Lebaran Off Road ke Simpang Perak



Sudah menjadi tradisi tahunan dari jaman baheula, bila hari raya tiba, entah Iedul Fitri atau Iedul Adha, komplek tempat tinggal kami yang merupakan komplek perumahan karyawan pabrik kertas, selalu sepi dari penghuni-penghuninya. Hampir semua penghuni komplek adalah perantauan, hanya beberapa orang saja yang asli warga Pangkalan Kerinci, bisa dihitung dengan jari. Rata-rata merupakan pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sunda, Medan, Minang, Aceh dan wilayah Sumatra lainnya. Kecuali para ekspatriat dari negara lain, yang tak kenal budaya mudik, mereka stay di komplek---kalau pas cuti, ya kembali ke negara asal mereka masing-masing.

Lebaran tahun ini, lagi-lagi kami sekeluarga tak mudik karena kesibukan ayahnya di pabrik. Tak menjadi suatu masalah sih sebenarnya, hanya kadang sedih mendengarkan isak tangis ibu (ibu sendiri dan ibu mertua) di kampung yang prihatin atas keadaan kami---di rantau tanpa kerabat dan family sama sekali, tak bisa kumpul dengan keluarga dan saudara rame-rame. Tapi tak mengapa, kami menjalaninya dengan syukur, ada hikmah tersendiri lebaran dengan suasana hening seperti ini. Menikmati jalan depan rumah yang biasanya hiruk pikuk, menjadi lengang selengang lengangnya. Lingkungan yang biasanya ribut suara anak-anak, menjadi sepi sesepi sepinya. Siang dan malam serasa tak ada bedanya, sunyi.

Shalat Ied tahun ini pun jamaahnya tak sebanyak tahun kemarin, hanya beberapa shaf saja. Anak-anak yang biasanya rame ikut halal bihalal di halaman masjid, tadi pagi jumlahnya tak seberapa. Sempurna sekali nuansa keheningannya. Sepulang dari masjid, kami ingin segera ke rumah teman-teman yang tak mudik, ada beberapa sahabat yang tak pulang ke Jawa karena rewang bayi, baru sebulan atau dua bulan melahirkan. Tapi rupanya kami harus gigit jari, mereka nggak ada di rumah, kemanakah? Entahlah, mungkin keliling, silaturahmi atau mungkin ke kota, Pekanbaru.

Tak kecewa, kami merubah schedule, ingin mengunjungi seorang sahabat lain di Town Site II, kami telpon, eeh rupanya beliau sekeluarga berlebaran di ladangnya (ladang sawit) di daerah Sering, sebuah kecamatan yang terletak di sebelah SP 7, serikat perkebunan kelapa sawit yang dikelola para transmigran dari Jawa sejak tahun 1994, yang sebenarnya terletak (cuma) di belakang pabrik melewati Simpang Perak sebagai jalur satu-satunya.

Sebagai orang rumahan, yang jarang keluar komplek, kami harus bolak balik telpon ke Kak Rika Purba, teman yang ingin saya kunjungi, hanya untuk menayakan mana Simpang Perak itu. Rupanya hanya berjarak limabelas menit bersepeda motor setelah keluar dari Post 1, post paling luar Town Site 1, tempat tinggal kami, mengikuti Jalan Lintas Timur Sumatra. Merasa sudah sampai ke titik aman, kami santai saja menunggu suami Kak Rika yang katanya mau menjemput di pertigaan Simpang Perak. Beberapa menit menunggu sambil berteduh di bawah rimbunnya pohon kelapa sawit, hp saya berdering.

"Mbak Khusna jalan saja pelan-pelan mengikuti jalur berkerikil itu, nanti ketemu suami saya di jalan ya...ini orangnya baru mau berangkat menjemput!!!" kata suara putus-putus di hp itu. 

Ayahnya dengan pelan memboncengkan saya dan Zaki menyusuri jalan berkerikil nan berdebu itu. Pelan benar kami berkendara karena rutenya semakin horror, kanan kiri jalan yang tadinya adalah kebun sawit berubah menjadi tebing curam yang penuh semak. Ban sepeda motor yang beberapa hari lalu dipompa penuh menjadi bumerang bagi kami karena sebentar-sebentar roda tergelincir dan saya bolak-balik beristighfar sambil memeluk Zaki erat-erat. Tak tau ayah bundanya lagi kena teror, Zaki malah ngakak-ngakak terlalu senang badannya bergetar terkena imbas jalan penuh batu kerikil. Baru "seru" bergetar-getar di jalan berkerikil, hp saya bunyi lagi. Kali ini dari Pak Purba, suami Kak Rika.

"Mbak, hati-hati ya, nanti ada turunan tajam dan jurang, pelan saja berkendara, in shaa Alloh sebentar lagi ketemu saya!"

Ini juga hati-hati Pak--gedumel saya. Benar, belum sempat saya masukkan lagi hp ke tas, di depan sudah menghadang turunan curam (banget) berkedalaman kira-kira 20 atau 25 m dengan jalan penuh kerikil dan pasir. Astaghfirullah...terkaget-kaget kami, antara iya dan tidak kami berhenti, menatap turunan yang lebih mirip kudanil menganga ketimbang sebuah jalan. Bismillah, ayahnya menggelindingkan kembali roda sepeda motornya, kami masuk ke mulut kudanil itu--eh jalan itu. Syukur alhamdulillah kami selamat sampai ke dasar, tapi tak boleh kami merasa lega di situ karena di depan sudah menghadang tanjakan tajam, sebanding dengan turunan tadi. "Turunnya bisa, naiknya pasti juga bisa!" kata ayah. Lagi, dengan sangat pelan ayah memboncengkan kami, berusaha merayap ke atas, sesekali tergelincir oleh kerikil, tak juga menggoyahkan hati kami. Tapi, sekian kali tergelincir, jalan berbatu itu belum juga puas menguji kemampuan berkendara kami, ayah goyah keseimbangan dan roda terperosok ke pasir. Spontan langsung direm, tapi karena sudutnya terlalu curam kali, sepeda motor kami tak kuat menahan beban kami bertiga dan roda melaju ke arah belakang, kami terperosok mundur. Saya langsung meloncat ke tepi dan menyambar Zaki, sementara ayah masih berjuang memutar gas kuat-kuat, tak ada hasil. Hamdalah setelah sekian detik berjuang antara maju dan mundur, dengan bantuan dorongan saya, akhirnya kami sampai atas juga. Lelah dan ngeri.

Di atas tebing kami berhenti untuk mengambil nafas, dari ujung depan tampak sepeda motor dengan pengendara yang melambai-lambaikan tangan. "Aha, itu Pak Purba, Yah!!" teriak saya saking senangnya. Rancu senang antara selebrasi keberhasilan naik tebing atau karena merasa ada guide yang memandu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Sering bersama Pak Purba, jalan masih berkerikil juga, tapi gelombang naik turun setelahnya tak setajam yang pertama, ada sekitar 5 atau 6 kali kami naik turun bukit di tengah kebun sawit. Sekitar 40 menit berkendara di jalan berkerikil, hingga membuat lidah kami terasa kelu tekena dampak getarannya. Bahkan kepala saya mulai terasa pening dan keder.
"Nanti keluar dari sini si Zaki dijamin langsung bisa bilang RRRRR nih Nda..."
Masih bisa juga becanda sang ayah, sementara saya sudah shock dari tadi.

Sekitar 40 menit kami melewati jalan kerikil itu, kemudian disambut jalan sempit namun mulus beraspal. Lancar kami berkendara hingga SP 7 kemudian melintasi jalur logging truk ke pabrik dan dilanjutkan ke arah kanan ke Kecamatan Sering. Sepanjang jalan Sering, kebun sawit berganti menjadi kadang-ladang terbuka sisa pembakaran hutan yang beritanya santer di TV beberapa bulan lalu, di darah situlah asap tebal yang menggegerkan Pelalawan berasal. Masih jelas tonggak-tonggak kayu yang beberapa masih utuh berupa kayu dan daun-daunnya yang masih berdiri kokoh, namun warnanya sudah berubah menjadi hitam, orange, coklat atau kemerahan. Lebih mirip dibilang seperti hutan musim gugur di Eropa ketimbang sisa pembakaran hutan. Sayang, tak ada foto yang kami ambil karena hp ayah habis batrenya. Hampir satu jam di daerah yang miskin sinyal, membuat hp gampang lowbatt, apalagi setelah dari pagi buta dipakai untuk kemrecek ngoceh maaf-maafan oleh kami berdua.

Alhamdulillah, menjelang siang kami sampai di bangunan panggung yang merupakan pondok Pak Purba. Pondok kayu sederhana yang sengaja dibangun untuk menunngu lahan sawit beliau yang 6 hektar. Zaki dengan penuh semangat lari naik turun tangga kayu. Senang bukan kepalang karena ini kali pertama dia (dan orang tuanya) masuk rumah panggung. Ada sedikit haru terpintas di benak saya, sungguh hebat mereka-mereka yang tinggal di kawasan sana. Tiap hari musti berkutat dengan jalanan terjal yang merupakan satu-satunya akses menuju kampung. Padahal dari sana, tampak cerobong-cerobong asap pabrik Sukanto Tanoto itu, kemudian tak jauh dari pondok, sekian kilometer dari sana terdapat perusahaan pengolahan gas alam milik Abu Rizal Bakrie. Menyedihkan ya...sedang pemerintah Pelalawan sendiri sangat kaya. Kok nggak ada rasa iba untuk membuat jalan SP 7 tadi menjadi lebih layak dilalui. Tak terbayangkan betapa repotnya bila musim hujan datang, jalan pasti jadi sangat licin.

Sekedar berbagi cerita di hari lebaran yang sunyi...

Saya sekeluarga mengucapkan Happy Ied Mubarak buat sahabat-sahabat semua...
Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum
Minal aidin wal faidzin...

Maaf lahir batin kami haturkan...



Posting Lebih Baru Posting Lama

54 Responses to “Lebaran Off Road ke Simpang Perak”

  1. lelah dan pegal-pegal perjalanan jauh masih terasa, tapi Zaki belum juga bisa bilang RRRRRRRRRRRRRR

    masih LLLLLLLLLLLLLLLL
    #eh lha...

    Selamat ber-Iedul Fitri....!!!!


    BalasHapus
    Balasan
    1. seru sekali prjalanannya mbak .. minal aidzin wal faidzin ya ..

      Hapus
    2. saya tau maksud terselubung dari KK nulis ini...(supaya dibaca ayah zaki, dan lalu minta dipijitin deh....hahaydeuh)

      Hapus
    3. sekarang nggak seru lagi Mbak, agak kenger leher saya, tengeng nggak bisa nengok ke kanan, sakiiiit banget lehernya. sama-sama Mbak, mohon maaf telah banyak salah....

      Kebalik Pak Ci...saya tadi malam sudah mijitin Zaki sekaligus ayah e, katanya badan e kayak digebugi gitu. Telapak tangan ayah juga masih berbekas merah-merah, hasil dari sepaneng pegang setang sepeda motor...

      Hapus
  2. Hehe ada aja lebaran off road ...

    Minal Aidzin Wal Faidzin yah ... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang ngga ada poto nya ya..

      Hapus
    2. maaf lahir batin juga Mas Nazar...

      mungkin suatu saat kalau saya ke sana lagi saya bawa kamera digital saja, biar puas ambil foto...

      Hapus
  3. segala sesuatu dan kondisi apapun kalau dinikmati dengan ikhlas, apalagi ada sang kekasih tercinta, jangankan lebaran sepi dan ngga pulang kampung, masuk lobang semut juga pasti bahagia....apalagi suasana sepi jempling...
    disini saya baru tau kalau jalan yang menurun ituh dianalogikan dengan KUDANIL.....admin yang aneh

    saya udah minta maaf loh diartikel sebelomnyah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. beda ya Pak Ci, kalau jalan di kampung Pak Ci pasti sudah mulus semuanya, tak bisa dong dikatakan kudanil menganga--bukti keberhasilan kadesnya dalam membangun.

      uwokeh Pak, permintaan maaf terkabul, eh...maksud saya, sama-sama, saya selaku yang lebih muda tentu banyak salah dan khilaf, banyak jahil dan usil menyertai dalam tiap canda...dengan kerendahan hati saya dan keluarga ngaturaken maaf lahir batin ya Pak...semoga kembali fitrah seutuhnya...aamiin

      Hapus
    2. Pak Cik ya Mbak, panggilan beliau?

      Hapus
    3. yeah...gituh deh KK

      raja dan ratu jail diatas sayah

      Hapus
  4. Assalamu'alaikum. Ketika jemari tak sempat berjabat.
    Ketika raga tak sempat berjumpa.
    Untuk komentar yang membekas luka.
    Semoga maaf selalu ada.
    Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H.
    ﺗﻘﺒﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺎ ﻭﻣﻨﻜﻢ ﺻﻴﺎﻣﻨﺎ ﻭﺻﻴﺎﻣﻜﻢ ﻛﻞ ﻋﺎﻡ ﻭ ﺃﻧﺘﻢ ﺑﺨﻴﺮ.
    ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺀﺩﻳﻨﻮﺍﻟﻔﺎﺀﺯﻳﻦ,
    ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﺠﻌﻠﻪ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻌﻬﺪ ﻣﻦ ﺻﻴﺎﻣﻨﺎ ﺇﻳﺎﻩ، ﻓﺈﻥ ﺟﻌﻠﺘﻪ ﻓﺎﺟﻌﻠﻨﻲ
    ﻣﺮﺣﻮﻣﺎ ﻭ ﻻ ﺗﺠﻌﻠﻨﻲ ﻣﺤﺮﻭﻣﺎ .
    ﺁﻣﻴـــﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
    Mohon maaf lahir dan batin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaykumussalam wr wb

      sama-sama Pak El, saya juga minta maaf atas segala jahil dan usil saya saat berkomentar....Taqabal ya kariim...

      Hapus
    2. Mampir lagi sambil baca poastingannya..
      Wah ga kebayang kalo saya, lebaran sesepi itu yah, ditambah perjuangan motocross yang menegangkan, lengkaplah pengalaman yg super ini

      Hapus
  5. itung" jalan" yang asri dengan alam mb khus,,,
    suasana,,,jalanan, tebing,,,,

    jdi teringat pass silaturaahmi ke tempat saudara d gunung,,,
    selamat hari raya idul fitri
    minal aizdin walfa'izdin,,,mohon maaf lahir dan batin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indah ya kalau berada di gunung

      Hapus
    2. tenang asri,,,pemandangannya indah, sejuk,,,,
      pasti tidak bosan

      Hapus
  6. Sabar ya mbak. Insya Allah tahun depan bisa mudik sekeluarga dan lbh meriah suasana lebarannya.

    BalasHapus
  7. hepi lebaran, maaf lahir batin ya Mbak..

    walahh, adzan maghrib nih. ntar kesini lagi Insya Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ismillah...maaf balasnya lama banget Pak...
      injih sama-sama, saya sekeluarga juga ngaturaken sugeng riyadi...dengan kerendahan hati kami mohon maaf lahir batin, semoga idul fitri ini kita kembali fitrah seutuhnya...aamiin.

      Hapus
  8. mbayangke nek ngglundung njuk piye?


    BalasHapus
    Balasan
    1. nek tema-ne glundhang-glundhung neng Korea, apa judule jal?

      Hapus
  9. mudah - mudahan di taun depan bisa pulkam, dan kumpul sama keluarga... amiin


    liburannya seru juga mbak, kalau dinikmati sama keluarga ya enjoy enjoy aja walau lelah tapi terasa senang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha Alloh Mang, aamiin.
      ada nuansa berbeda berpuasa di kampung orang, di sini bisa lebih khusyuk beribadah, tak terlena hingar-bingar menyambut lebaran, tak seperti di kampung lho Mang...

      Hapus
    2. iya mbak yang penting kan ngumpul sama keluarga itu sudah cukup, jangan seperti saya taun lalu lebaran masih di rantau orang, ndak sama keluarga...

      Hapus
  10. Minal aidzin wal faidzin sob, mohon ma'af lahir N batin

    BalasHapus
  11. Wah kondisi Jalanya di tempat teman agan sangat extrem berarti ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. extrem dan keren kan...kami saja baru sekali itu seumur hidup melewati medan terjal lagi berbahaya...dua hari setelahnya tepar, badan sakit-sakit...tapi banyak hikmah yang saya dapat dari sana...

      Hapus
  12. bisa sy bayangkan perjalanan seperti itu. soalnya di sini, di daerah2 ujung kabupaten, masih ada jalan yg bikin sakit perut. yg penting selamat dulu dah. melalui kesempatan yg singkat ini, sy minta maaf juga ya, mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di daerah lombok timur, mungkin tak seramai lombok barat ya Pak...tapi semoga dengan pindahnya bandara Selaparang ke Praya, pembangunan jadi semakin merata...

      sama-sama Pak Rusydi, kami sekeluarga juga mengucapkan selamat idul fitri, maaf lahir batin Pak...

      Hapus
  13. Selamat hari raya idul fitri. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih banyak, sama-sama...maaf lahir batin

      Hapus
  14. saya salut buat mbak khusna sekeluarga tidak ciut nyali sekecilpun untuk bersilaturohiim, top deh.
    saya mohon maaf atas kesalahan saya ya mbak. komen clometan terutama dan kesalahan yang lain.
    maaf lahir batin.
    naik gl pro sekalipun akan sangat sulit jika medannya ada lembah dan puncak yang curam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak khusna memang juara...

      Hapus
    2. sama-sama Pak Agus, maaf lahir bati juga ya...

      wah, ndak juga Pak...yang jelas suami saya yang juara, mampu membawa kami hingga Sering sana, walau telapak tangan beliau sampe merah-merah bekas megangi setang motor dengan sepaneng...

      Mamag juga juara kok...*sodorin hadiah, buku tulis setumpuk...kayak anak sekolah yang juara ya...

      Hapus
  15. Selamat malam gan dan selamat nyantai aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat malam Bang...ini lagi nungguin sop ikan patin masak...

      Mamang...Oh Mamang...

      Hapus
  16. mohon maap lahir dan batin ya mbak khusna :) :) .. bakal rindu ramadhan nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Tia...insha Alloh tahun depan bertemu kembali..aamiin

      Hapus
  17. mampir lagi, kompleknya udah rame lagih kan...mau sungkem sama seluruh penghuni komplek ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukannya akang yang disungkemin?

      Hapus
    2. hamdalah, satu demi satu penduduk sudah mulai berdatangan Pak Ci...mulai ada derai tawa anak-anak lagi, Zaki nggak kesepian lagi-----#ngakunya, padahal yang kesepian ibu e.


      eyaaaa laaah Pak Zach, beliau kan sesepuhnya #ups maaf, dengan rasa hormat dan tak mengesampingkan beliau di bawahnya.

      Hapus
    3. yang tua disungkemi yang muda... saya kan masih muda heheheh

      Hapus
  18. masih suasana lebaran khan,
    jadi nggak apa2 kan kalo aku mohon dimaaafkan lahir batin kalau aku ada salah dan khilaf selama ini,
    back to zero again...sambil lirik kiri kanan nyari ketupat....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dengan kerendahan hati, kami sekeluarga juga menghaturkan maaf tak terkira atas segala khilaf dan salah Pak Har...(kosong-kosong gitu)

      nah, ketupat opornya sudah habis di hari kedua Lebaran tuh Pak...

      Hapus
    2. bikin lagi aja mbak, ketupat opornya

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya