Sesuatu Yang Dirindukan (empat)



Seminggu tinggal di guess house, seorang bos suami saya, beliau seorang superintenden automation di Lontar menawari kami untuk menunggui kediaman beliau di komplek karyawan. Om Setyo, biasa para anggotanya memanggil begitu, termasuk suami saya. Beliau mengawali karier di Lontar Papyrus sejak tahun 94-an. Beliau sosok pribadi yang baik, smart, sederhana, rendah hati, menyenangkan dan jiwa leadership-nya tak diragukan lagi. Om Setyo akan pulang ke Solo sebulan lamanya, cuti sekaligus menjemput istri dan kedua putranya. Sejak Fauzan, putra pertama beliau sakit, Mbak Susi istri Om Setyo dan kedua buah hatinya tinggal di kampung halaman mereka.

Setelah masa tinggal di guess house habis, kami pindah ke kediaman Om Setyo di komplek karyawan blok B, blok tempat tinggal para bos di sana. Bangunan type couple dengan halaman berupa taman cantik menyambut kami. Waktu itu Om Setyo juga meminjamkan sepeda motornya kepada kami, jadi acara pindahan itupun tak merepotkan kami. Koper disimpan suami saya di mess, hanya 5 setel pakaian saya bawa ke kediaman si bos, begitu juga suami saya. Hanya 2 buah seragam dan beberapa setel pakaian rumah. Toh hanya sebulan.

Menempti rumah sebesar itu dengan semua tetangga baru membuat saya agak canggung. Logat bicara mereka juga agak membuat roaming otak saya. Bahasa masyarakat Jambi perpaduan antara bahasa minang dengan bahasa palembang. Huruf vokal terakhir diganti dengan "O". Misal "IYA" jadi "IYO". Tak begitu susah memang, tapi bagi yang pertama mendengar mungkin akan tampak lucu. Hamdalah, warga sekitar begitu ramah dan baik. Sempat berkenalan dengan beberapa tetangga jauh, rupanya beliau berasal dari Sleman, Jogjakarta. Banyak diantara mereka berasal dari Palembang, Medan, Padang dan Jawa. Warga asli Jambi sendiri tampaknya malah jarang.

Malam pertama di kediaman Om Setyo, bertepatan dengan shift malam suami. Berangkat kerja jam 22.00 dari rumah. Di kamar, saya mencoba memejamkan mata, tapi tak ada rasa kantuk yang mendera. Kesunyian mulai menyeruak. Suara binatang-binatang malam terdengar jelas di telinga saya. Tak seperti di guess house yang bising dengan suara AC, di rumah itu suasana benar-benar sunyi. Lengkingan rem bus-bus malam yang membawa karyawan ke pabrik terdengar mengerikan dan membuat bulu kuduk saya berdiri. Saya putuskan untuk keluar dari kamar dan nonton TV di ruang tamu. Berpindah dari channel satu ke channel lain, namun kantuk tak kunjung datang juga. Akhirnya sampai di channel HBO, Van Helsing kala itu filmnya. Hampir setengah duabelas malam waktu itu, ketika tanpa sengaja saya melihat sesosok badan tinggi besar melintas di gelapnya ruangan dapur. Siapakah gerangan dia? Reflek saya langsung berjalan ke arah dapur dan menyalakan lampu. Celingukan, tak ada siapa-siapa di sana. Sesaat kemudian saya baru sadar kalau saya sendirian di rumah. Ya Alloh...jadi apa tadi yang melintas? Setan kah? Oh tidak!!! Saya ditakut-takuti setan??? Saya nyalakan semua lampu yang ada di rumah itu, tak terkecuali lampu kamar mandi. Terang benderanglah rumah. Bergegas saya kembali ke kamar, menyahut Al Qur'an yang tergeletak di dekat bantal...aaah sungguh absurd niatan saya membaca kitab suci itu, tak ada niat menghayati hanya ingin menghilangkan rasa panik dan takut. Sungguh hal yang tak mulia dan tak patut dicontoh. Setelah agak tenang, saya berbaring dan tak ingat lagi, tertidur, baru bangun setelah mendengar suara beberapa sepeda motor lewat di depan rumah. Waktu subuh sudah lewat rupanya.




Begitu suami saya pulang kerja, pukul 08.00 pagi, saya ceritakan semua kejadian malam tadi ke beliau. Reaksinya biasa saja, dengan cukup kalem dan tenang berkata. "Ndak ada apa-apa Yang, mungkin sugesti atau pikiran kalut saja...atau mungkin terbawa horornya film" huh, dongkol saya mendengar kata-kata semacam itu, sepertinya suami saya nggak percaya sama saya. (Kedongkolan yang tak layak ditiru, maafkan aku suamiku...).

Selama suami masuk shift sore atau shift malam, saya tak berani kemana-mana selain di dalam kamar. Dengan penuh kewaspadaan dan sepaneng meringkuk bersembunyi di balik selimut. Saya yakin, anak balita pun akan tertawa melihat tingkah saya.Tak ada hal ganjil satupun terjadi. Sepertinya "dia" tau saya menunggunya.

Hampir dua minggu keadaan aman terkendali, hingga suatu malam, saat suami saya sedang nonton televisi di ruang tamu dan saya browsing menggunakan PC tuan rumah (yang sejak awal memang sudah diizinkan sama beliau untuk memakai PC-nya) di kamar, korden tepat disamping saya terbuka dengan sendirinya. Saya menjerit tak ketulungan. Belum sempat suami saya berlari sampai di kamar, sesosok makhluk berwarna hitam keluar dari balik korden. Makhluk berkaki empat dengan ekor yang panjang menjuntai. Kucing. Iya, kucing. Kucing berwarna hitam pekat tanpa warna lain di bulunya. Hanya hitam. Mendelik saya menatap kucing yang dengan santai melenggang di depan kaki saya. Heran...heran...heran. Darimana datangnya kucing itu, kok tiba-tiba muncul dari balik korden. Suami saya langsung memeriksa jendela dan semua pintu. Tak ada yang terbuka. So, darimana datangnya kucing itu? Sibuk kami mengobrak-abrik pintu dan jendela beserta korden-kordennya, kucing itu sudah hilang entah ke mana.


Mohon sabar, tulisan akan saya lanjut lain kali...ini mau njemur pakaian dulu...



Posting Lebih Baru Posting Lama

50 Responses to “Sesuatu Yang Dirindukan (empat)”

  1. hiiii......seremnya, kata nenek kalau kucing item mata merah, ngga jelas dari mana datangnya...itu jelmaan nenek towok, tapi bukan Didi "nini towok" lo yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang jelas bukan jelmaan mak lampir ya kang hehe...

      Hapus
    2. apalagi jelmaan saya.. nggak mungkin sekali itu, mang

      Hapus
    3. oh baru tahu kucing hitam mata merah itu jelmaan nenek cowok ternyata

      Hapus
    4. jelmaan mak lampir lebih keren.

      Hapus
    5. ehh udah dikomen sama mas el ding.

      Hapus
    6. wah, kalau sudah kayak gini, saya jadi bingung mau balas yang mana...

      Didi Nini Thowok itu sanggarnya di dekat rumah mertua saya lho...

      jelmaan mak lampir, kalau yang jadi mak lampir para bapak di atas, rasanya saya nggak takut tuh...

      Hapus
    7. makanya kucing saya yang hitam tak cari kok tidak ada, ternayta lagi main tho

      Hapus
    8. kenapa ga pake pertanyaan standar
      kucing apa maling..?

      Hapus
    9. kucing teriak maling mungkin ya,,

      Hapus
  2. cerita bersambung rupanya, harus baca cerita sebelumnya dulu nich.

    Kalo saya yg mengalami pasti sudah lari terbirit2 mbak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. masak mbak tarry berani lari terbirit-birit keluar rumah ?

      Hapus
    2. untung gak ngompol dicelana. ^_^

      Hapus
    3. mbak tarry, kalau terbirit-birit nggak usah pakai cincing lho ya...hahahha

      biar nggak ngompol, pakai diapers saja gih...

      Hapus
  3. Boleh nebak ga buat cerita selanjutnya?
    Pasti kucingnya lagi ngumpet tuh di dapur bermesra-mesra dengan ikan, hehehe !

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh, tapi bukan tebak-tebak berhadiah lho.

      salah yeee...entah kucingnya ke mana waktu itu, tau-tau ngilang begitu aja.

      Hapus
  4. lalu kucing itu brkata, udah jgn kaget gitu! sy hny seekor kucing ko..., gk pernah liat kucing hitam ya?

    ditunggu postingan berikutx Bunda... *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mas Rohis...

      heran juga, padahal di sini banyak kucing, kok bisa terkaget-keget gitu ya?

      Hapus
  5. setelah sosok tinggi besar..kemudian kucing yang entah dari mana asalnya...ceritanya kok semakin ke arah horror ya...padahal judulnya sesuatu yang dirindukan.....oohhhssrrammmm :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti merindukan kucing item itu, Pak Har

      Hapus
    2. merindukan horornya---hohoho, enggak mau saya pak Har, kapok. merindukan sahabat-sahabat saya yang sempat saya kenal di sana tentunya...

      Hapus
    3. tapi kalo habis diliatin hantu, biasanya dapet rejeki nomplok loh...

      Hapus
  6. Makin serem aja ceritanya ??
    klo kucing hitam katanya sih klo bunyi nya yg serem gitu ada setan yg lewat.... katanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuute tidak sedang menyindir saya kan....hehehe

      Hapus
    2. gitu ya MBak, saya sempat berfikir kalau kucingnya keluar lewat lobang di dekat plafon dapur waktu itu..

      yang kesindir berarti merasa pernah jadi nini thowok------#lho kok

      Hapus
  7. wuah wuah wuah..kucing yg muncul hitam meles ya, mbak. dulu saya punya kucing seperti itu. saya suka kucing hitam. bulunya kliatan berkilauan sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya kucing hitam kalau jadi piaraan malah terkesan cantik ya Pak, tapi asumsi masyarakat kadang ke hal-hal horor termasuk saya yang masih sering merasa serem lihat kucing hitam.

      Hapus
    2. daripada liat kucing belang segede sapi..?

      Hapus
    3. itu lain lagi ceritanya Pak Raw, dulu pernah ada babi hutan segede kerbau...syereeemmmm, takut diseruduk

      Hapus
  8. Iseng bange tuh kucing mucul tiba tiba ngilang begitu saja. Lagi kesepian kayaknya hinga nyari perhatian mbak Khusna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kelaparan nyari ikan Pak...entahlah. yang jelas keisengan dia sudah mematahkan hati saya, sekarang kalau lihat kucing hitam masih terbawa suasana serem

      Hapus
  9. jangan-jangan itu kucing garong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah jangan gituh kang, itukan julukan saya....loh ko' bangga ya....hadeuh...lupa!!
      #tepok jidat sendiri

      Hapus
    2. biasanya, pria yang suka bertopi (kayak saya), jidatnya licin karena plothos wkwkwk

      Hapus
    3. bikin boysband lelaki bertopi yu...hehehe

      Hapus
    4. kucing garong...trus ada konser dangdut nih...

      boyband nggota KPK keren juga lho...sudah lengkap ada yang gitari, ada yang vokal, ada yang ngebasi...ada yang tepok tangan---saya

      Hapus
  10. hadir jeng, met lebaran ya maaf lahir dan batin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak Iis, saya juga ngaturaken maaf lahir batin, sudah kondur dari traveling po?

      Hapus
  11. njemur pakaiannya udah selesai Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah Pak Zach, udah kering, ini habis njemur lagi...nanti kering diangkat lagi, besok jemur kain lagi...hehehe

      kok masih digembok pintunya Pak?

      Hapus
  12. iya Mbak. pas begitu ya, baru dateng di tempat baru yang asing, dilanda rasa sunyi. pasti mencekam ya..
    kebayang saya. bisa merasakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngandel...(pinjemistilah mamang pacul)

      Hapus
    2. kabarnya sekarang rumah itu sudah dijual dengan harga murah, huhuhu, rumah penuh sejarah bagi kami.

      maen----itu baru asli Pak Pacul

      Hapus
  13. Waah ikut merinding membacanya. DI tempat terpencil kan mbak? Kebayang nungguin suami malam2, horor rasanya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami waktu itu benar-benar di temapt yang sangat jauh dari peradapan---eh masyarakat Bund, 3 jam dari kota, masuk hutan belukar Bund...tapi ternyata di temapt seperti itu masih banyak orang-orang baik yang sangat peduli kepada kami, subhanallah

      Hapus
  14. saya dapat merasakan keadaan itu mbak, hehehe.
    kalau saya menginap dan pertama kali menginap saya bilang dalam hati yang saya tujukan pada jin atau makhuk ghoib lainyya, saya tidak berniat mengganggu, kalau kebetulan mengganggu ya tidak sengaja dong ini kan tempat tinggal bangsa manusia bangsa jin kan di hutan sana. Sambil saya doakan, gitu aja mbak. Dan alhamdulillah tidak pernah ke ganggu gituan,, meskipun menginap di tempat angker sekalipun. atau karena saya banyak dosa ya mbak, tidak di bukakan tabir ghoib itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitu ya Pak, kalau saya masuk rumah baru, ya cukup dengan bismillah saja. Mungkin mereka mengadakan penyambutan untuk kami. Memang keluarga Om Setyo sudah "terbiasa" dengan mereka. Dengar cerita dari Mbak Susi, kadang mainan anaknya bisa menyala sendiri, sepeda anak-anak mengeluarkan suara, kadang barang-barang di rumah berpindah sendiri. Tapi para balita putra Om Setyo lah yang nggak tahan dan selalu "diwiruhi", jadi rumah itu terus dijual setahun setelahnya. Saya maklum, wong area itu sebelumnya adalah hutan belantara yang dibabat untuk didirikan pabrik kertas...wajarlah kalau ada penunggunya.

      Hapus
  15. kalau saya alhamdulillah belum pernah melihat yang begituan... padahal dulu pernah kerja di pulau belitung, dan tinggal dirumah angker, temen temen sih sering melihat penampakan menakutkan dan seterusnya sakit panas... tapi saya mudah mudahan jangan sampai melihat yang begituan deh

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya