Sesuatu Yang Dirindukan (enam)



Awal tahun 2009, kami memutuskan untuk pindah rumah kontrakan. Cukup sulit mencari rumah kontrakan di tengah hutan yang minim perkampungan. Hanya daerah sekitar pabrik saja yang banyak ditinggali orang, selebihnya adalah hutan dan semak belukar. Dengan berjalan kaki keliling mencari informasi, akhirnya suami saya menemukan sebuah rumah kontrakan. Sebuah pilihan tepat untuk tinggal di rumah itu daripada tinggal di kontrakan sebelumnya yang tak aman.

rumah papan ini...

Sehari sebelum pindahan ke "rumah baru" saya jatuh sakit. Badan oyong dan sangat lemah, bahkan untuk sekedar menegakkan badan saja saya tak mampu. Jika ingin berjalan, saya harus merayap dan merapatkan tubuh saya ke dinding, pandangan mata berkunang-kunang luar biasa. Suami saya segera memapah saya ke puskesmas--waktu itu kami belum punya sepeda motor jadi kemana-mana masih jalan kaki, setelah diperiksa dokter dan test urine...subhanallah, SAYA HAMIL 3 MINGGU...sungguh sangat bahagia kami berdua. Tak henti-hentinya mulut ini bertasbih memuji-Nya.

Keesokannya saya terbaring lemah di tempat tidur, sedang suami bolak-balik dari kontrakan lama ke kontrakan baru untuk memindah barang-barang. Tak banyak barang kami, hanya koper berisi pakaian dan buku-buku, 3 buah piring, 2 buah mangkok, beberapa sendok dan gelas, tempat air minum, kompor dan tabung gas dan 2 buah panci masak. Sungguh sangat minim perlengkapan rumah tangga kami.

Sampai di tempat kontrakan baru, hati saya seperti diiris-iris sembilu melihat keadaan rumah kami. Saya sangat terharu dengan kondisi suami saya. Tak bisa membayangkan, seumur hidup beliau tinggal di tempat mapan dengan segala fasilitas dan kemudahan, mau bepergian tinggal tarik gas, menginap pun di hotel kelas atas...di sini, beliau rela tinggal di tempat seperti ini. Berbeda dengan saya, tinggal di tempat seperti itu bukan masalah besar, di desa saya masih banyak tempat-tempat seperti itu, bukan hal baru bagi saya.

Dengan keadaan yang sangat lemah dan setiap hari mengalami morning sickness, saya tak banyak beraktivitas. Belum ada listrik waktu itu, karena di Tebing Tinggi PLN belum menjangkau. Sedang pabrik yang menghasilkan energi lebih dari 20 mega watt dari turbin gas, steam turbin dan lainnya tak menjual listriknya ke PEMDA, beda dengan di Riau ini, pabrik menjual listrik ke PEMDA dan dikelola untuk masyarakat Pelalawan. Di Tebing Tinggi, warga hanya mengandalkan lampu minyak atau senthir untuk penerangan, beberapa yang mampu membayar, mereka berlangganan listrik dari pengelola diesel. Termasuk kami yang langsung "tarik kabel" ke rumah. Hanya 3 titik lampu yang kami pasang, dapur, ruang tamu dan kamar tidur. Per titik lampu dikenakan biaya Rp 75.000. Itupun cahaya lampunya tak bisa seterang ukuran waat-nya, tetap redup dan sering mati. Untuk memasak nasi pakai rice cooker atau menyetrika pun tak kuat, daya listrik yang dihasilkan terlampau lemah. Sebulan kami harus bayar Rp 225.000 untuk 3 titik lampu redup di rumah kami.

Siang saat suami kerja, saya hanya tergolek lemah di tempat tidur sempit yang tiap malam harus berdesak-desakan dengan suami kalau tak mau salah satu dari kami terguling jatuh ke lantai. Atap seng yang sebagian sudah berkarat dan berlubang itu sangat pintar menghantarkan gelombang panas rupanya. Gerah dan panas di dalam rumah seperti di dalam oven saja. Di Jogja, tak pernah kami merasakan udara yang sepanas itu. Hanya dalam beberapa hari, sekujur badan saya merah-merah karena biang keringat. Semakin digaruk, semakin gatal yang terasa. Andai punya kipas anginpun tak akan ada gunanya karena pengelola diesel selalu mematikan listrik di siang hari. Lampu hanya akan menyala dari pukul 18.00 sore hingga pukul 07.00 pagi saja.

Di tengah tenangnya berbaring, sering badan saya terusik oleh kecoa, kelabang, kaki seribu bahkan kadal salamander yang masuk rumah. Lantai semen yang keropos-keropos dan dinding papan yang sudah rapuh menjadi pintu masuk bebas bagi para serangga usil itu. Bahkan masih ingat, di ruang tamu kami yang berukuran hanya 2mx3m, ada sebuah sarang semut api di bawah lantai. Tiap kali dibersihkan, ratusan semut itu akan datang lagi dan berbaris rapi masuk ke celah sempit di balik retakan lantai...oooohhhh.

Untuk menghindari serangan serangga, koper kami ungsikan di mess suami. Beberapa buku berharga dan alat-alat masak elektronik juga kami simpan di sana karena tak ada gunanya kami bawa ke kontrakan. Sebagai ganti tempat pakaian, kami gunakan kardus bekas mie instan. Khusus untuk seragam kerja saya gantung di dinding kayu. Tak bisa saya lipat di kardus, biar tidak kusut, kalau kusut tak mungkin kami bisa menyetrikanya. Sebulan sekali kami baru berjalan kaki ke mess di mill site hanya untuk menyetrika baju atau mencuci pakaian.

Ketersediaan airpun sangat sulit di Tebing Tinggi. Kami harus membeli air dari mobil penjual air keliling yang menjajakan air dari rumah ke rumah. Satu drum air dipatok harga Rp 5.000. Dalam sehari, dengan penggunaan yang sangat hemat, kami bisa menghabiskan 1,5 hingga 2 drum air, bila plus mencuci pakaian, bisa 3 drum air, artinya Rp 15.000 untuk memenuhi kebutuhan air dalam sehari. Dalam sebulan, sekitar Rp 700.000-Rp 900.000 kami anggarkan untuk membayar listrik, kontrakan dan air. Padahal waktu itu status ayah Zaki masih trainee yang belum digaji, hanya uang saku saja yang diterima.

Beberapa kali orang tua kami ingin menjenguk kami. Tapi dengan halus, suami saya selalu menolak kedatangan mereka. Bukannya kami tak ingin dijenguk, tapi bila orang tua kami melihat kondisi kami, yakin kami akan disuruh pulang saja ke Jawa dan mencari kerja di sana. Tidak! Bukan itu yang kami inginkan. Kerja di pabrik bagi suami saya sangat penting artinya. Semua kesulitan dan kerumitan digital control system mesin-mesin besar menjadi tantangan yang menyenangkan bagi suami saya. Jelas beliau tak mau meninggalkan pekerjaan berharga itu, pekerjaan yang hampir tak bisa ditemui di Jogja dan sekitarnya. Mungkin bila ada yang sebanding dengan Jambi, di Gresik-lah tempatnya.


Insha Alloh saya sambung lain waktu...Bismillah, semoga hari ini kita semua dilimpahkan kemudahan dalam urusan, kesehatan, kebahagiaan dan hati yang lapang...aamiin.



Posting Lebih Baru Posting Lama

71 Responses to “Sesuatu Yang Dirindukan (enam)”

  1. Aduhhh, "kisah lama" (selalu) indah utk diceritakan... Dan saya sekeluarga sdg menjalani "kisah lama" ini meski tdk sgt "seram" spt yang mbak alami.

    Hehe, salam sukses selalu bt keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau kisah hidupku masih dibawah terus nih, kapan naiknya ya ?

      Hapus
    2. terima kasih Pak Pri, sukses juga untuk Bapak dan keluarga.

      Kalau ingat semua kejadian itu, rasanya ingin menangis, bukan karena sedih tapi karena prihatin dengan penduduk asli sana Pak. bersyukur saya cuma pendatang yang punya kampung halaman, lha mereka mau nggak mau harus dan memang di situ, dengan segala keterbatasan yang ada.

      Kalau Mas Dj kan dibawah lereng Merapi, iya kan?

      Hapus
  2. Balasan
    1. aamiin ya Rabb----sejuknya kala mendengar soerang sahabat turut mengamini doa kita

      Hapus
  3. Menarik kisahnya.... Semoga selalu dalam ridho dan lindungan Allah....

    BalasHapus
  4. wahh ini dia mengingatkan saya.
    saat saya pertama kali ngontrak di pasar minggu-jakarta, lalu ibu dan bapak mertua mau nengok, justru saya sangat welcome. bener juga Mbak, begitu beliau datang, mereka menangis melihat puterinya yang tinggal di rumah petak berupa rumah papan.
    saat itu saya bilang, Insya Allah ini memang fase yang semua orang harus alami. ini akan mendewasakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tun kan.....air mata mertua kan do'a ya kang...

      coba liat sekarang...isi digarasinya?

      cuman anak presiden baru kawin siap segalanya ya kang...?

      Hapus
    2. sekarang serba ada ya kang...

      Hapus
    3. Bismillah, semoga usaha dan upaya kita dari titik kecil ini mampu menjadi pengingat dan penyemangat untuk kehidupan kita kelak, aamiin.

      Bu Chio tentu saat itu juga haru biru ya Pak, melihat kedua ibu bapak beliau menangis sedih...saya nggak tega membayangkan orang tua kami sedih memikirkan kami...

      andai anak presiden mau tinggal di rumah papan dengan segala keterbatasannya, itu baru keren Pak Ci...

      yang serba ada itu bukannya toko Mang? Toserba gitu? hehehe

      Hapus
  5. Saya dulu di Pontianak waktu manten anyar juga dikontrakan dengan segala kelebihannya. Lebih sabar dan lebih nrimo, saking terbatasnya isinya. Tapi apapun yang kita miliki, semua serasa disurga. Gimana enggak, bulan madu berdua ditempat sendiri meski cuman ngontrak.
    Tapi begitulah, semua angka mesti dimulai dari 0

    BalasHapus
    Balasan
    1. bulan madu bisa guling guling sampe keluar rumah kontrakan ya kang...hehehehe

      Hapus
    2. hamdalah sekarang semua hanya tinggal kenangan manis ya Pak Pakies, saya yakin, putra-putra Pak Pakies pasti sangat bangga dengan kedua orang tua tauladan mereka...

      kok Pak Ci malah tau sih...wah, jangan-jangan...??? # cling---ikut gaya ngilangnya

      Hapus
    3. betul dan setuju dengan komeng diatas

      Hapus
    4. anak-anak sangat senang kalo mendapatkan cerita itu Mbak

      Kebiasaan Mang Ci memang gitu, butuh ruang yang luas untuk menunaikan guling-gulingnya dengan segala jurus

      Hapus
  6. Ya namanya juga kontrakan di perkampungan. Pasti jauh dari fasilitas serba ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perkampungan di tengah hutan tepatnya as, semoga saat ini pembangunan sudah merambah area itu dan listrik juga sedah dialirkan, aamiin

      Hapus
  7. subhanallah..asli saya nelongso baca kisah mbak khusna ini, nelongso dan bangga dengan perjuangan keluarga yang dimulai dari 0, bangga karena kalian ikhlas zero ngersulo, itu top banget. Nelongso karena di satu sisi kehidupan pejabat yang berlebihan kelewat glamournya disatu sisi keadaan masyarakatnya di biarkan saja. Huh....
    Saya memang belum merasakan hal demikian, tapi kehidupan yang selalu di syukuri memang lebih indah. lha rumah ibu di tuban juga rumah papan kok mbak sampai sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu dalam bayangan saya nggak seburuk itu Pak, harapannya kan langsung dapat rumah di komplek karyawan di area site, ternyata nama suami saya masih masuk dalam waiting list rumah, menunggunya itu yang nggak jelas, bisa cuma beberapa bulan hingga beberapa tahun, tetangga saya dulu malah 8 tahun baru dapat rumah karyawan.

      tapi bukan suatu yang membuat saya menyesal kok Pak, justru saya bersyukur diberi kesempatan untuk tinggal di luar komplek karyawan, bisa berbaur dengan masyarakat yang jamak

      Hapus
    2. alhamdulillah dapat bersosialisasi dengan kultur masyarakat sekitar itu malah tak ternilai harganya, Ada ikantan emosional tentunya

      Hapus
    3. betul Pak Agus, menjadi satu dengan masyarakat yang beda bahasa dan kebiasaan menjadi tantangan yang asyik lho...

      karena keterbatasan jumlah perumahan karyawan Mbak, jadi satu-satu harus sabar, bisa juga terkendala masalah birokrasi dengan atasan.

      Hapus
    4. tapi lihat kini, sudah bisa berinteraksi dengan tetangga dengan tenang, berkeluarga juga tenang, beribadah juga tenang, alhamdulillah

      Hapus
  8. asik dan berseni banget perjuangannya ya, mau terharu juga kayanya gimana gituh...lagian itukan cuma masa lalu yang indah dan penuh kedamaian dan kekurangan...yang pasti sekarang kan...udah enak!!!
    tinggal ngasih adik lagi untuk zaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha Alloh Zaki nanti punya adik lagi, aamiin ya Rabb.

      sekarangpun keadaan kami tak jauh beda Pak, masih tak punya apa-apa, wong tinggal di komplek karyawan juga nggak bawa modal blas kecuali perlengkapan dapur dan pakaian Pak...hamdalah rumah dan isinya dipinjami sama pabrik selama sang ayah masih bekerja di sini.

      Hapus
    2. adai buat zaki mau cewek apa cowok mba, tipsnya tanya ke kang Ci.. wah hebat mbak Khusna pasilitasnya dipinjamin pabrik... jarang - jarang yang kayak begitu mbak...

      Hapus
    3. hehehe, rupanya Pak Ci to ahlinya...apapun entah cewek atau cowok, pasti itu yang terbaik Mang...

      hamdalah fasilitas lengkap Mang, bahkan seprei dan selimut juga dipinjemi...jadi kesimpulannya, saat ini kami belum punya apa-apa...hehehe

      Hapus
  9. Benar-benar perjuangan banget ya mbak nis...lagi hamil kondisi seperti itu... Suami yang kemauannya kuat dan istri yang tabah...

    Eniwei kalo aku mungkin tiap malam dah jejeritan ketemu kecoak terus..hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya saya juga geli sama kecoak Mbak, tapi di sana dipaksa untuk tak boleh geli ke serangga karena masih ada binatang lain yang pantas ditakuti, yaitu pyton, biawak, monyet sama babi hutan...nah kalau yang itu, saya nggak berani macam-macam deh Mbak.

      Hapus
  10. perjuangan hidup yang tak kan bisa terlupakan mbak, salut dengan kegigihannya karena tidak semua orang bisa bertahan dengan keadaan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak, insha Alloh. Tapi saya rasa masih banyak yang lebih nelongso dari kami Mbak, termasuk orang tua saya yang berjuang diantara hidup dan mati untuk anak-anaknya terutama si bungsu yang hampir tiap tahun opname 2-3 kali...dulu waktu masih balita hingga usia 12 tahun...semoga sekarang selalu sehat, aamiin.

      Hapus
  11. ada kata pepatah, berenang dulu baru ketepian, bersusah-susah dahulu baru senang kemudian. Perjalanan hidup yang akan selalu dikenang,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, insha Alloh suatu saat kita semua mencapai hasil yang diharapkan, menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan nrimo.

      saat ini pun kami juga masih dalam tahap berusaha kok Mas, mungkin kemudahan yang ada lah yang menyebabkan kami tampak lebih berhasil, tapi levelnya masih sama...BERUSAHA

      Hapus
  12. itu juga bu salah satu alasan ncit ncip ga tak bawa. kalo cuma biaya tinggi sih udah resiko dari kebahagiaan ngumpul keluarga.

    soalnya disini repot. mess cuma disediain buat yang sendiri. bawa keluarga otomatis harus keluar mess dan ngontrak sendiri

    kondisi kesehatan, lingkungan, air, listrik dan prasarana itu alasan yang utama. apalagi anak anak senang bermain binatang. bakalan repot kalo si ncit dibawa kemari. bisa tiap hari bermain sama babi hutan jinak yang suka keluyuran sampai teras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata nggak di sana nggak di jambi, sama Pak. Di Jambi ada komplek karyawan juga, tapi musti masuk daftar waiting list dulu, dan waktu menunggunya bisa cuma beberapa bulan hingga yang paling parah 8 tahun.

      saya malah membayangkan, kalau Zaki tinggal di sana, mungkin setahun cuma sekali melihat lampu bangjo lampu lalu lintas...hehehe

      di halaman rumah dengan live bisa menyaksikan monyet-monyet bergelantungan, asyiiikkk...hehehe

      Hapus
    2. asik apanya bu
      disini monyetnya iseng bener. ga mau masuk rumah sih, tapi jemuran yang suka jadi korban. lama lama ngiri juga kalo liat saudara mudanya pada pake baju, hehe...

      Hapus
    3. ternyata bukan orang saja yang pengen pakai baju, malahan orang pada lupa pakai baju .. itu sebagian kang hehehe...


      saya saudaranya apa bukan ya ?

      Hapus
    4. monyet sudah mulai bergaya Mang, malah manusia kadang yang bosan pakai baju ya?

      Hapus
    5. bukan ga mau pake bu
      kita masih suka pake baju juga. cuman terlalu irit, makanya bahan dikurangin...

      Hapus
  13. kisah lama yang mendewasakan ya mbak... saya malah ndak boyong keluarga ke tempat kerja, dulu pernah saya bawa istri tapi karena saya sering berpindah - pindah lokasi lompat pohon satu kepohon satunya lagi hehehe itumah tupai.. saya sering kerja ke lokasi berpindah pindah kadang ke kota ini cuma satu minggu kadang 6 bulan... kan repot ya harus bawa perabotan... jadi terpaksa saya ndak bawa istri dan anak, mending bolak - balik tiap minggu ke kampung eheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali Mang, kadang suatu keadaan nggak bisa dipaksakan ya, seandainya suami saya jadi vendor yang kerja kayak Mamang pun, saya pasti akan ditinggal di Jogja Mang...kasihan kalau anak-anak musti di ajak pidah-pindah...

      Hapus
    2. kalo cuma istri sih kayaknya enjoy aja pindah pindah gitu. yang repot di anak-anak. biarpun cepat beradaptasi macam ncit ncip, tetap ajalah ada masanya kena jetlag.

      kalo abis pindahan, kadang kasian kalo mereka tiba tiba cerita pengen main sama temen yang di komplek rumah lama.

      Hapus
    3. betul mbak, tapi saya bukan bang toyib kan... hehehe... kalau misalnya anak saya liburan sekolah pengen ikut saya Ke jakarta baru saya minta cuti ( cuti tapi tetep kerja cuma ndak berpindah pindah)... jalan jalan sambil kerja hehehe...

      iya mas, yang lebih repot lagi kalau si anak sudah sekolah, masa mau ikut pindah sekolah juga, mungkin sudah nasib ya... jadi syukuri apa yang ada, dan ikhlaskan saja.. meskipun malam jumat kelabu... kan masih ada malam - malam lainnya hehehee

      Hapus
    4. nah itu, lagi-lagi anak yang jadi korban kalau ortunya nomaden---memang lebih baik anak istri menetap...lagipula, semua perjuangan ayah juga ujungnya buat kebahagiaan dan masa depan anak-anak...betul tidak?---gaya mamang

      Hapus
    5. kalo masih tk apa sd sih ga terlalu sulit adaptasinya. paling paling bapaknya yang mumet tiap kali pindah musti siapin duit pendaftaran lagi. masuk paud saja 3,5jt, semmm...

      rada repot kalo anak mulai kenal lawan jenis kaya usia smp. bisa mutung 40 hari 40 malem tuh kalo diajakin pindah...

      Hapus
  14. segitunya :') ..
    kisah nyata beneran .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di angkat ke layar kaca seru juga ya MiZ

      Hapus
    2. iya Tia, beneran...semoga cuilan kisah yang sedikit ini bisa menambah khasanah petualangan hidup...

      layar Mang, emang kapal ya kok pakai layar segala? hehehe

      Hapus
    3. hahah layar terkembang... saya malah lagi nunggu
      sesuatu yang dirindukan tujuh.... saya tunggu ya

      Hapus
  15. Demi tanggung jawab keluarga rela bersusah-susah. Pasti sudah dengan perhitungan matang, bahka kelak ada prospek yang bagus pada kerjaan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hamdalah semoga menjadi bekal untuk menguatkan kami Mas...

      Hapus
  16. sangat prihatin mb,,,
    atap seng kalau siang panas banget tu,,,
    d kmpung saya mayoritas rumah papan,,,

    dtunggu kisah selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih adem atap ijuk dan alang alang ya.... kan ada AC nya Mbak May...

      Hapus
    2. Mbak Maya asli mana kalau boleh tau? kalau di jawa kan jarang banget rumah papan Mbak...tapi ada asyiknya juga tinggal di rumah papan, apalagi yang berbentuk panggung

      Hapus
  17. Wah suatu awal kisah hidup yang sangat mengharukan sekali nih..

    BalasHapus
  18. Wah suatu awal kisah hidup yang sangat mengharukan sekali nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang sudah enak mas... nyantay kayak di pantay

      Hapus
    2. justru yang mengharukan itu yang berkesan dan tak mudah dilupakan Bang. btw, rumah Bang Ci di daerah manakah?

      nyantai kayak di pantai ya Mang, padahal di sini ndak ada pantai lho...adanya hutan akasia...

      Hapus
  19. kisah kehidupan yang jadi kenangan tak terlupakan ya mbak bagaimanapun buruk kondisi saat itu

    BalasHapus
  20. hadir kembali demi rindu rumah papan.

    BalasHapus
  21. mampir kesini baca komentar-komentarnya yang pas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sambil menunggu postingan yang baru ya kang

      Hapus
  22. kisah nya mengharukan sekali mbak m penuh perjuangan untuk mencapai masa bahagia,,,, ehe btw aku kira mbk khusna sama mas prienamtujuh itu blog suaminya mbak lah,hehe,

    BalasHapus
  23. terlalu rindu sehinnga belum ada postingan baru.

    BalasHapus
  24. wah kisah hidup yang penuh asam garam ya mba..jika saat ini lebih dari berkecukupan mungkin lebih banyak bersyukur atas segala nikmat-Nya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. asam digunung garam dilaut dalam kuali ketemu jua ya mas.... oooh bukan itu ya mas... asam garam pengalaman kan... betul tidak?

      Hapus
  25. Kisah pengalaman di atas tentu akan di kenang sepanjang masa ya mbak.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya