Pengalaman "Diganggu"

Pengalaman "Diganggu"



Setelah membaca tulisan Pak Asep Haryono dengan judul sama seperti di atas. Saya jadi terinspirasi untuk menuangkan pengalaman yang kira-kira hampir sama dengan beliau. Sengaja saya meng-copy judul tersebut dari Pak Asep… izin copy paste judul artikel anda ya Pak…

Sahabat-sahabat sekalian pernah mengalami sesuatu atau melihat sesuatu yang ganjil, yang tidak biasa atau yang di luar logika? Entah hanya halusinasi atau pikiran saya yang lagi “konslet”, saya pernah melihat dan mendengar sesuatu yang sulit dinalar oleh otak saya. Anehnya, saat mengalami hal ganjil itu saya tidak merasa takut sama sekali. Mungkin respon otak saya yang rada lemot kali ya? Saya baru merasa takut setelah kejadian itu berlalu. Sebagian hanya berselang beberapa mili second dari “moment” itu, sebagian lagi butuh waktu bermenit-menit bahkan berjam-jam untuk takut. Aneh kan?

Kejadian aneh pertama saya alami saat saya masih kecil. Sekitar usia 9 atau 10 tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu Ibu saya sedang sakit. Beliau tiba-tiba pingsan di tempat kerja dan akhirnya diantar pulang oleh seorang teman beliau. Saya kurang begitu paham awal kejadiannya, tapi terakhir saya tahu bahwa Ibu menderita suatu penyakit di kepala. Beliau ditangani khusus oleh dokter syaraf di Jogjakarta, dokter Suharso (alm). Saat kambuh, Ibu hanya tergolek di tempat tidur. Saya dan adik saya yang masih kecil hanya bisa menunggui beliau duduk di samping tempat tidur sambil sesekali memijit kaki Ibu. Kami baru dua bersaudara, saya dan Tafa karena Yusuf belum ada. Yusuf lahir saat saya kelas 1 SMP.

Nah kejadiannya saat ibu tergolek untuk yang ke sekian kali, tiba-tiba malam itu mati lampu. Karena kami di kampung, tetangga letaknya agak berjauhan, jadi suasananya betul-betul sunyi. Di saat gelap gulita itu saya melihat cahaya terang benderang berwarna putih berpendar seperti fosfor di sekeliling tempat tidur Ibu. Saya terkejut luar bisa. Baik Bapak, Ibu maupun adik saya tak ada yang melihat cahaya putih berpendar itu. Saya tak ingat kapan lampu menyala kembali. Tapi ingatan saya langsung melompat ke kejadian serupa di hari yang lain. Masih saat Ibu sakit, kembali saya melihat cahaya putih berpendar di sudut rumah kami. Wujudnya  memanjang seperti tongkat, namun tinggi, entah seberapa tinggi, pokoknya cahaya itu lurus ke atas, benar-benar lurus. Saat kejadian itu waktu belum begitu malam, sekitar pukul 18.00. Uniknya tak hanya saya yang melihat, namun adik saya Tafa juga. Kalau saat itu  saya berumur 10 tahun, berarti Tafa baru 6 tahun. Anehnya lagi, sampai sekarang saya tidak pernah merasa takut mengingat-ingat kejadian cahaya putih berpendar itu.

Saya tak ingat betul urut-urutannya, namun semua masih terekam bagus satu persatu di kepala saya. Kejadian berikutnya saat Yusuf duduk di bangku SD kelas 1 atau 2. Berarti saya berusia sekitar 19 atau 20 tahun. Saat itu kami sedang berkumpul di ruang keluarga. Ada Ibu, saya, dan kedua adik saya berkumpul sore-sore sambil nonton televisi. Entah kenapa tiba-tiba saja saya mengarahkan pandangan saya ke arah kaca rias yang ada di samping televisi. Saya melihat bayangan sebuah kepala berwarna hitam melayang lewat begitu saja. Saya mendengar Yusuf berteriak dan melompat mendekati Ibu. Saya hanya terbengong saja, ingin mengucap sesuatu namun tak bisa. Rupanya Yusuf juga melihat bayangan kepala sebatas leher itu melayang di cermin. Nah, beberapa detik kemudian saya baru merasa takut dan ngeri. Apalagi mengingat-ingat kembali dan menuliskannya seperti sekarang ini.

Lagi, kejadiannya saat bulan Ramadhan. Tahun 2005. Saat itu saya menjadi panitia Ramadhan di masjid Asy-Syifa, salah satu masjid di kampung kami. Letak masjid lumayan jauh dari rumah, pun bukan berada di tempat yang strategis saya rasa, tapi berada di gang masuk yang lumayan jauh. Jalanan gang itu berupa jalan sempit menurun yang saat musim hujan licinnya minta ampun karena di kanan-kiri jalan ditumbuhi pepohonan yang membuat tetesan air hujan tak mudah kering. Masih saja licin walau sudah ditutup cor semen di bagian tengahnya. Saya lebih memilih naik sepeda motor daripada jalan kaki saat ke masjid. Entah kenapa malam itu saya ke masjid tidak naik sepeda motor, namun rame-rame jalan kaki bersama ibu-ibu. Rupanya setelah shalat tarawih ada rapat panitia Ramadhan. Rapat selesai hingga pukul 22.00. Dengan santai saya jalan kaki menuju rumah. Awalnya teman saya sesama panitia Ramadhan banyak, namun karena satu persatu berpisah di jalan, akhirnya hanya tinggal saya seorang. Pengennya  minta dijemput orang rumah, tapi saya nggak bawa handphone. Ya sudahlah terima saja pulang jalan kaki sendirian. Baru beberapa menit saya berjalan, tiba-tiba terdengar suara seperti pasir yang disebar di atas pepohonan di samping-samping jalan. Reflek saya menutupi kepala saya dengan sajadah dan mukena. Lama sekali hujan pasir itu tak selesai-selesai. Saya sudah berfikir kalau pakaian dan jilbab saya bakalan penuh pasir sampai rumah nanti. Entah kenapa saya tidak berfikir malam-malam gitu orang iseng mana yang mau-maunya main lempar pasir. Bodohnya saya tak sampai berfikir sejauh itu.

Setelah suara pasir itu hilang, saya baru sadar kalau saya sedang “diganggu”. Dengan tenaga apa adanya, saya lari sekencang-kencangnya. Bersyukur setelah keluar gang, saya bertemu dengan beberapa pengguna jalan yang lewat. Saya periksa pakaian saya, tak satu butir pasirpun menempel di pakaian atau sajadah yang saya pakai untuk berteduh. Aneh.

Lagi. Entah tahun berapa peristiwa itu terjadi. Yang jelas malam itu, sebelum Isya saya mau ke belakang (kamar mandi-red). Maklum, kamar mandi kami berada terpisah dengan rumah, walau sebenarnya hanya beberapa langkah dari pintu dapur, tapi posisinya memang di luar rumah. Tanpa sengaja saat saya hendak membuka kran yang ada di luar kamar mandi, tiba-tiba saja saya melihat api berkobar-kobar di kejauhan. Saya pikir ada orang membakar sampah. Tapi kok malam-malam. Saya pikir-pikir lagi, membakar sampah kok di pepohonan. Iya, kobaran api itu berada di antara rimbunnya pepohonan di dekat kebun tetangga saya, Budhe Kati. Saya sempat khawatir api itu akan membakar sesuatu. Lama saya perhatikan, api itu bergerak dan berkobar semaunya. Bergerak seperti melayang. Kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang benar-benar terbang di atas pepohonan, melayang jauh di atas pepohonan. Di awang-awang. Astasghfirullah… Saya langsung menjerit-jerit memanggil Ibu.

Lagi. Peristiwanya masih di sekitar rumah. Saya pernah menceritakan kalau rumah saya berada di dekat persawahan, sekarang sawah-sawah itu sudah tidak bisa ditanami padi karena keberadaan air atau irigasi yang sulit. Sawah itu berubah menjadi ladang palawija atau kacang-kacangan. Malam belum begitu larut, belum ada pukul 21.00 saya rasa. Saya baru saja dari kamar mandi untuk menggosok gigi (kamar mandi berada di luar rumah). Dari kejauhan saya mendengar suara anak-anak kecil bercengkerama tertawa-tawa. Benar-benar mirip suara anak-anak bermain dan bercanda. Sepertinya seru sekali. Suara itu datang dari arah sawah Mbah Ja’far yang sedang ditanami kacang benguk. Kebetulan sawah Mbah Ja’far memang berpetak-petak dan luas sekali.

Lagi. Peristiwanya terjadi pada September 2011. Saat Zaki berusia 2 tahun. Saat itu saya sedang berada di Jogja, dalam rangka pulang kampung. Suami saya sudah kembali ke Riau. Setiap pulang kampung saya selalu menyempatkan berlama-lama berada di Jogja,bisa sebulan atau lebih. Selain supaya embah-embah Zaki puas melepas rindu ke cucunya, juga waktu saya belanja kain batik dan dagangan saya menjadi lebih santai dan longgar. Nah, saat itu saya pas berada di kediaman mertua di Komplek PNS di Jogjakarta kota. Malam itu setelah shalat Isya saya berencana membeli beberapa keperluan anak saya seperti susu dan popok. Oh iya, satu lagi, saya membelikan Zaki sebuah boneka besar untuk teman tidurnya, karena sebelumnya dia kepincut dengan boneka salah satu tetangga yang akhirnya dia bawa pulang hingga berhari-hari tak boleh dikembalikan. Saya hanya berjalan kaki karena letak Superindo yang sangat dekat, hanya perlu meyeberangi jalan HOS Cokroaminoto, sedikit bisa dibilang berhadapan dengan komplek tempat tinggal mertua. Pulangnya, melewati pos satpan kompek, saya melihat Mas Pur dan seorang temannya sedang mencuci kendaraannya. Mas Pur adalah seorang kolektor mobil-mobil antik yang juga hobi memodifikasi sepeda motor. Saya melihatnya begitu asyik mengelap dan menyiram busa-busa yang menempel di kendarannya dengan air. Namun sesaat kemudian, Mas Pur dan temannya tak tampak. Sepi. Bahkan kendaraan yang mereka cuci juga tidak ada. Saya celingukan sambil terus berjalan. Saya tidak langsung meresponnya dengan rasa takut atau apa. Lagi-lagi, lemotnya daya tangkap saya. Hanya bertanya-tanya saja kok bisa mereka hilang dalam sekejab. Melewati kediaman Mas Pur, saya masih saja celingukan. Kemudian beberapa langkah ke depan saya melewati pohon matoa berukuran sangat besar yang tumbuh di komplek. Saking besarnya, pohon itu sampai-sampai bisa ditengok lewat Google Map. Tiba-tiba terdengar suara kemrosak ranting dan dedaunan bergoyang sangat kuat. Sepertinya hanya ranting yang berada di atas kepala saya saja yang bergerak hebat. Yang lain tenang. Seketika saya reflek mendongak ke atas. OMG! Ada sosok hitam dengan bagian atas bulat licin, sewujud makhluk berkepala botak sedang duduk di dahan itu. Huwaaaaaaaaaaa…saya langsung lari sekuat tenaga. Barang belanjaan saya yang lumayan banyak dan berat itu tidak terasa berat sama sekali. Tahu-tahu saya sudah di depan pintu rumah, mengucap salam sambil tergagap-gagap cerita ke Bapak Ibu mertua. Bapak mertua saya langsung keluar rumah untuk memastikan keadaan. Ruapanya di sana ada Mas Pur dan kawannya yang sedang mencuci kendaraan. Gila! Apa-apaan ini, pikir saya. Saya sudah dikerjai. Pikiran saya bercampur antara dongkol dan takut jadi satu.

Lagi. Kejadiannya baru beberapa bulan yang lalu di Town Site I Riaupulp, Pelalawan, Riau. Malam itu saya (sendirian) dalam perjalanan pulang dari Pangkalan Kerinci untuk berbelanja kebutuhan bulanan seperti susu, tissue, detergen, aneka sabun, minyak goreng, snack, buah-buahan dan keperluan Zaki seperti minyak kayu putih. Sengaja pergi sendirian karena ayah sedang on call
[Nunggu telepon berdering. Sewaktu-waktu kalau ayah ditelpon untuk segera ke pabrik, sedang kami lagi belanja di Pangkalan Kerinci kan repot, bisa-bisa ayah kena warning dari bosnya. Makanya ayah di rumah bersama Zaki. Andai ayah dijemput taxi untuk segera ke pabrik, Zaki bisa dititipkan ke tetangga terdekat dulu sembari menunggu kedatangan saya]. 
Nah, saat sudah masuk melewati Pos I, perjalanan saya dilanjut dengan melalui kawasan boulevaard yang jaraknya kurang lebih 1 km. Melewati jalanan sepi dengan kiri kanan bukit rumput dan pepohonan peneduh. Setelah berbelok di persimpangan, saya melewati mess karyawan. Melewati deretan bangunan mess, di bawah Hotel Unigraha…lho kok bawah sih. Iya karena letak hotel di atas bukit, sekitar 20 m di atas sana. Dengan santai memacu kecepatan tak sampai 30km/jam karena banyak gundukan polisi tidur. Di tengah berkendara itu, saya melihat suatu benda berwarna hitam teronggok di rerumputan di tepi jalan. Sesuatu yang hitam itu berbentuk kepala sebatas leher  berambut panjang terurai menutupi sebagian wajah. Deg. Badan saya langsung dingin. Saya tak peduli lagi dengan polisi tidur. Saya memacu sepeda motor saya kuat-kuat hingga rumah. Ta’awudz.

Lagi. Hari Ahad kemarin. Saya ke Pangkalan Kerinci sendirian. Padahal paginya kami sudah belanja. Tapi satu barang yang sangat krusial rupanya harus diganti malam itu juga. Apa itu, gelas minum susu Zaki. Gelas yang ada penutup dengan ujung yang agak moncong dan berlubang itu lhooo… Tepat persis di tempat saya melihat sosok kepala berambut pajang yang saya ceritakan sebelumnya, di bawah Hotel Unigraha, dekat dengan Food Court saya mencium aroma wangi luar biasa. Wanginya tidak seperti wangi melati. Tapi aroma wangi bunga kanthil atau bunga cempaka putih. Sesuatu yang tidak biasa bukan? Secara sehari-hari komplek dipenuhi aroma gas buang pabrik berupa gas H2S yang aromanya seperti kentut. Lagian di dekat food court biasanya yang tercium tuh aroma ikan bakar atau tumisan bumbu yang bikin perut keroncongan….Saya paham betul aroma bunga kanthil, karena pengalaman waktu kecil, setiap ada tetangga yang hajatan, mereka selalu membuang sesajen di beberapa tempat seperti pertigaan, batu besar, pohon besar, sumur atau belik tak bertuan dll. Saya yang saat kecil suka iseng sering memainkan sesajen itu dan mengambil uang koin yang biasanya diselipkan di buah pisang.

Masih ada beberapa pengalaman "diganggu" saya, namun takut artikel ini terlalu panjang dan membosankan, makanya saya pending dulu. Yang jelas pengalaman itu terjadi di sebuah rumah sakit terkenal di Jogjakarta. Sebuah rumah sakit yang letaknya tak jauh dari Bundaran UGM

Nah, sekian pengalaman saya “diganggu”. Mungkin diantara sahabat blogger juga pernah mengalaminya. Kadang pengalaman “diganggu” tidak selamanya mengerikan, bikin takut atau gilapen. Ada yang biasa saja, malah ada yang bikin dongkol seperti pengalaman saya di bawah pohon matoa. Huh banget ya?



Posting Lebih Baru Posting Lama

63 Responses to “Pengalaman "Diganggu"”

  1. hehe... Panjang amat ya gan :D

    BalasHapus
  2. Wadah ... bunda. Serem gituh ya ... Tapi jadi penasaran dengan yg di BUndaran UGM.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang disituh mah sosoknya cantik banget gan

      Hapus
    2. ah aku mah digangguin mang lembu mulu...
      *sebel...

      Hapus
    3. wiiih lebih serem kayaknya di ganggu mang lembu hehe

      Hapus
    4. bukan di bundaran UGM Mas, tapi di rumah sakit yang letaknya dekat dengan bundaran UGM.

      lebih waspada digangguin Mang Lembu daripada digangguin yang nggak kelihatan...terutama para bapak.

      Hapus
  3. wis kalo soal serem2an lewat ah..
    aku penakut...
    palagi rumahku juga ada 'penunggunya'...untung aja ga pernah ganggu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. andaikan saya yang jadi penunggunya...niscaya tak kan ku melepaskan penghuninya untuk diganggu setiap waktu.

      Hapus
    2. yuk Kang Cilembu kita tangkap aja

      Hapus
    3. sapa sing ditangkep kang Zach

      Hapus
    4. emang kang lembu itu lelembut ya ?

      Hapus
    5. emang ga tau kalo lelemut itu dari kata dasar lembu..?

      Hapus
    6. hahaha terus ci-nya air...

      Hapus
    7. yang nunggu rumah Mbak Ay suka minjem alat nggak? kalau yang di rumah suka minem pena, gunting dan peralatan kecil lain...kadang jawab salam juga.

      cilembu...air lelembut...air ngga kelihatan?

      Hapus
  4. Balasan
    1. kerenan kumis saya gan daripada gantungan

      Hapus
  5. Kalau saya biasanya mengalami hal di gamnggu seperti ini, malah saya ganggu lagi setannya Mba, jadi kuat-kuatan aja ganggunya toh gak bakal setan ngegigit. he,,, he,, he,,,,

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap manusia berbeda, ada yang berani karena sudah mentok mw ngapain, ada yang berani langsung natap dn balik nantang, ada juga yang berani tpi secara diam2 melihatnya ada juga yang berani dengan lari kocar-kacir sejauh mungkin tuk menghindar .....hehehehehe

      Hapus
    2. kalau suami saya iya pak...maklum di sini dulunya kan hutan belantara, bahkan sebagian area pabrik dulunya adalah bukit yang dipangkas, sekarang diratakan untuk dijadikan wood yard...jadi nggak heran kalau banyak yang kayak gitu pak. bahkan beberapa orang sempat melihat orang pendek (itulho mitos yang berkembang bahwa di hutan belantara masih bisa ditemui suku pedalaman)

      Mas Fiu, kalau saya kadang nggak nyadar saat diganggu, detik ktu juga nggak ngeh...baru setelah sepersekian detik baru sadar dan takut

      Hapus
    3. Kalau kepet ya,,,,, berani kabur....... he,, he,, he,,,,

      Hapus
  6. dari semua kajdian yang dialami mb husna, mulai dri cahaya, suara pasir, bayangan, api yang berkobar dan suara laenya... bisany berawal dri pikiran kita ketika berjalan ditempat sepi tidak tenang dan gelisah, ittu membuat jin-jin suka mengganggu manusia,... krena mereka tahu apa yg diraskan manusia, dengan itu jin merubah wujud jadi berbagai maca rupa, sehingga kadang kita lihat makhluk2 yang menyeramkan. ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi begitu Mas...namun hamdalah saya selalu memelihara doa saya sebelum pergi meninggalkan rumah, anak saya juga saya biasakan berdoa dan minta perlindungan Alloh ta'ala sebelum bepergian. anehnya saya nggak pas dalam keadaan galau (iya sih waktu dilempari pasir doang), bahkan dalam suasana hati yang biasa saja.

      Hapus
  7. duh sampai seusia gini, saya belum pernah mengalami kejadian-kejadian aneh seperti itu Mbak. Malah saya pernah menantang pingin ketemu yang begituan di tempat yang katanya wingit, pas tengah malam saking penasarannya, tapi sampe setengah jam nggak ada penampakan sama sekali. Mungkin mereka takut liat jenggot saya kali yak wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah asyik dong pak. kalau saya bisa, saya juga berharap nggak melihat yang begituan Pak...tapi namanya juga nggak sengaja, mungkin daerahnya aja yang di sini terlalu "wingit" ya karena sebelum ada pabrik tempat ayah Zaki bekerja, dulunya adalah hutan belukar yang benar-benar masih belum terjamah tangan manusia

      Hapus
  8. Alhamdulillah saya ga pernah mengalami kejadian seperti itu ;) hehee semoga aja ga pernah sama sekali. aamiin

    BalasHapus
  9. horor banget kisahnya yang diatas pohon.. karena saya pernah ngalamin juga.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, waktu itu kaki saya sampe sakisakit Mas...nggak tahu, rasanya kok capek banget, padahal larinya nggak ada 50 m doang, rasanya kok kayak lari berkilo-kilo meter

      Hapus
  10. hiii...serem banget ya....tapi kalau saya mah, tak ajakin ngobrol sekalian deh hantunya, kalau perlu ngopi barengan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya iyalah
      sesama hantu kudu akur
      ngopi bareng, ngemil ubi bareng...

      Hapus
    2. hahaha, berteman gitu maksudnya Mang?

      Hapus
  11. benar2 pengalaman spiritual yg langka sist, berarti mbak khusna memiliki kepekaan mata batin, dan itu hanya dimiliki oleh org2 yg jujur :)
    itu anugrah sist, bisa melihat sesuatu yg tidak bisa dilihat oleh sembarang orang ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak juga Mbak, biasa saja...nggak hanya saya, masih banyak orang sini yang sering melihat gituan kok Mbak...terutama di lingkungan mill site

      Hapus
  12. walah jadi takut nih. mbak khusna harus tanggung jawab klo ntar malem saya tidur ngompol gara2 saya nggak berani ke kamar mandi sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedia pispot mas budi .. he he

      Hapus
    2. nah, biar Mas isnaini yang menanggung Pak Budy, saya yang njawab aja

      Hapus
  13. wah ,, serem banget nh pengalamanny...bikin bulu kudub merinding..

    BalasHapus
  14. luar biasa pengalamnny.. klo sy sih langsung pingsan di tempat...heheh

    BalasHapus
  15. banyak ketemu pnampakan, nunggu kelanjutannya, smoga tambah serem ;) hiii
    jngan2 indigo ya mba'

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan indigo tapi indehoy

      Hapus
    2. indigo karo indehoy ishih dulur kui..haha

      Hapus
    3. indigo apa indi barens Pak Wong? enggak koq Pak, saya cuma nggak sengaja lihat

      Hapus
  16. hehe, menarik banget nih. seruuu. saya bm ya Mbak, buat saya baca2 lagi ntar di kereta, sore2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kereta malam bae bareng soimah

      Hapus
    2. sudah selesai belum Pak Zach naik keretanya?

      nang Suroboyo ya Mas Is?

      Hapus
  17. wah asyik bacanya, ikalau penulis skenario film hantu baca, pasti jadi dapet ide

    BalasHapus
  18. saya seneng baca yang berbau mistis gini mbak, lain kali ceritakan lagi ya..soalnya saya kok tidak pernah ya (tapi saya tidak sombong dan tidak nantang lho ini). Kalau kelindihan atau ketindihan pernah mbak, cuma tidak senikmat berinteraksi langsung.
    dulu waktu sekolah di jember sana, kami kontrak di rumah yang dulunya tiak berpenghuni, kami yan babat alas, dan saya kok ya kebetulan dapat kamar yang pojok belakang sebelah kamar mandi dan dapur. Kata penghuni yang dahulu dahulu, beliau pernah di ketok i satu keluaga , bapak, ibu dan anak dengan muka serem.
    eh pas saya tempati, kok ya alhamdulillah tidak ngetok belas je mbak..
    apa mereka takut dengan muka saya ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bau ya tutup hidung to Pak Agus...

      hahaha, say juga nggak sengaja lihatnya pak. kalau disuruh milih, ya lebig enak nggak usah diganggu to Pak Agus...wong lihat kayak gitu malah bikin saya jadi jirih je Pak..

      Hapus
  19. Waduh, banyak banget kejadiannya... kl saya (yg saya tahu dr emak saya) di"usil"in jin sekali ketika saya masih bayi. Saya dipindah dari atas ranjang ke kolong ranjang, dengan posisi bantal, selimut, perlak yg sama persis sewaktu di atas ranjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, lucu banget Pak pri...mungkin dia gemes sama baby panjenengan Pak...tapi saya juga pernah dengar cerita serupa...malah ada yang bilang dipinjem atau dijak dolanan

      Hapus
  20. hebat ternya bunda zaki :D kalo aku sih, yaaa gitu deh :D

    mampir bun
    http://belajar-be.blogspot.com

    BalasHapus
  21. kalau masalah diganggu yang gituan sayah belum pernah mbak KK dan jangan pernah terjadi deh....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya