Sesuatu Yang Dirindukan (lima)


Sebulan lamanya kami tinggal di kediaman Om Setyo, hanya dua peristiwa ganjil itu yang kami alami, selebihnya, nyaman dan tenteramlah yang kami rasakan. Tetangga-tetangga kanan kiri rumah begitu care dan wellcome ke kami berdua. Sesekali mereka memberi hantaran kue ke kami. Begitu juga saya yang waktu itu belum pandai masak, hanya pudding coklat pisang yang bisa saya berikan untuk mengembalikan piring mereka. Di sana jugalah untuk pertama kali saya merasakan masakan khas Palembang dengan modifikasi smart Ibu Ustadzah sebelah rumah, telur dadar berisi mie yang dicampur kuah empek-empek, atau empek-empek pizza mie. Sajian sederhana yang nagihi, nikmat disantap kala sore hari sambil ngobrol dengan suami. Bahkan sampai sekarang, saya sering membuatnya untuk dinikmati bersama tetangga-tetangga.

Tiba saatnya Om Setyo dan keluarga datang ke rumah beliau. Sekitar jam 10.00 pagi, sebuah mobil proton bermuatan penuh kardus dan koper parkir di depan rumah. Dua orang anak kecil dengan segala gaya dan lagaknya turun dari mobil bersama Mama mereka. Mbak Susi, yang ternyata masih sangat muda, usianya sebaya saya, lahir di tahun dan bulan yang sama dengan saya. Kemudian disusul seorang bapak yang berperawakan sedang, berusia sekitar 35 atau 38 tahun (waktu itu), tak gemuk, berpenampilan sederhana dengan kaos krem dan celana panjang denim yang sudah agak lusuh, saya pikir supir mobil itu, ternyata beliaulah Om Setyo...*sampluk centong Mbak Susi. Sosok yang sangat sederhana, namun kehandalannya dalam memimpin sungguh patut diacungi jempol, sangat mumpuni dan cerdas...Tak mau beliau diperlakukan layaknya bos, tapi lebih suka bila anak buahnya menjadikan beliau layaknya temannya atau abangnya. Keren kan mantan bos ayah Zaki ni?

Om Setyo, Ayah Zaki juga punya kaos merah kebesaran team Automation itu
Om Setyo di China

Setelah berkenalan dan berakrab-akraban dengan keluarga Om Setyo, kami undur diri dari kediaman beliau. Ransel berisi pakaian sudah saya ungsikan sebelumnya ke kontrakan. Sebelum saya datang ke Jambi, suami memang sudah menyiapkan rumah kontrakan. Sebenarnya hanya melanjutkan kontrakan Bang Anjani, seorang sahabat suami yang sudah pindah ke rumahnya sendiri. Sisa kontrakan masih 1 bulan. Suami saya mengganti dengan Rp 600.000 kala itu, untuk menyelesaikan kontrakan pertahun yang tinggal 1 bulan. Biaya kontrak menjadi Rp 900.000 per bulan ditambah biaya listrik dan air.

Dengan masih menggunakan sepeda motor Om Setyo, kami menuju rumah kontrakan. Letaknya sangat jauh dari mill site, berada di dekat sebuah lapangan sepak bola di pinggiran kampung. Di seberang lapangan sepak bola adalah jurang belukar yang cukup dalam. Tak heran bila dinamakan Kecamatan Tebing Tinggi, wong di sekeliling tempat tinggal kami adalah jurang curam dan hutan akasia.

Rumah kontrakan 6 pintu, bangunan permanen yang baru 1 tahun ini jadi. Masih baru dan gres. Kami menempati rumah nomor 5. Rumah berarsitektur lumayan apik, bercat coklat klasik, tak begitu luas, cocok untuk sebuah keluarga kecil. Bang Anjani dan istrinya meminjamkan beberapa peralatan dapur dan sebuah kasur kepada kami. Alhamdulillah, semua sudah lengkap tersedia, kami hanya tinggal masuk dan menempatinya.

Rumah kontrakan itu letaknya di belakang, jauh dari pemukiman penduduk. Rupanya beberapa rumah masih kosong. Hanya ada 3 rumah yang berpenghuni. Dua buah rumah lain dikontrak oleh anak-anak lajang yang bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan kontraktor pabrik tempat kerja suami saya. Ada belasan anak-anak lajang berusia di bawah 30-an tahun tinggal di samping saya. Saya merasa risih tiap kali keluar rumah untuk menjemur pakaian selalu digoda mereka. Merasa kurang aman dan nyaman berada di sana, suami saya tak ada niat untuk memperpanjang masa kontrak. Beliau bergegas mencari rumah kontrakan lain yang letaknya di dalam kampung, diusahakan dekat dengan pabrik.


Posting Lebih Baru Posting Lama

52 Responses to “Sesuatu Yang Dirindukan (lima)”

  1. om setyo ini kira-kira 11 12 deh sama syah mah...beda tipis gituh...;o)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak pinang diibelah kampak kang lembu..

      Hapus
    2. kira-kira tipis banget ya..sampe nggak kelihatan kalo memang berbeda ,
      eh kang hadi di panggil kang lembu...tadi di blog tetangga di panggil mas lembu.....:-)

      Hapus
    3. kang hadi sama kang lembu juga bagai pinang dibelah dua ehheeh

      Hapus
    4. asyik kayaknya kalau mang lembu sama mang hadi kayak pinang dibelah kampak, lha Pak Ci dan Mas Adi-nya kayak pinang dibelah apa ya?

      Terima kasih kawan, sudah memeriahkan cerita saya, maaf kemarin beberapa hari betul-betul ndak bisa kemari, kabut asap luar biasa pekat dan menyeramkan, fokus bujuk si kecil untuk diam di dalam rumah...juga Ayah e dan Zaki yang demam

      Hapus
    5. Satu di China, yg satunya di cilembu doang... jgagagaga...

      Hapus
  2. keren sekali om setyo ya, hanya slisih huruf O dan A dengan saya. huh.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. O bikin mulut jadi bunder, kalo A lebih mangap, Cak Agus

      Hapus
    2. Pak Agus juga keren kok, setia memakai kereta api sebagai alat transpot keseharian, mirip orang di Jepang ya...andai banyak yang lebih memilih kereta dan angkutan umum lainnya, jalanan bakal sedikit berkurang macetnya.

      kalau E beda lagi lho Pak Pakies...

      Hapus
  3. Balasan
    1. beda 5 tahun maksudnya ya Mas Brebes? !!!!

      Hapus
  4. Balasan
    1. iya iya Pak...sama-sama keren, ngandel kok...

      Hapus
  5. kaya mang lembu saja
    jurnal belum rampung dah diposting
    kenapa ga pasang plang dilarang komen..?
    haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang kalau tak ditampilkan Pak...kemarin siang mau melanjutkan, ternyata Ayah e demam, sakit...Zaki juga rewel pengen keluar rumah, padahal kabut asap lagi serem-seremnya dua hari ini..

      Hapus
    2. bwehehee...
      ditutup kolom komentarnya ada yang ngambek, ditulisin gede2 "jangan dikomenin" malah banyak yang komentar.....
      pake trik baru...artikel sama gambar dipisahin....post gambarnya malah ngga ada yang komentar.....terus gimana lagi coba?...huh

      Hapus
    3. memang, saya nih bandel kok Pak Ci, suruh nggak komen ya tetep nekat...hahaha

      Hapus
  6. udah yang kelima nih postingannya .. saya ketinggalan nih, maklum lagi PPL nih ... doakan lancar yaa ... sukses bloggingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak Nia, bismillah, semoga PPL-nya lancar dan ya Mbak...semoga Adik Hayyu juga pandai diajak kerjasama, Mamanya lagi sibuk...

      Hapus
  7. supirnya baik sekali ya :)
    sederhana dan dermawan pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sederhana dan dermawan itu yang patut diacungi jempol ya Mas...

      sifat lembah manah, andhap asor yang mungkin saat ini mulai langka, banyak cara untuk berlaku sombong dan riak--yang NB bisa menyakiti hati orang yang tak mampu--bagi yang mampu menjaga riak dan membaliknya menjadi rendah hati, itu yang patut dikagumi dari seseorang...

      Hapus
  8. Om Setyo seorang bos tapi tidak mau diberlakukan seperti seorang bos, senang sekali ya mbak mempunyai bos yang demikian

    BalasHapus
    Balasan
    1. hamdalah, tapi itu pengalaman 5 tahun lalu Pak Arif...sekarang, sudah 3 tahun di sini, bahkan saya belum kenal bos ayah Zaki, padahal rumah beliau tak jauh dari tempat tinggal kami

      Hapus
  9. om setyo mau kemana tu? naik kereta api super express,,,,

    mw empek" nya jga mb,,,,

    biasa mb,,,, g da cewek ya? jadi dgodain ,,,
    coba deh mb khus yg godain duluan,pasti mreka g pada berani,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, Mbak Maya pasti sudah sangat terbiasa naik kereta canggih itu...

      empek-empeknya memang uenak tenan lho Mbak, bikinnya pun gampang, segampang bikin kue waffle kok...

      kalau saya, mending sembunyi di kolong tempat tidur, Mbak, daripada disuruh godain cowok2...hehehe

      Hapus
  10. Wah, ketinggalan cerita nih, kemaren bacanya cuma sampe kucing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya juga ketinggalan malah saya kemaren baru baca sampai episode yang ke dua, sekarang udah yang ke lima, jauh banget ketinggalannya hehe...

      Hapus
    2. terima kasih semuanya, ngebut ya saya kemarin?

      Hapus
  11. penampilannya sederhana ya mbak om setyo, kadang orang tidak menyangka kalau itu bos.

    kalau pindah kontrakan entar bilang2x ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. selain keren, beliau juga asyik lho Mbak...

      hehehe, sip Mbak, nanti saya ceritakan saya pindah ke kontrakan baru di awal 2009

      Hapus
  12. kalau menurut saya umur Om Setyo itu 37 jalan...

    bos aya juga penampilannya begitu mbak, apalagi kalau ke proyek biar ndak dimintain uang kali ya... ups prasangka buruk ndak boleh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. 37 jalan ke 40 ya Mang---eh, itu lompat ding, habis 37 ya 38.

      Mamang nih bisa aja, hehehe, lucu. Kalau yang lewat Mang Yono, biar saya yang mintain uang deh...

      Hapus
  13. suaminya pasti gerah ya..istrinya digoda para jejaka pabrik...... makanya cari kontrakan baru.... ditunggu sambungannya ya ...salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Pak Har...kontrakan barunya sudah menunggu di post-nih...

      Hapus
  14. Hadir demi sopir yang baik hari.

    BalasHapus
  15. berkunjung sambil nunggu sambungannya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan, terima kasih atas kesabarannya,

      yang gelar tikar, yang ngopi...monggo lho...

      Hapus
    2. papan caturnya sekalian disiapkan... #eh

      Hapus
  16. menunggu artikel yang ke 6 nya, sambil plarak plirik disini, mana tau ada yang nyuguhin kopi

    BalasHapus
  17. koq saya baru tau ada posting ini sih

    BalasHapus
  18. Kemarin baru beli empek2 di depan rumah, meski mungkin gak aseli palembang, lumayanlah buat "menghajar" ini sariawan... xixixixi...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya