Invasi Ular Kobra



Dua bulan ini suasana komplek mencekam. Anak-anak yang biasanya bebas keluar masuk rumah sekarang jadi sering diteriaki para mama untuk segera menutup pintu serapat mungkin setelah membuka pintu. Minimal merapatkan pintu ganda bagian luar. Zaki tak terkecuali, sebentar-sebentar bunda yang lagi asyik blogging...eh lagi masak harus menyaringkan suara menyuruh Zaki atau Joane untuk segera menutup pintu. Para mama sekonyong-konyong berubah menjadi Bibi Tutup Pintu dalam majalah Bobo.

Gaya menutup pintu anak-anak sudah paham betul kan? Daun pintu dipegang kuat-kuat kemudian dibanting dengan tenaga penuh. Gleng! Itu baru satu rumah, belum tetangga sebelah atau sebelahnya lagi. Iya kalau satu rumah cuma punya anak satu seperti kami, lha kalau punya dua atau tiga anak...apa ya nggak cepet jebol itu pintu?

Kebiasaan baru menutup pintu bukan tanpa alasan. Dua bulan ini komplek sering kedatangan tamu tak diundang. Miss Kunti? Bukan. Om Jaelangkung? Bukan lagi. Tapi ular. Ular bukan sembarang ular. Kalau ular pinton atau ular sawah sih nggak begitu berbahaya, walau yang namanya ular semua pasti serem. Yang sering muncul di komplek adalah ular kobra. Seumur umur, baru di sini saya melihat ular kobra bebas berkeliaran di mana-mana. Di Jogja, paling banter melihat ular kobra di Kebun Binatang Gembira Loka.



Hasanah, tetangga yang rumahnya agak di belakang, berada persis menghadap hutan seminggu yang lalu dikejutkan oleh bunyi mendesis dan benturan-benturan kecil di dalam toilet. Merasa ada yang tak beres, dia segera mem-flush toiletnya. Ditunggu beberapa menit, suara-suara itu masih ada. Sebagai ibu muda dengan dua batita yang lagi aktif-aktifnya, tentu panik dan ketakutan bila makhluk di dalam toilet itu membahayakan dua putranya. Tak tahan dengan kasak-kusuk di dalam toilet, dia menelpon suaminya yang lagi di pabrik. Bang Doni, suaminya dengan terpaksa minta izin untuk kembali ke rumah.

Dibela-belain pulang, rupanya Bang Doni nggak juga berani membuka tutup toilet itu. Hanya flushing, flushing dan flushing. Namun suara di dalam toilet nggak juga berhenti. Dia yakin di dalam pasti ada binatang, entah tikus, anak biawak atau ular. Tak ada lagi pilihan lain kecuali menekan tombol extention 1113. Tak perlu menunggu lama, dua orang security segera datang untuk mengamankan TKP. Kirain mau membuka tutup toilet dan mengeksekusi makhluk itu di tempat, ternyata Pak Security meminta Hasanah merebus air sepanci...(hahahaha, maaf Has, saya selalu tertawa tiap ingat ini...---maaf tertawa bukan pada tempatnya). Dengan sigap, security membuka toilet itu dan segera menyiramkan sepanci air panas itu ke dalamnya. Lama diperhatikan, ternyata terdapat seekor ular kobra hitam berukuran cukup besar. Hebohnya lagi, di hari itu juga di dalam komplek ditemukan tiga ular kobra, salah satunya di mess karyawan. Si ular mlungker di bawah kasur.

Kemarin sore selepas bus-bus karyawan lewat di depan rumah, seorang ibu-ibu berblazer biru khas karyawan mengetuk pintu rumah saya. Dengan gugup beliau berkata kepada saya.
"Bu Bu tengoklah...ada ular di parit!." sambil menunjuk parit depan rumah.
Saya langsung menggendong anak saya menuju tepi parit. Dengan hati-hati saya mencoba melihat ke dasar parit kering itu. Seekor ular kobra berukuran kira-kira 50 cm menggeliat-geliat di dasar parit. Ayah Zaki belum pulang dari kantor. Saya segera ke rumah Mas Taufik, tetangga sebelah, namun beliaunya ternyata masuk shift sore. Syukurlah ada seseorang bapak yang lewat dan melihat kepanikan kami kemudian mengamankan ular itu.

Padahal sehari sebelumnya kami baru saja rame-rame melihat security menangkap ular kobra di semak-semak dekat hutan. Sebelumnya lagi anak-anak sekolah melihat ular kobra kecil melintas di dekat halte. Hal itu menandakan populasi ular kobra di komplek semakin banyak. Entah, mungkin lagi musim kawin atau jumlah hama tikus yang meningkat. Secara komplek kami sangat luas, di sela-sela perumahan adalah hutan, rawa atau perkebunan kelapa sawit yang dikelola Asian Agri. Katanya ular kobra itu dimanfaatkan sebagai predator alami untuk membasmi hama tikus di kebun sawit. Bagaimanapun, kita sebagai masyarakat awam tentu sangat terganggu dengan kehadiran ular kobra di lingkungan kami. Harapan kami semoga masyarakat komplek terutama anak-anak terhindar dari serangan ular berbahaya ini.


tengoklah betapa lebatnya semak di seberang jalan





Posting Lebih Baru Posting Lama

40 Responses to “Invasi Ular Kobra”

  1. Cara yang jitu tu, ular disiram pakai air panas. Bisa mateng di tempat dan siap untuk disantap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dioseng oseng pakai lombok ijo

      Hapus
    2. jitu karena kepepet kan Mas Dj...
      siapa yang mau ular kobra tumis cabe ijo tunjuk jari?

      Hapus
    3. Kang DB:..ngeledekin KK yang tinggal dihutan ya...;o)

      Hapus
    4. biar dihutan tapi fasilitas metropolitan

      Hapus
    5. sayah juga suka tinggal di hutan, kalau menghindari tukang keridit panci heiheihei

      Hapus
    6. Mamang tinggal di hutan yang mana hayo?

      Hapus
  2. kata nya untuk mengusir ular cukup menebarkan garam di sekeliling rumah, niscaya ular tersebut enggan masuk rumah...


    #tapi yang paling ampuh pakai terompet kayak di Filem india hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tabur belerang juga bisa kok mang...
      kandungan zat dan bau belerang sangat tidak disukai oleh ular

      Hapus
    2. asal jangan pipis sambil keliling rumah lho mas, tidak boleh itu, tidak boleh.
      kekekekekeke.........

      Hapus
    3. iya Mang Yono, tapi tidak bisa sekeliling rumah, wong rumah kami dempet-dempet alias deket banget...paling-paling di sekitar teras dan pintu saja. itupun kalau nggak hanyut terbawa air hujan.

      kalau pipis sambil keliling rumah nanti dimarahi sama Pak Agus...kasihan bener anak tetangga saya yang suka pipis sembarang tempat, alamat kena damprat Ayahnya Dik Hayyu

      Hapus
    4. cara lama itu mah mang....kan ular sekarang mah udah pada sekolah, ..jadi kalau ditaburi garam, kebetulan banget...mereka bisa ng'rujak buah mangga rame-rame atuh mang.

      Hapus
    5. lebih jitu lagi ditaburi kertas gambar Pak Karno

      Hapus
    6. iya kang ci, ular sekarang mah udah pada tau, kalau ngeliat ada garam berserakan langsung pakai sandal atau sepatu xixiixi

      tuh betul kata mas pakies, paling saya yang duluan mungutinnya, rebutan sama ular hehehehe....

      Hapus
    7. kalau kertas gambar Pak Karo saya juga mau Pak Ies..

      # rebutan sama Mamang

      Hapus
  3. Balasan
    1. serem banget Tsumugi San, makanya waspada dan antisipasi.

      Hapus
    2. pasti cobranya berkumis lebat

      Hapus
  4. Sebentar dulu mbak..! Cik awi mau panggil mas pawang ular dulu biar ntar di tangkep itu ular kobranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo, cepetan ajak kesini pawangnya Bang...

      Hapus
    2. yang datang pawang hujan

      Hapus
    3. pawang hujan biasanya nyembur lho Pak Ies

      # buka payung, sebelum kena sembur

      Hapus
  5. jd inget dulu waktu masih kos, ada ular nyelonong masuk (gak tau jenis apa). Begitu dia masuk, kebetulan yg punya kos buka pintu, eh jd kecepit itu ular di bawah engsel, mau masuk gbs mau keluar gbs... :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gepeng no Pak Pri...maju kena mundur kena...saingan sama warkop ya?

      Hapus
  6. serem sekali mbak kalau ular kobra, bisanya mematikan dalam beberapa menit.
    dulu dirumah juga sering dimasuki ular, ular ijo dan ular welang. karena kecil ularnya walaupun berbisa, saya ambil gombal dan saya pegang masukkan kresek dan saya buang.
    karena saya tidak mau membunuh ular ataupun binatang lainnya, kecuali kalau kepepet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kok malah lebih ngeri Pak Agus to, masak ular diambil pakai tangan yang cuma lambaran kain sih? apa nggak kenyuk-kenyuk itu Pak? kalau saya lihat ular, saya pilih panggil orang lain yang lebih mahfum menangani ular.

      sama seperti suami saya, sangat jarang bunuh binatang kecuali kepepet...bahkan pasang jebakan tikus aja nggak mau, jadi pilih grubyak-grubyuk ngusir tikus dari pada bunuh tikus.

      Hapus
  7. waduh....ko' bisa begituh ya...dan akhrnya semua penduduk menyalahkan ular itu yang berkeliaran ke rumah penduduk...ngga ada satupun warga yang berpikir kalau habitat ular itu telah terganggu oleh warga.
    #saya phobia ular loch....;o)

    BalasHapus
    Balasan
    1. punya ular kok phobia ular sih kang ? heran ah.....

      Hapus
    2. bukanya ular sekarang ikutan lebay alay, knapa jadi takut ?

      Hapus
  8. baca sambil merinding ...maklum, saya phobia ular, mbak

    BalasHapus
  9. lah mimi baru kemaren mites ular kobra di dapur,,,gemeter nya mpe 3 hr bow huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. minjem jempolnya gajah

      Hapus
    2. ularnya pasti segede upil...maen pites azh deh ih

      Hapus
    3. tau tuh Mimi, padahal upil aja nggak segede ular...# lho?

      Mimi, teman saya di sini rupanya kenal dirimu lhooooo...

      Hapus
  10. merinding mb,,,,
    takut ma ular,,, ,,,,,

    ngeri jga klau dah berkeliaran gitu,,,,,
    mgkin tikusnya dh g ada,,,,jd ularnya masuk perkampungan dech

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi mbak maya...tapi anehnya, kenapa petani sawit lebih memilih ular kobra untuk jagain sawitnya..kenapa nggak ular lain yang nggak berbisa misal pyton atau apa kek

      Hapus
  11. Saya pernag ada pengalaman juga sama jenis ular seperti ini. Namun tidak yakin kalau ular yang saya pergoki di belakang rumah itu berjenis KOBRA atau bukan. Konon kata warga setempat atau tetangga sih jenis ular SENDOK. Apalah namanya, yang jelas ular yang panjanganya sepanjang sumpit Bakmi itu mengelarkan suara mendesis dan posisi siap menyerang balik

    Saya pergoki di belakang rumah. Begitu saya sudah siapkan kayu pemukul untuk membunuhnyam, ular sendok kecil itu mengangkart kepalanya. Mengeluarkan suara mendesis. Saya pun ngacir menutup pintu, dan menutupnya, Hanya mengintip dari jendela saja. Kuatir juga kalau ular ini menyemburkan bisa ke mata urusannya bisar repot

    Saya pun calling kawan kawan atau para tetangga untuk membantu saya mengusir makluk melata ini. Kalau dipandang perlu sekalin untuk membunuhnya. Para tetangga berdatanggan lengkap dengan senjatanya. Ada yang bawa parang. Ada yang bawa pacul. Ada yang bawa clurit. Bahkan ada yang bawa batu. Sayang sekali saat para tetangga berdatangan, sang ular berhasil melarikan diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah tentunya kecelik dong para tetangga Pak, sudah semangat '45 mau mengeksekusi ular sendok, jebul ularnya udah nggak ada, tinggal cerita saja.

      ular sendok itu kan ular kobra Pak Asep. disebut ular sendok karena kalau marah dia mengembangkan sisi lehernya membentuk menyerupai sendok, yang siap mematuk mangsa atau pengganggu (orang)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya