Karyawan Bertatto


Bagaimana reaksi kawan-kawan jika melihat orang bertatto, baik itu hanya tatto kecil di tengkuk, di lengan, maupun tatto besar segede gaban yang hampir menutupi sekujur kulit? Pastinya macam-macam dong ya. Ada yang suka dan ada pula yang tak suka bahkan ogah dan jijik berdekatan dengan orang bertatto, apalagi menjalin hubungan khusus. Sejak beberapa hari ini otak saya digelayuti beberapa pemikiran tentang orang bertatto yang saya lihat lagi nyuci kendaraannya di depan rumah beliau. Daripada membuat kontroversi hati yang mengganggu, mending saya tulis saja di sini. # ups keceplosan, kayaknya virus Vicky mewabah nih...

Sore itu kami bertiga pergi ke Kerinci kota. Ngapain? Zaki beberapa kali komplen sepedanya kebesaran, ketinggian, sering jatuh waktu berbelok. Sore itu dia sudah benar-benar nggak tahan lagi pakai sepeda merahnya. Dia minta dibelikan sepeda baru. Setelah menimbang-nimbang, sepedanya memang belum cocok untuk anak usia 4 tahun, mestinya sepeda itu untuk anak usia 6 tahun atau lebih besar lagi. Walaupun sudah pandai Zaki memakainya, tapi kedua kakinya belum bisa menggayuh tanah untuk menjaga keseimbangan. Roda bantu berfungsi waktu si pemakai kalem saja, bila ngebut dan berbelok dengan tiba-tiba, roda bantu tak akan begitu berguna karena salah satu roda tentu akan terangkat ke atas. Nah saat-saat itulah yang paling rawan, biasanya Zaki akan terjatuh kala sepeda berusaha mengikuti gaya dorong dari laju sepeda yang tiba-tiba berbelok tajam....halah kok malah mbulet gini sih...intinya, Zaki pengen sepeda baru yang ukurannya lebih kecil.

Jadilah kami ke Kerinci untuk beli sepeda yang ukurannya lebih kecil. Pulang dari toko sepeda, sampai di Pos utama Town Site I, kami diberhentikan oleh seorang security. Saya pikir karena membawa sepeda dan harus minta izin dulu ke kantor security, sama seperti membawa barang-barang ke luar komplek. Ternyata bukan. Seorang security yang sudah lama akrab dengan ayah e minta tolong. Beliau ingin meminjam nama ayah Zaki untuk ikut lelang mobil di pabrik. Ada sekitar 30 atau 40 mobil operasional pabrik yang dilelang. Tapi syaratnya harus karyawan yang ikut lelang. Tak boleh yang lain. Akan susah karena kebanyakan karyawan tak berminat dengan mobil-mobil yang dilelang, walau kebanyakan mobil-mobil itu masih bagus, masih sangat bagus malah menurut saya. Ya wes lah, akhirnya nama Berkah Romadhoni ikutan lelang mobil...namanya doang.

Apa hubungannya dengan tatto? Nah, perjalanan selanjutnya, memasuki komplek karyawan, melewati rumah-rumah, saya melihat seorang bapak berbadan tinggi besar telanjang dada sedang mencuci kendaraan beliau. Bukan Vios nya yang saya perhatikan, tapi tatto besar di punggung dan lengan beliau yang saya lihat. Eh, ternyata ada juga to karyawan pabrik yang bertatto, kirain cuma ekspatriat atau bule-bule saja yang bertatto. Bule-bule yang biasa lewat depan rumah kami untuk jogging, yang biasa dadah dadah dengan Zaki kala Zaki berteriak "Hallooooo...!!!". Si om bule punya tatto kecil di betisnya. Juga beberapa bule lain yang saya lihat bertatto.

Penasaran sungguh, sampai rumah saya langsung tanya sama suami saya.
"Yah, ada ya karyawan yang bertatto..?"
Seperti biasa, dengan sangat kalem dan agak cuek suami saya bilang bahwa di pabrik memang ada beberapa karyawan yang bertatto, bahkan tindikan. Hal itu bukan masalah bagi perusahaan swasta, karena bukan penampilan yang diutamakan, tapi skill atau kemampuan. Nggak ada gunanya dong berpenampilan perlente, rapi, bersih dan wangi kalau tak punya kecakapan kerja. Lebih bagus yang bulukan, agak kemproh, jarang mandi--eh keceplosan--namun mempunyai skill yang dapat diandalkan. Termasuk tatto. Bertatto terkesan sangar, serem, kejam dan mengerikan. Tapi beda kasusnya, di sini orang-orang yang bertatto malah pintar, beretos kerja tinggi dan totalitas dalam bekerja.

So, bagaimana tanggapan kawan-kawan mengenai orang bertatto? Walau saya tentu memilih orang yang berprestasi namun tanpa tatto daripada orang berprestasi yang bertatto. Dalam Islam sendiri, sudah sangat jelas ditunjukkan dalam Al Qur'an surah An Nisa ayat 119 dan sebuah hadits soheh yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rosulullah bersabda:

"Alloh mengutuk seseorang yang menyambungkan rambut seorang wanita, dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, orang yang membuat tatto dan orang yang minta dibuatkan tatto."


Sekedar pembelajaran saja buat saya khususnya, bahwa dalam bergaul dengan orang banyak, yang berbeda suku, berbeda etnis, negara ataupun agama, kita tak boleh menilai seseorang dari penampilan luarnya. Termasuk orang yang bertatto. Semoga anggapan akan orang bertatto sedikit berubah setelah membaca cuilan kisah saya ini.



Posting Lebih Baru Posting Lama

62 Responses to “Karyawan Bertatto”

  1. mungkin pecinta seni.... dan ndak punya kertas untuk menggambar... padahal kan kerjanya di pabrik kertas ya mbak ehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti kari kemarin saya amankan dulu pertamaxnya.... xixixi

      Hapus
    2. ketumpahan air mendidih kali, jadi membekas

      Hapus
    3. aku punya tatto emping loohh...hihihihi
      kupingku juga ditindik.. no problemo..:D

      emang bener di agama dilarang mempunyai tatto, tapi blom tentu juga yg bertato itu hatinya jahat..
      kadang wajah dan hati berbeda jauh, wajah perlente kadang hatinya lebih jahat...sedangkan wajah rambo malah hatinya rinto...mendayu2 dan gampang nangis..:D


      Hapus
    4. cengeng gitu ya Mbak kalau gampang nangis??

      Hapus
    5. karena liaht sinetron sih mas

      Hapus
    6. Mamang, mungkin bosan pakai kertas mulu, jadi pakai kulit tubuh...kok ndak pakai tembok sekalian ya?

      eeh, Pak Agus penggemar sinetron ya? copas--cowok penggemar sinetron hehehe

      Hapus
  2. itu soal pilihan kan. kalo yang muslim tentu juga udah ngerti bagaimana konsekuensi sekaligus risiko yang ada terkait dengan thaharah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. prihatin kalau melihat umat muslim turut ketularan bikin tatto...mungkin belum paham makna larangan bertatto.

      Hapus
  3. temen2 saya juga banyak banget yang pake tato, dan saya sih asyik aja, cuma peran kita kan mengingatkan kan... biar mereka nggak sesat selamanya. kalo diingatkan nggak mempan juga, ya sudahlah, itu kembali ke pribadi masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaman suharto dulu sering memburu (petrus) orang bertato

      Hapus
    2. Kang Zach sudah menjalankan kewajiban dengan baik dan benar

      Hapus
    3. betul banget, kewajiban kita adalah mengingatkan yang bersangkutan, tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan dia tentunya. walaupun sulit, dengan berjalannya waktu, mereka akan sadar juga...semoga

      Hapus
  4. ga ada masalah sih dengan tato, kita saja yang suka menganggap tato itu identik dengan orang jahat. padahal banyak yang menganggap itu sebagai seni.

    ga tau kalo staf di bagian yang membutuhkan penampilan rapi seperti customer service, soalnya belum pernah liat sih cs bertato. kalo bagian teknik banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaman suharto dulu tato identik dengan preman

      Hapus
    2. wah Cak Agus penggemar berat iklan "enak jamanku to..."

      Hapus
    3. apalagi di tempat saya bekerja hampir semua tukang las bertato entah tato bikinan atau tato kena percikan api las... keren kan

      Hapus
    4. andai staff bertatto, sudah pasti itu cs studio tatto ya...

      memang Pak Raw, pandangan pertama sangat menentukan, apalagi dalam jual beli. kalau dilihat gedung atau officenya nggak meyakinkan, ya lewat...kalau cs-nya nggak menarik atau terkesan sangar, ya pelanggan berpaling...

      percikan api lasnya gambar naga geni ya Mang...

      Hapus
  5. kalo saya,tergantung tattonya mbak..
    kalo tato2an kayak mainan anak2 sih ya malah lucu..hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sih mainan keletan atau stiker seribuan

      Hapus
    2. hadiah permen karet ya Mbak, kadang anak yang kulitnya sensitif terus iritasi dan gatal-gatal. anehnya bekas gatal itu berbentuk mirip dengan tatto yang ditempelkan, ngecap...

      Hapus
  6. Sampai sekarang saya masih merinding aja ngeliat org bertato....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau tatonya bergambar telur ceplok masak masih merinding ?

      Hapus
    2. tatto telur ceplok dinosaurus, kan ngeri, super gedhe

      Hapus
    3. katanya telor banyak juga bisa bikin ngeri

      Hapus
    4. ngeri dan merinding ya Bund. saya belum pernah punya teman bertatto, makanya dulu selalu ngeri melihat mereka...

      telur ceplok mah nggak nakutin Pak Agus, tapi kalau menggoreng telur, itu baru ngeri...kecipratan minyak panas...

      Hapus
  7. kalo menurut saya sih walopun orangnya baik, kalo tatoan ya ngga baik juga, mungkin kalo sudah terlanjur mending dihapus saja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang bisa tato dihapus? dikuliti mungkin mas . hehehe

      Hapus
    2. hapusnya pakai apa Pak El...katanya disetrika gitu? hiii serem...

      Hapus
    3. sepertinya orang bertato lebih ber.etika di banding si agus ini,, bisa nya hanya menghujat.. itu namanya membesarkan masalah dan kesalahan orang lain,, tanpa sadar lebih banyak intropeksi pada diri sendiri,,, TRIMS!

      Hapus
    4. oalah agus-agus, ngoco sek lek sak durunge nyangkem

      Hapus
  8. memang gak semua org yg bertato itu jahat,
    tapi lebih baek gk bertato deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget Kawan, lebih baik orang yang nggak bertatto, saya setuju banget

      Hapus
  9. saya juga suka pake tatto mbak.. kalo datengin khusus di rumah bayarnya 150rb sampe 200rb.. tapi natonya pake henna,, heuheuheuheu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. halah....dioser-oserno nok pawon nganggo areng ae mbak, gak sah mbayar...ahihihihihi

      Hapus
    2. bikin sendiri bisa lho Mbak...pakai daun inai...di sini banyak yang nanam daun inai, ditumbuk terus dimasukkan ke plastik, dilubangi ujungnya, kayak menghias kue tart itu...

      Hapus
  10. saya kurang respek dengan orang bertato dan orang laki-laki tindikan.
    tapi tidak menjelekkan cuma kurang suka saja baik itu dinilai dari seni atau di nilai dari apa lah. Apalagi kalau mengendarai motor di belakang ada cewek bertato tepat diatas (maaf) pantatnya dan kelihatan sak celana dalamnya, bikin pusing melihatnya. hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awas jangan diterobos loh mas Agus... x.x

      Hapus
    2. lebih pusing lagi kalo begitu ngengok ternyata nenek-nenek.

      Hapus
    3. biasanya kalau melihat publik figure yang ketahuan punya tatto, saya langsung kecewa. misal si Sule yang ternyata di lengan ada tattonya, langsung ilang simpatiknya Pak..

      Hapus
  11. Bg saya sih tato/tidak sm sekali gk berhubungan dg skill/inteligensia, hanya berhubungan dg iman atau tidak... #halah_komen_sok

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sih Pak. tapi kita tak bisa memukul rata kalau yang dihadapi orang asing misal bule-bule yang sering lewat depan rumah atau makan bareng di food court...

      Hapus
  12. jika bertato dan menyambung rambut tidak diperbolehkan, ini sebenarnya sudah sangat jelas akan ada banyak mudhorot dibanding kemanfaatannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar Pak Ies, namun banyak orang yang nggak mau tau dengan mudhorotnya, malah menafikkannya, atau acuh saja.

      Hapus
  13. Benar juga mbak penampilan bukan menjadi tolak ukur suatu kemampuan seseorang, salam kenal ja mbak , ternyata kita tetangga ya tetangga propinsi maksudnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga Mas...memang Mas Arie tinggal di mana?

      Hapus
  14. yang penting kan skill ya mbak, bukan sikil

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe Mas Rizal bisa aja. sikil kan untuk main bola Mas...

      Hapus
  15. Balasan
    1. petrus apaan sih? penembak misterius ya? wah saya nggak ikut-ikutan deh, lagi banyak polisi yang jadi korbannya

      Hapus
  16. kalau di tempat saya, tatto itu seni Mbak. banyak pegawai yang bertatto. bahkan ada anggota dprd yang bertatto. kenapa saya tau, karena anggota dprd itu temen saya..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheehhe..berarti tato sudah merakyat dong mas

      Hapus
    2. seni memang luar biasa ya Mas Ks, terutama di Bali, yang masyarakatnya sangat menjunjung seni dan culture...

      Hapus
  17. Kita dari kecil juga udah diajarin mentatto meski cuma tatto temporer hadiah permen karet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya Lik, malah tattonya nggak sehat pula, bikin alergi dan gatal-gatal...salah satu cara promosi produk kali ya...

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya