AE



AE. Apaan sih? Inisial nama orang? Bukan bukan. Trus apaan dong. Plat nomor kendaraan? Bukan lagi.

AE adalah Abdominal Epilepsy. Kok jarang banget dengar ya? Memang. Abdominal Epilepsy merupakan gangguan pencernaan yang diikuti dengan kejang atau step. Kelainan ini termasuk epilepsi sementara. Setiap orang kalau dengar istilah epilepsi biasanya langsung berfikir ayan. Padahal tidak. Abdominal Epylepsy umumnya terjadi pada anak-anak. Namun kasus ini sangat jarang ditemukan. Saking jarangnya, sangat susah kita menemukan artikel yang memuat tentang AE ini. Bahkan hanya satu atau dua artikel berbahasa Indonesia di Google yang mencantumkan istilah ini. Itupun tak banyak penjelasan yang bisa diambil. Jadi ngapain KK repot-repot menulis tentang sesuatu yang sangat jarang ditemukan ini? Iya, karena adik bungsu saya pernah menderita penyakit ini.

Adik saya, Yusuf saat ini berusia 16 tahun, duduk di bangku STM jurusan desain gambar bangunan. Dia lahir di penghujung tahun 1997 tepat di Hari Ibu. Saat itu saya kelas 1 SMP. Ibu saya dengan perjuangan beliau yang luar biasa berhasil melahirkan bayi mungil yang kata orang seperti cewek, karena saking imut, putih dan sipit matanya. Karena pendarahan hebat, ibu saya sempat dikira suda meninggal oleh tim dokter RSUD Bantul, namun berkat kuasa Alloh, detak jantung yang sempat berhenti beberapa saat itupun berdenyut kembali. Subhanalloh.

Tumbuh kembang Yusuf normal seperti anak-anak yang lain. Usia 1 tahun sudah mulai berjalan. Kemudian beberapa bulan setelahnya dia mulai berbicara. Sungguh menggemaskan punya adik berwajah oriental dan ganteng. Tapi dia sangat susah makan, tubuhnya mungil, namun lincah. Saya masih ingat, si adik sering saya gendong sambil saya suapi pisang ambon. Karena dilepeh-lepeh terus, baju saya belepotan pisang yang akhirnya membekas menjadi noda yang sulit dihilangkan walau sudah lelah tangan mengkucek-kuceknya. Di gudang, mungkin baju-baju itu masih tersimpan sampai saat ini.

Di usianya yang ketiga, Yusuf demam tinggi. Obat penurun panas dan antibiotik tak juga menurunkan suhu tubuhnya. Akhirnya Yusuf kecil diopname. Semenjak itu, Yusuf keluar masuk rumah sakit. Di usianya yang ke-empat, tim dokter baru bisa menyimpulkan kalau Yusuf mengalami kelainan pencernakan. Tentunya dengan berbagai tes laboratorium dan EEG (Electroencephalograph/ Elektro Encelo Grafi) atau rekam otak. Sebelumnya Yusuf demam kemudian diikuti kejang. Kejangnya berbeda, tidak kaku atau menggigit lidah, namun lemas terkulai, tidak merespon dan tatapan kosong. Saat itu si adik sedang nonton tv sambil rebahan di kursi. Saat kami sapa, tidak ada reaksi sama sekali. Ibu saya yang panik langsung membawanya ke rumah sakit.

Seingat saya dia pernah mengalami kejang hingga dua kali. Saat sudah pulih, kami sering menanyainya.
"Adik tadi ngapain?"
"Nggak tau Mak, adik nggak bisa ngomong, tapi adik bisa dengar. Adik juga tahu Mbak Nana tadi nggoyang-goyangkan tangan adik". katanya menjelaskan pada kami.

Sejak saat itu Yusuf terapi phenytoin, obat antiepilepsi, yang rutin diminum selama 3 tahun (namun kenyataannya lebih). Waktu 3 tahun bukan urusan yang sebentar, kami merasa waktu itu sungguh lama. Apalagi Yusuf bolak balik keluar masuk rumah sakit. Dalam setahun, dia pasti opname. Bahkan pernah dia opname hingga 2 kali dalam sebulan. Pernah juga 1 kali dalam 6 bulan. Ya Alloh, sungguh tegar orang tua kami, ibu saya terutama. Di tengah-tengah himpitan sakit beliau, beliau mampu menjaga Yusuf yang seperti itu. Pernah saat itu Yusuf opname, 4 hari kemudian boleh pulang ke rumah. Baru beberapa hari di rumah, gantian ibu saya yang opname karena gangguan ginjal yang beliau derita. Tak terbayangkan, betapa repotnya bapak. Di sisi lain, bapak harus kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami, apalagi biaya rumah sakit sangatlah mahal, di sisi lain, bapak juga harus menjaga ibu di RS. Saudara? Bapak putra tunggal yang tak banyak mempunyai kerabat. Entah kenapa saya tidak ingat di mana posisi saya waktu itu. Seingat saya, saya tak pernah bolos sekolah. Tapi siapa yang menjaga adik di rumah? Adik saya yang lain masih SD kelas 6. Tak mungkin dia menjaga Yusuf sendirian. Sungguh, ingatan itu tak ada sama sekali di memori otak saya. Subhanalloh, hanya Dia yang tau.

Bertahun-tahun mengkonsumsi phenytoin ternyata membuat perkembangan gusi Yusuf tak normal. Di usia 6 tahun, gigi Yusuf tidak kelihatan. Orang-orang sering menanyainya, kenapa sudah SD kok belum tumbuh gigi. Bahkan hingga kelas 3 SD giginya belum juga tampak. Kami tahu, dokter tahu, sebenarnya Yusuf bergigi normal, namun phenytoin membuat pertumbuhan gusi menjadi tebal. Gigi-gigi itu tertutup oleh gusi. Dokter sudah merencanakan operasi gusi untuk Yusuf, mengambil lapisan daging bagian dalam gusi agar gusinya menipis. Syukurlah perkembagan kesehatan Yusuf berangsur membaik, hingga dokter mengurangi sedikit demi sedikit dosis phenytoin untuknya. Dengan berkurangnya dosis obat itu, rupanya gusi Yusuf berangsur-angsur menipis dan giginya tampak dalam kurun 1 tahun. Tak jadi operasi. Alhamdulillah.

Kalau tak salah kelas 6 SD Yusuf baru benar-benar tak minum obat. Usia 12 tahun dia tak lagi EEG yang sebelumnya dilakukan 1 tahun sekali. Namun kondisiYusuf harus benar-benar diperhatikan, terutama tentang makannya. Dia tidak boleh telat makan, tidak boleh kelaparan, tidak boleh stress atau tertekan, diusahakan jangan demam atau sakit, tidak boleh kecapean, dan tidak boleh terlampau bersedih atau emosi. Alhamdulillah dengan sedikit tertatih Yusuf terbiasa tanpa obat. Semakin hari kondisi dia semakin kuat, hingga SMP, dia jarang sekali sakit.

Bismillah, semoga Alloh melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan untukmu adikku. Jadilah pemuda yang kuat, tegar dan semangat...ya.... Buat Mamak dan Bapak bangga. We luv U.


Yusuf dan Zaki


 * Foto di atas diambil 3,5 tahun yang lalu. Saat ini tentunya dia sudah tumbuh menjadi remaja yang ganteng, namun pemalu, hingga difoto aja nggak mau.

* Dokter yang menangani Yusuf bernama dr. Larasati, Sp A. Waktu mudik kemarin Zaki sakit dan berobat ke klinik beliau di Bantul. Kami jadi ngobrol banyak tentang Yusuf. Saat ini beliau bertugas di RS Eka Hospital di Pekanbaru, rumah sakit milik bos Asia Pulp and Paper.




Posting Lebih Baru Posting Lama

19 Responses to “AE”

  1. aamiin.. semoga diberikan kesehatan selalu ya mas yusuf..
    subhanalloh.. ibu dan bapak mbak khusna tegar dan kuat ya,,kasih sayang orang tua memang luar biasa,mau apa dan bagaimanapun tetap tidak ada yg menyamai :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. oya mbak,lahirnya 2007? tapinusianya sudah 16 tahun..? mungkin salah ketik kelahirannya ya mbak..? :D

      Hapus
    2. aamiin, makasih mbak yulita. orang tua adalah super hero kita...

      oh iya, makasih banyak atas koreksinya

      Hapus
  2. Subhanallah alhadulillah allahu akbar...
    perjuangan ibu memang luar biasa, bapak memang tidak nampak tapi perannya juga luar biasa. Kini kita kita yang menjadi orang tua, minimal saya bisa mendapat pelajaran dari pengalaman hidup mbak khusna dan keluarga.
    semoga sehat unuk keluarga mbak khusna, dan lancar dalam melakukan ibadah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, maksih Pak Agus.
      bagi saya, kedua orang tua saya adalah manusia luar biasa yang dengan semangat beliau yang tak pernah putus, berjuang demi kesehatan Yusuf dan Mamak. Bertahun-tahun, sejak saya SD, Mamak keluar masuk rumah sakit, namun semangat hidup beliau selalu muncul, bahkan Mamak saya masih bisa menyemangati orang lain di tengah derita sakit beliau...luar biasa. "Mak, Nana rindu...pengen peluk..."

      Hapus
  3. Zaki sebelum usia 2 th juga sering kejang (saya ingat 2 atau 3 kali opname). Byasanya diawali demam tinggi, dan krna demam tsb tdk tertangani dg baik (belum smpe turun), mk saking panasnya tubuh sampai menggigil. Inilah yg kt perawatnya disebut steup (demam kejang).

    Dan dr artikel yg pernah saya baca, demam kejang ini bisa sembuh total bila selama 3 th tdk pernah terjadi kejang lagi. Jd, kami selalu sedia parasetamol dan kebetulan rumah dekat dg klinik. jd ketika panasnya sdh di atas 39, langsung bawa ke klinik dan biasanya pertolongan pertamanya dikasih penurun panas yg lewat 'belakang'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang sudah tidak pernah kejang kan Pak Pri? sehat-sehat buat Mas Zaki dan Dik Daffa ya...aamiin.

      memang, anak-anak sering kejang saat demam tinggi Pak Pri, tapi insha Alloh itu bukan sesuatu yang sangat menghawatirkan...kalau Yusuf kejangnya bukan kaku, tapi malah lemes demples dan pandangan mata kosong

      Hapus
  4. saya ikut mendoakan, Insya Allah setelah shalat saya nanti Mbak, agar Yusuf, juga keluarga Mbak Khusna semuanya, semakin diberikan nikmat sehat. dan semakin dekat dengan-Nya, agar makin disayang-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin... Amiin.. amiin..

      Hapus
    2. aamiin, terima kasih doanya Pak Zach...semoga kita semua yang di sini dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan..aamiin

      Hapus
  5. Alhamdulillah semoga selalu sehat seperti apa yang diharapkan..perlu ekstra segalanya memang, tapi insaa Allah jika terus berusaha akan menuai hasilnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. inshaa Alloh, seiring tumbuh dia dewasa, daya tahan dia semakin baik dan tubuhnya semakin kuat Pak El...bismillah.

      Hapus
  6. AMI......................N

    Semoga kesehatan dan keselamatan selalu di berikan kepada mas Yusuf, dan tercapai semua cita cita nya

    BalasHapus
  7. semoga keluarga Mbak diberi kesehatan.. Amiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, makasih banyak Bli Ks. semoga keluarga panjenengan juga dikaruniai kesehatan, keselamatan dan rizki yang melimpah,

      Hapus
  8. aamiin..
    semoga diberikan kesehatan dan bisa terus berkaya bisa jadi kebanggan orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, makasih banyak Mbak Iis...semoga putra putri Mbak juga demikian, berhasil meraih cita dan menjadi kebanggaan orang tuanya.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya