Dampak Gunung Sinabung Meletus Sampai ke Rumah...



Pagi kemarin, Ahad 15 September 2013, pukul 06.00 pagi saya sudah menuntun pelan-pelan sepeda motor butut saya keluar halaman. Pukul 06.00 matahari masih sangat malu-malu menampakkan cahayanya, masih agak gelap, bahkan lampu-lampu jalan masih menyala. Dengan sangat pelan, saya dorong sepeda motor hingga ujung halaman. Saya tak mau suara gaduh engkolan kaki saya membangunkan Zaki yang masih pulas. Suami saya sudah sibuk dengan beberapa buku dan laptop yang menyala. Ke mana saya pergi? Ahhh, ke mana lagi ibu-ibu pergi di pagi buta seperti itu kalau bukan ke pasar. 

Minggu pagi jadwal rutin saya belanja aneka kebutuhan dapur ke pasar. Sebenarnya tak perlu jauh-jauh ke pasar, di Town Site I ada sebuah kedai yang lengkap menjajakan aneka kebutuhan dapur, mulai dari sayur, ikan, bumbu-bumbu, buah-buahan, dan lain-lain, tapi saya selalu malas berdesak-desakan dan rebutan belanjaan dengan pembeli lain. Begitu nenek pemilik kedai pulang dari kulakan di pasar, 2 jam kemudian barang ludes habis, hanya menyisakan beberapa saja yang sudah lusuh atau rusak tak layak jual. Maklum, diantara ribuan penghuni komplek, cuma ada 1 kedai doang, nggak sebanding tentunya. Harga yang ditawarkan juga lebih mahal, monopoli harga. Sebagai contoh, di pasar harga ikan nila berukuran sedang Rp 25.000, di kedai harganya menjadi Rp 28.000, aiih males banget seperti itu. Sebagai emak-emak tulen, tentu saya lebih memilih belanja di pasar dong...

Pukul 06.30 saya sudah sampai Pasar Baru, sebuah pasar tradisional yang lengkap menyediakan aneka kebutuhan masyarakat Pangkalan Kerinci dan sekitarnya. Langsung saya menuju loss ikan laut. Saya beli beberapa potong daging ikan tuna. Kemudian saya beralih ke loss ikan sungai, saya beli seekor ikan gabus berukuran cukup besar, setelah minta dipotong-potongkan, saya beralih ke tempat jual ayam. Beberapa dada ayam saya beli, rencananya hari itu saya mau masak soto ayam. Selesai dengan ayam dan ikan, saya mencari bumbu-bumbu dapur. Cabe, bawang merah, bawang putih dan aneka rempah. Tak banyak yang saya beli, kira-kira untuk kebutuhan seminggu saja.

Pukul 07.00 saya sudah keluar dari pasar. Sengaja tidak beli sayuran di pasar. Beberapa bulan ini saya lagi kesengsem dengan aneka sayuran dari Tanah Karo, Sumatra Utara. Di perjalanan pulang, saya mampir ke kedai sayuran yang terletak di Jalan Lingkar, sebuah jalur jalan baru yang akan dibangun sebagai jalan alternatif ke arah Jambi. Di kedai itulah saya biasa membeli sayuran. Bibi si pemilik kedai yang merupakan perantau asal Kabupaten Karo selalu mengambil sendiri aneka sayuran dan-buahan dari kampung halamannya  sana. Seminggu sekali beliau dan suaminya membawa truknya untuk mengambil hasil bumi Tanah Karo ke Kerinci. Sabtu malam, pasokan sayur dan buah itu sampai di sini.

kedai si Bibi Karo



Pukul 07.30 saya sampai di kedai si Bibi Karo. Tepat. Aneka buah dan sayur segar sudah berbaris rapi di meja dan keranjang-keranjang. Dengan ligat saya memilih aneka sayuran seperti baby kol, wortel, kacang ercis, terung, dan labu siam. Untuk buahnya, saya selalu memilih jeruk berastagi sebagai buah andalan keluarga saya. Sekali beli langsung 2 kg. Selain itu, pisang barangan juga menjadi buah kesukaan keluarga. Untuk Zaki dan ayah tepatnya. Kadang, kalau lagi musimnya, si Bibi membawa juga buah-buahan khas Tanah Karo misal markisa, buah bit dan terung belanda. Harga yang ditawarkan Bibi jauh berbeda dengan pasar, lebih murah. Misal jeruk berastagi ukuran sedang di pasar Rp 15.000/kg, di tempat Bibi hanya dijual Rp 13.000/kg. Tapi untuk aneka sayuran, harganya relatif sama. Cuma, sayuran Tanah Karo memiliki kesegaran dan cita rasa yang khas, beda dengan sayuran di pasar yang sebagian besar berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat yang cenderung hambar. Ditambah lagi sayuran dari Tanah Karo banyak ulatnya, yang artinya di sana minim penggunaan pestisida. Malahan si Bibi bilang kalau petani di kampungnya cenderung menggunakan pupuk alami dari kotoran ternak.

jeruk berastagi

buah bit

baby kol, mungil banget ya...

Nah, waktu lagi asyik-asyiknya saya berburu jeruk berastagi di keranjang besar, si Bibi menerima telepon dan sejurus kemudian beliau terduduk dengan lemas.
"Kenapa Bi?" tanya saya
"Aduh anakku, anakku..." beliau biasa memanggil saya dengan sebutan "anakku"
"Ada apa Bibi?"
"Gunungku meledak anakku..." dengan logat Batak yang khas
saya nggak paham sama sekali apa yang beliau maksudkan
"Gunung...?"
"Itu...Gunung Sinabung meledak, adikku yang telpon. Saudara kami kakak beradik tinggal di situ..."

Kemudian beliau menceritakan tentang keluarganya yang hidup dari bertani di sekitar Gunung Sinabung tersebut. Bahkan barang dagangan yang dibawanya pun berasal dari sana...mungkin minggu depan, atau bulan depan si Bibi belum bisa mengambil sayuran atau buah dari Karo. Andaipun bisa, tentu tak sebanyak biasanya.

Gunung Sinabung (gambar dari ROL)

Semoga masyarakat Tanah Karo yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Sinabung selamat. Kabarnya Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Karo belum dibentuk, jadi masyarakat mengungsi secara mandiri.



Posting Lebih Baru Posting Lama

35 Responses to “Dampak Gunung Sinabung Meletus Sampai ke Rumah...”

  1. saya cuma miris sih Mbak, masa saat meletus itu, ada 20 orang yang sudah terlanjur mendaki. emang gejala gunung mau meletus nggak ketahuan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. innalillahi wainna ilaihi rooji'uun.
      semoga bisa berlindung dan selamat mas...

      Hapus
    2. klo yg saya liat di tv td pagi, para pendaki itu sebenarnya merasakan getaran tp belum menyadari klo gunungnya meletus, dan tetap naik ke puncak utk melihat matahari terbit

      Hapus
    3. semoga para pendaki itu selamat...

      Hapus
    4. hamdalah, membaca berita di beberapa portal news, para pendaki tersebut berhasil di selamatkan...Pak Zach sebagai pendaki, tentu sudah sangat paham bahayanya naik gunung ya, gunung yang tak meletus aja sudah sangat menantang, apalagi yang sedang meletus kaya Sinabung

      Hapus
    5. alhamdulillah saya lega mendengar kabar dari mbak khusna

      Hapus
    6. yang gemar mendaki semestinya peka lah
      dari perilaku binatang dan hawa udara juga udah kerasa kok kalo mau meletuy

      Hapus
  2. ternyata monopoli harga memang terjadi di mana-mana ya mbak, tak kira to cuma importir kedelai aja yang bisa monopoli harga, hehe.
    sama dengan istri saya, membeli di kedai atau bakul blonjo dekat rumah lebih mahal (mahalnya kebacut) dari pada di pasar. huh...

    semoga saudara kita yang ada di lokasi gunung sinabung dapat di evakuasi semua dengan slamat

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. semoga warga yg sedang melakukan evakuasi selamat semuanya.

      Hapus
    2. naluri ibu-ibu di manapun sama ya Pak, selalu mencari harga yang miring, apalagi untuk kebutuhan pokok.

      aamiin, semoga para warga berhasil dievakuasi pada saat yang tepat

      Hapus
    3. karena aku hanya berdua dengan akang, jadi ga begitu repot untuk belanja ke pasar. Cukup beli aja, kalo masak malah jatuhnya suka ga kemakan juga. Bukan karena kebanyakan, tapi karena aku ga bisa masak jadi rasanya ga enak...hahaha..

      lagian lebih irit, dapur bersih, sabun cuci utuh, bumbu irit, dsb.. hehehe.. jane males tenan nek masak kui...:P kalo udah bosen beli, baru masak deh di rumah :)

      semoga tidak ada korban jiwa dengan meletusnya gunung sinabung..amin

      Hapus
    4. saya sempat Mbak Ay banget, waktu Zaki masih kecil, repot banget si anak belum bisa diajak kerja sama, belum bisa ditinggal kerja ini itu, jadi solusinya ya kateringan...sebulan dua bulan bosen juga, ganti katering di tempat lain, sama juga, akhirnya setelah anak umur 1,5 th baru masak sendiri

      aamiin

      Hapus
  3. wah ceritanya belanja, ujung-ujungnya cerita Emak Karo yang kelimpungan, yah semoga keluarganya selamat.

    Bener sekali, sayur yang berlubang,ukuran lebih kecil memang cenderung lebih alami karena pengolahan dengan sisitem organik. Makanya saya nggak tergiur sayur gobis yang gedhe seger, kacang panjang yang ijo mengkiap dan seger, lombok yang mulus dan gemuk semua banyak mengandung bahan kimiawi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, menanam dengan sistim organik memang membutuhkan karyawan banyak makanya agak mahal... misalnya untuk membasmi ulat yang menyerang sayuran, tuh si ulat di ambilin pakai tangan atu - atu, ndak seperti tanaman yang pakai obat kimia yang tinggal semprot tuh ulat pada terkapar dan tewas seketika... betul tidak?

      Hapus
    2. hihihi, maklum Pak Ies, ibu-ibu selalu begitu...

      iya betul banget tentang tanaman yang tumbuh tanpa pupuk kimia memang kerdil, tapi kalau ditanya rasanya...wuih, pasti pada milih tanaman organik atau alami Pak, rasanya lebih manis dan awet disimpan dalam waktu lama di lemari es.

      Mamang, sayuran organik bagus buat kesehatan juga tentunya, walaupun banyak ulatnya dan kadang bikin geli, tapi tak terbayar dengan perasaan yang plong dan tenang saat menyantapnya

      Hapus
    3. kalo predator alaminya bisa dilestarikan sebenarnya ga perlu dicomotin satu satu. sayangnya anak sekarang ga tahan lihat burung, main tembak saja. persis kaya dulu orang suka nangkepin ular sanca. efeknya tikus merajalela di sawah...

      Hapus
  4. kirain ada abu yang sampe ke riau...eh ternyata dampaknya dari sayurannya yah hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dampak dari bibi penjual sayuran mas.

      Hapus
    2. iya Pak El, sayuran dari Karo rasanya lebih segar dan manis lho...

      Si Bibi lagi bersedih Mang, saudaranya banyak yang tinggal di dekat Sinabung

      Hapus
  5. ooow gunung sinabung, kirain wkwkwk... moga aja tidak ada letusan susulan ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, semoga aman terkendali Mas Agus

      Hapus
  6. Iya mbak nisa emang gn. Sinabung lagi meletus.
    rumah mbak kena ya?
    Ya Allah . . .
    moga cepet pulih ya kondisi di sekitar sana



    Mbak nisa... apa kabar?
    Kangen loh berbagi cerita lagi hehehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau rumah kami aman Mas Indra, kan di Riau...pasoka sayuran di sini aja yang kena dampak, soalnya saya suka banget sayuran dari Tanah Karo.


      Hamdalah kabar baik Mas, semoga demikian juga dengan Mas Indrayana...

      Hapus
  7. Semoga masyarakat Tanah Karo yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Sinabung selamat... Amiin.

    saya naksir bayi kol, mungil dan mini.. apa sengaja dibikin mungil atau terkena dampak seperti tahu dan tempe yang makin mungil dan ramping ehheeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin doanya Mang...

      baby kol, katanya karena di sana nggak memakai pupuk, jadi daun kolnya mungil-mungil, begitu Mang...

      Hapus
  8. aamiin ya Alloh...
    btw,athar ga suka buah bit tuh mbak.. padahal bagus ya..
    gimana ya caranya biar mau..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga nggak suka buah bit Mbak, geli memakannya, mulut jadi belepotan kayak makan darah saja...tapi bagus untuk kesehatan Mbak, coba di jus aja buat adik Athar

      Hapus
  9. Semoga gak menelan korban atas meletusnya gunung sinabung ya mbak.

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. insha Alloh warga sekitar sudah dievakuasi kok Mas FR

      Hapus
  11. Namanya bencana Alam selalu sulit di perkiraksn kan terjadi .... Yg perlu dilatihnys masyarakat bagaimana cara penyelamatan diri dgn tertib

    Wah sayur2.....menggoda, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Bunda, masyarakat sekitar harus tanggap ya.

      hehehe, Bunda selalu gemes lihat sayuran ya...kayak saya Bund...atau memang semua ibu-ibu kayak gitu ya? salam Bund, semoga sehat-sehat

      Hapus
  12. ngeri banget ya mbak,,,, masa ampunn,, semoga gak terjadi apa apa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya