbak ....

      Hapus
    3. memang nampak ya di G-map? Dulu waktu tinggal di sana, kami tengok di G-map masih berupa peta blur...

      Hapus
    4. untuk kolom ini saya Oon banget, karena miskin teknologi dan informasi, saya hanya gelar kardus sambil nyimak saja,

      Hapus
    5. kardus terus.
      sekali-2 koran ngapa Mas, biar saya ikutan

      Hapus
    6. hujan mas
      kardus n koranny bsah semua

      Hapus
    7. ya sudah gelar spanduk gambar caleg aja, biar rame

      Hapus
    8. bentar lagi nyoblos ka Pak? setelah itu pasti sisa-sisa spanduk banyak, warteg pun aling-alingnya pakai spanduk caleg

      Hapus
    9. saya ikut pasang sepanduk juga ah...

      Hapus
    10. kalau gelar kasur nggak boleh diluar rumah ya Pak, ntar dikirain dijemur...

      Hapus
    11. malah di kirain mau di serviskan kasurnya

      Hapus
    12. kasur bawa di luar rumah, dibawah terik matahari, terus bobo di situ. Ini maksudnya apa?

      Hapus
  2. Balasan
    1. mungkin udah di cor sekarang mas

      Hapus
    2. enak dong kalo udah di cor.

      Hapus
    3. diaspal tepatnya, Mamang ya yang ngaspal?

      Hapus
  3. sebenarnya perjalanan dimanapun itu sangat bikin capek badan dan pikiran, berhubung otak bisa merespon keadaan sekitar dan mengolah keadaan menjadi menyenangkan, capek jadi hilang karena di timbun rasa senang.
    Apapun itu jik kita ikhlas pasti tidak ada embel-embal lainnya apalagi mengeluh.
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikut blajar ikhlas ah...

      Hapus
    2. ikhlas sih ikhlas Pak, tapi kalau suruh tiap hari melewati jalan kayak gitu, mungkin ujung-ujungnya ngedumel juga...

      jadi seneng, KPK endegeng jadi akur gini...

      Hapus
    3. semua hal yang diulang berkali kali tetep bikin bosen mbak, ujung-ujungnya ngedumel ngoceh ae..hehehe

      Hapus
  4. "Getaran roda bus menghentak-hentakkan tubuh kami."
    Induk kalimat itu yang bikin saya tertegun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada anak kalimatnya, roda bus yang bannya sudah halus seperti kulit bayi

      Hapus
    2. dan menggoyang - goyangkan kumis tipis hehehe

      Hapus
    3. tenang bapak2 sahabatku, malam ini malam jum'at....semua bakal kebagian jatah....sabar jaya yah!!...;o)

      Hapus
    4. wkwkwkwkwk... komennya menggoyangkan pinggul hatiku...

      Hapus
    5. kalau ada induk kalimat, ada anak kalimat, ada cucunya nggak ya?

      hahaha, para bapak yang kesengsem dengan kalimat menghentak-hentak...

      memang hati punya pinggul ya pak Payzo? hidung punya kaki dong?

      Hapus
  5. nampak sempit jalannya, palagi dilalu kndaraan gede2, pasti cepet rusak tuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jalan Lintas Timur memang cepet rusak Pak Crew, buktinya tiap mendekati lebaran pasti ada program perbaikan jalan.

      Hapus
  6. asyek ya mb,,,, kayak petualangan aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Maya, memang asyik dan nggak terlupakan

      Hapus
  7. Perjalanan bersama keluarga yg amat berkesan dan menyenangkan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sungguh menyenangkan Pak Budi, apalagi bagi pengantin baru kala itu...

      Hapus
  8. sungguh berkesan sekali ya mbak... tapi ngeri juga jalannya ya.... panggil saya aja atuh biar di cor beton hehehe

    BalasHapus
  9. kan udah tak bilangin...semua ketidak nyamanan itu ngga mempengaruhi cinta yang kala itu sedang bergelora didada....pengantin baru gitu loooh....makin goyang perjalannya...makin asoy dong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduuuh Pak Ci, kalimatnya adem banget deh.
      membaca komen yang kayak gini nih yang bikin hati saya meletup-letup dan berbunga-bunga

      Hapus
    2. pasti langsung ng'glendotin ayahnya deh....huuuuu

      Hapus
  10. benar-benar perjalanan yang bagi saya cukup seru,,,iya andai supirnya mau berhenti sebentar,,,tentunya sudah ada foto-foto rumah panggung itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayangnya waktu itu ndak kepikiran untuk memfoto...untuk pelajaran lain waktu Mbak Wieka, siap sedia bawa kamera saku bila mau bepergian

      Hapus
  11. Balasan
    1. berapa meter dalamnya Mas...
      hehehe, hanya pengalaman pribadi kok Mas

      Hapus
  12. perjalanan yang penuh dengan perjuangan dibalut dengan kata-kata yang indah membuat kisah pengalaman menjadi semakin menarik untuk disimak, namun sayang saya datang terlambat untuk menyimak kisah awal petualangan ini hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas kunjungannya Pak. hanya ingin berbagi kisah saja kok Pak, siapa tau bakal menambah khasanah ilmu...

      Hapus
  13. hadir dan nyimak sob hehe ceritanya panjang

    BalasHapus
  14. Beberapa waktu lalu gue juga sempet melalui jalan lintas sumatra naik bus. Sempit, naik turun, banyak tikungan tajam dan ngeri bgt kalo pas simpangan ama kendaraan lain! Hehe.. Pengalaman yg ngeri tapi terobati ama panorama bukit barisan yg indah. ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, salah satu ketertarikan saya adalah bukit-bukit, tapi bukan bukit barisan yang saya lihat, tapi deretan bukit penuh pohon kelapa sawit...indah banget, sekaligus merasa miris karena lereng yang tak terlindungi oleh pepohonan yang heterogen kan rawan longsor bila hujan

      Hapus
  15. istilahnya kilo ya..?
    kalo di jogja kan km
    di kalimantan pake sebutan pal
    seperti kalo mau ke terminal banjarmasin di km6 orang nyebutnya ke pal 6...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya