Sesuatu Yang Dirindukan (tiga)


Di guess house itulah kami tinggal selama 2 minggu pertama. Sebenarnya suami saya juga punya mess sendiri yang letaknya di dekat pos utama yang saya sampaikan sebelumnya. Tapi karena statusnya adalah mess karyawan, maka tak diperbolehkan penghuni lain masuk ke dalamnya kecuali sang empunya mess. Bahkan famili atau orang tua karyawan pun tak diperkenankan tinggal di mess. Guess house-lah tempat menginap bagi kami-kami para pengunjung. Tak ada hotel atau apartemen di Lontar.

mess hijau blok d, mess tempat tinggal suami saya


Turun dari bus, hal pertama yang mengejutkan saya adalah "aroma kentut"....lho. Iya, bau menyengat seperti aroma kentut dan suara bising bergemuruh di mana-mana. Aroma kuat itu menusuk hidung saya tanpa ampun. Hanya saya yang bereaksi tutup hidung kala itu. Yang lain, termasuk suami saya sudah kebal sepertinya. Aroma kuat itu berasal dari gas H2S, gas buang pabrik yang keluar melalui cerobong-cerobong asap. Bagi yang belum terbiasa seperti saya kala itu, mencium aroma pahit dan langu itu bisa muntah-muntah atau pening kepalanya. Celakanya, saat ini saya sudah terbiasa dengan bau itu, jadi tak heran lagi kalau ada orang asing kentut di samping saya, mungkin saya tak akan tutup hidung.

Dengan menarik koper saya, suami saya menggandeng saya menyusuri jalan beton yang takseberapa lebar, jalan sempit yang memang diperuntukkan bagi para pedestrian. Kami menuju sebuah office yang berada di sebuah gedung yang letaknya agak tinggi. Kami meniti beberapa anak tangga di depan gedung bercat terang itu. Setelah suami saya mengisi beberapa formulir, seorang petugas berusia kurang lebih 25 tahun berperawakan tinggi kurus menyerahkan sebendel kunci ke suami saya. Kunci guess house. Dengan ramah si abang itu mengantarkan kami hingga di depan pintu guess house.

Guess house adalah sebuah bangunan memanjang berarsitektur sederhana. Satu gedung panjang itu memuat beberapa ruangan, tiap tamu yang menempati guess house berhak atas salah satu diantaranya. Kami menempati ruangan nomor 3 dari depan. Saya tengok, ruangan-ruangan lain tampak sepi, hanya gemuruh suara AC kuno yang mengalahkan gemuruh pabrik dari kejauhan.

Membuka pintu nomor tiga, kami disambut dua buah springbed single dengan sprei putih bersih menutupinya. Satu buah almari besar berada di salah satu sudutnya, satu buah meja berukuran sedang dan satu buah televisi Polytron 20 inch berada di depan springbed, tepat di tengah-tengahnya. Sebuah AC menggantung di dekat pintu, dan sebuah kamar mandi kecil di sudut yang lain. Di sanalah kami menghabiskan waktu 2 minggu pertama kami di Jambi. Tak ada kegiatan lain selain makan, nonton, baca buku dan bengong nungguin suami kerja. Waktu itu suami saya kerja dengan sistem 3 shift. Ada kalanya dia masuk pagi, ada kalanya masuk sore atau masuk malam. Untuk makan, kami jajan di cafetaria yang letaknya tak jauh dari guess house. Menu masakan padang, serba pedas dan santan agak memberatkan pencernakan saya. Lidah jawa saya masih belum wellcome dengan kuliner khas minang. Beberapa kali saya sakit selama tinggal di guess house.


Posting Lebih Baru Posting Lama

27 Responses to “Sesuatu Yang Dirindukan (tiga)”

  1. Hmmm... rumah yang terlihat nyaman... :)
    Enjoy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyaman dan damai, tentrem nggelenggeng

      Hapus
    2. mesti nggak pada baca yang bau kentut di atas itu deh.

      Hapus
    3. setelah tau komen Pak Zach yang satu ini, mungkin Mas-Masnya akan membaca...

      Hapus
    4. bau kentut akan terbiasa karena tiap hari membau H2S tersebut

      Hapus
  2. kalau melihat rumahnya bagus tuh mbak, ndak ada aroma kentutnya kok hehehe... sekarang mbak khusna udah kebal ya sama kentut hehehe... kalau sama kentut yang habis makan ubi bauan mana mbak... kok ngebahas kentut sih hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. lumayan bagus Mang, syukurnya ada AC, jadi aroma kentutnya nggak tercium dari dalam kamar.

      kentutnya ubi mah nggak bau Mang, percaya ndak?

      Hapus
    2. aku udah usul ke mang lembu kemaren
      minta diadain lomba kentut
      tar hadiahnya ubi sekarung...

      Hapus
  3. Nuansa hijau.. :) adem..
    makan nasi padang kalo di jakarta malah kesan nya enak, apalagi sambelnya itu loh..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masakan padang yang di Jawa sudah dimodifikasi sepertinya Mbak, rasanya pun nggak sekuat originalnya. Kalau nasi padang di Jogja saya juga suka. Tapi di sini, nasi padang betul2 menggigit lidah dan lambung

      Hapus
  4. PENJELASAN YANG INI :
    dua buah springbed single dengan sprei putih bersih menutupinya. Satu buah almari besar berada di salah satu sudutnya, satu buah meja berukuran sedang dan satu buah televisi Polytron 20 inch berada di depan springbed, tepat di tengah-tengahnya. Sebuah AC menggantung di dekat pintu, dan sebuah kamar mandi kecil di sudut yang lain. Di sanalah kami menghabiskan waktu 2 minggu pertama kami di Jambi. Tak ada kegiatan lain selain makan, nonton, baca buku dan bengong nungguin suami kerja.
    KAYANYA ADA YANG KLEWAT deh KK....bikin zaki kan?!
    #....kabuuuur

    BalasHapus
    Balasan
    1. huh...khas Pak Ci...kelewat jeli itu namanya.

      glek, jadi ikut-ikut menelan ludah

      Hapus
    2. tanda sangat jelas, kalau saya selalu m'baca tuntas artikelnya tauuuuuu.....;o) ngga seperti yang diatas saya yang bilang "glek" ituh, baca judul langsung baca komentar....halaaa

      Hapus
    3. terima kasih banyak pak Ci, tak ada sesuatu yang mulia dan membahagiaan di blog selain silaturahmi dan perhatian yang tulus dari para sahabat

      Hapus
    4. aku malah bacain komennya mang lembu doang
      yang laen laen lewat lah,...

      Hapus
  5. Bau kentutnya yang tidak nguatin :)
    Bisa berbulan madu lagi jadinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu cerita tahun 2008 lalu Mas... sudah lama, jadul

      kalau tinggal di dekat pabrik kertas, mau nggak mau harus tahan dengan aroma kentu, kadang-kadang aroma harum macam jagung rebus juga

      Hapus
  6. Jadi ingat masa2 awal tinggal di Minas dulu waktu baru nikah mbak. Pengalaman yang mirip :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. di Chevron ya Bund? saya pernah main ke sana, keadaannya jauh berbeda dengan kami, lebih bersih, indah dan teratur

      Hapus
  7. begitu biasa makan manis, terus dikondisikan makan masakan pedas ya Mbak, pasti haha hihi rasanya ya...
    pantesan Mbak Khusna sekarang gemuk. nah, bingung mesti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pedas dan asin tepatnya Pak. Makanya kalau kondangan, saya pilih menu ayam pop saja daripada rendang, gulai jengkol atau menu-menu yang lain. sayurnya juga pilih urap, yang nggak kebangetan hot-nya.

      gemuk ya Pak??? apa jadinya mereka yang beratnya di atas 60 kg kalau saya dibilang gemuk? hahaha

      Hapus
    2. yang dirumah kang zach kan kurus KK...hehehe

      Hapus
  8. betapa kesepiannya mbak khusna, ditempat baru belum kenal medan perang ditinggal kerja pula, hehehe

    BalasHapus
  9. wow, pengalaman yang menyenangkan. yang membuat rasa rindu ku ke Lontar Papyrus lunas sudah. Juni 2008 bersama teman-teman dari USU medan diangkat untuk menjadi pegawai lontar. secara pribadi sangat berkesan pengalaman itu untuk saya. gak nyanka aja harus jauh dari orang-orang yang saya sayangi. hahahahaha. singkat cerita desember 2008 saya mengundurkan diri dari lontar. dan meninggal kan semua pelajaran hidup yang saya pegang teguh hingga hari ini. cerita itu mengingatkan ku untuk semua hari-hari ku di Lontar papyrus. Trimakasih mbak untuk cerita-ceritanya. dari Joni Malau, (Machine Tissue 2)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya