Pernah Di-bully?

Pernah Di-bully?

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan sebuah film dokumenter yang berjudul Bully. Sebuah kisah nyata kehidupan anak-anak sekolah yang mengalami perilaku bullying di luar negeri. Terdapat beberapa kisah anak yang mengalami tindak kekerasan baik verbal maupun fisik di sekolah oleh teman sekelas atau seniornya. Anehnya, pihak sekolah sepertinya kurang concern dengan peristiwa yang dialami oleh anak didiknya. Walaupun ada salah satu sekolah yang peduli, namun ternyata dewan sekolah tetap tidak mempu melindungi keselamatan si korban secara 100%. Andai di sekolah si korban aman, di bus sekolah mereka akan mengalami penindasan dan kekerasan fisik. Saya nggak tega.

Saya yakin, diantara sekian sobat blogger, satu diantaranya juga pernah mengalami tindakan bullying ini, walau imbasnya tak separah yang saya ceritakan di film Bully. Sepeti sebuah curhat di bawah ini. Mengenai seseorang yang bercerita bahwa dia pernah di-bully. Berikut cuilan kisahnya.

Postur saya mungil. Waktu SD sering sekali teman-teman sekelas mengejek saya. Kadang mereka mengucilkan saya. Merebut alat-alat tulis saya kemudian menodongkan ujung pensil ke arah mata saya. Saya yang waktu itu memang tak mempunyai keberanian untuk melawan hanya terdiam. Namun saya berusaha untuk tidak menangis. Jangan sampe deh menangis di sekolah. Tapi niatan itu ternyata hanya angan belaka saat seorang anak laki-laki melemparkan seekor serangga berukuran sangat besar ke punggung saya. Sejenis kumbang atau kepik berwarna hitam. Saya menangis sejadi-jadinya. Seorang guru yang mengetahui kemudian datang menolong saya. Bapak Rakiyo. Sekarang sudah sepuh. Kediaman beliau tak begitu jauh dari rumah orang tua saya.

SMP dan SMU menjadi saat-saat aman dalam masa saya bersekolah. Saat SMP teman-teman sekelas saya baik-baik semua. Beberapa malah baik luar biasa. Saat SMU pun demikian. Apalagi ada seseorang yang selalu menjaga saya. Siapa dia? Teman sekelas saya, orang yang saat ini menjadi suami saya, ayah dari anak saya.

Saat melanjutkan sekolah di sebuah STMIK di Jogjakarta, saya juga merasa aman dan baik-baik saja. Pernah sekali mengalami kekerasan verbal, tapi itu bukan sesuatu yang membuat saya down atau drop. Malah seperti cambuk untuk membuat saya menjadi lebih baik.

Empat atau lima tahun setelah itu, kembali saya mengalami bulliying. Pelecehan, dikucilkan, intimidasi...apapun itu istilahnya, saya tidak begitu paham. Namun yang jelas tindakan itu sangat menyakitkan. Kekerasan fisik sih tidak. Tidak begitu terasa maksudnya. Pernah suatu ketika bahu saya didorong oleh seseorang dari belakang saat orang itu menyuruh saya mengerjakan sesuatu. Di dorongnya sih enggak sakit, namun tubuh saya sempat oyong ke depan dan hampir kejlungup. Hati saya seperti teriris-iris, pedih. Jelas saya tidak bisa membalasnya, bukan tidak bisa, namun tidak boleh membalasnya. Akan tak etis kalau saya membalas tindakan itu. "Apa kata dunia?" mungkin itu kalimat paling tepat jika saya membalas tindakan yang beliau lakukan.

Tak cuma sekali itu. Masih ada satu lagi tindakan fisik dan verbal yang tak bisa saya ceritakan di sini. Peristiwa yang membuat saya trauma luar biasa. Namun saya bisa survive dan hamdalah tidak terjadi apa-apa dengan diri saya.

Ngomong-omong tentang kekerasan verbal, saya termasuk orang yang lumayan sering mengalaminya. Dibilang mentah-mentah di hadapan saya sih jarang banget. Tapi biasanya mereka berkasak-kusuk di belakang saya, kemudian saat saya datang, mereka menyindir-nyindir saya. Entahlah...apa karena saya terlampau sensitif atau apa jadi hal itu jadi berefek dalem banget buat saya. Mereka menyinggung-nyinggung jilbab besar saya, teman-teman saya yang memakai cadar, atau sikap saya yang pendiam di lingkungan mereka. Padahal pendiam saya karena saya bersikap prefentif. Saya berusaha diam agar nantinya saya tidak mengalami kekerasan yang lebih jauh lagi, yaitu kekerasan fisik seperti beberapa tahun lampau. Mereka selalu mencemooh teman-teman saya sebagai "orang aliran keras". Aliran keras apanya, saya heran. Teman-teman saya adalah orang-orang yang sangat peduli dengan saya, suami saya, maupun anak saya. Saya sama sekali tidak pernah menganggap mereka ekstrim atau apa. Mereka pribadi-pribadi care, cerdas, modern dan maju, tidak seperti yang diberitakan di televisi dan surat kabar.

Mungkin mereka tidak menyadari bahwa sikap mereka telah melukai hati saya. Bisa jadi mereka menganggapnya itu hal yang wajar. Atau bisa jadi mereka sengaja melakukannya dengan tujuan tertentu yang saya, suami dan anak saya tidak tau alasannya. Tapi satu yang membuat saya tak habis fikir, jika ada orang asing atau orang lain di antara kami, beliau-beliau bersikap seolah-olah mereka luar biasa baik terhadap saya. Sudahlah, saya tidak ingin membahas lebih jauh. Saat ini prioritas saya adalah menyiapkan diri saya. Menyiapkan agar saat bertemu mereka kelak saat kami pulang kampung, saya akan baik-baik saja, tidak cengeng dan lebih tegar. Saya sangat bersyukur, dukungan suami dan anak saya mengobarkan kembali semangat saya dalam menghadapi situasi ini. Orang tua saya juga merupakan penyemangat yang luar biasa untuk hidup saya.


Nah, semoga kisah bullying di atas membuat kita lebih mawas diri (untuk saya khususnya). Siapakah diri kita. Siapakah teman bergaul atau keluarga kita. Jangan sampai silaturahmi tercoreng gara-gara ucapan atau perbuatan kita yang menyakiti orang lain. Secara bullying tak hanya sebatas kekerasan fisik, namun verbal, bahkan cyberbullying juga ada. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang tepat dan tidak sesuai. Salam.

Posting Lebih Baru Posting Lama

34 Responses to “Pernah Di-bully?”

  1. Benar sekali Mba, terkadang dalam bersikap terutama ucapan kita selalu di luar kendali, namun sebagai sahabat biasanya prilaku seperti ini, bisa saling memahami, mungkin saja kondisi pada saat itu sikonnya sedang tidak pas bagi orang tersebut, atau sedang mendapatkan suatu tekanan. jadi rumusan terbaliklah yang harus kita pergunakan. Harap maklum. He,,,he,, he,,,,

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo aku mah aman dari kecil sampe tua, malah waktu kecil mah jagoan, usia 3-4 tahun senengnya jorokin anak lain...hahaha.. abis jorokin trus pura-pura cool kayak ga ada apa-apa.. emang bakat jadi preman sejak balita kayaknya..:))

      lalu soal nyakitin secara verbal juga ga ada kayaknya, ga ada atau ga peduli ya..? ada sih kadang, cuma mikir lagi, buat apa dipikirin, wong otak ini aja dah penuh koq.. cuekin aja.
      aku juga orang yg sensitif, mudah nangis kalo ada yang ngomong agak kasar dikit. eh, emang dasarnya mewekan ding...hihihi..

      *jane aku ngomong opo toh..?

      Hapus
  2. Selamat Pagi Mbak Khusna simak artikel nya
    Tentang Film Bully kaya nya ada Nostalgia Mbak Khusna waktu
    Masih sekolah jadi inget terus yah Mbak Mas-masa itu pas nonton
    Film Bully ceritanya anak sekolah jadi kebayang-bayang indah nya
    Masa Remaja. selamat mengenang deh Mbk Khusna semoga tersenyum :D

    BalasHapus
  3. Prinsip yang berbeda terkadang menyebabkan shock bagi orang yang tidak paham akan arti perbedaan dan hak berprinsip, pun dengan orang yang biasa berkepribadian iri dengki. Cuman, setidaknya kita ingat, bahwa rosul pun mendapat perlakuan yang bahkan lebih dari sekedar dicaci maki. :-) Prinsip kita umat Islam harus dipertahankan meski harus mengorbankan nyawa.

    BalasHapus
  4. saya pernah di buly dan pernah juga membuly. Tapi tindakan saya terhadap teman dan tindakan teman terhadap saya hanya sebatas guyonan bukan bermaksud merendahkan teman. Saya malah baru tahu baru-baru ini istilah bully yang konotasinya adalah sangat merendahkan orang lain. Di kereta KRD pagi hari, tiap hari saya melihat dan mendengar secara sah dan meyakinkan, banyak orang yang saling ejek dengan maksud guyonan. Istilah mojokertonya "krecek-krecekan". Dan mereka sangat enjoy, itu sebagai latihan mental. Tapi bagi orang yang tidak kuat mental pasti dimasukkan dalam hati dan nggrundel.
    Bully atau tidaknya tergantung dari persepsi kita, jadi by desain oleh otak dan pikiran kita.
    untuk saya sendiri semenjak lulus SD (bukan tahun 2002 lho ya, hehe) tidak pernah mengejek temans. karena prinsip saya, saya baik pada teman tidak mungkin teman akan berbuat buruk pada kita, kalaupun ada yang berbuat buruk anggap saja teman lagi mlengse otaknya alias konslet.
    begitulaaaaaaaaaah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sikap mas agus semenjak SD emang super sekali jan lah ....

      Hapus
    2. namanya juga Agus Setya, mas...

      Hapus
    3. biasa karena sudah terbiasa....yesss

      Hapus
  5. ane tukang bully. tapi di dunia maya. istilah kerennya sih cyberbullying. tapi cuman bermaksud ngerjain temen aja sih. iseng gitu u.u

    BalasHapus
  6. pernah juga sih mb bully terjadi sama saya. tapi sya cuma pengen nambahin yg ada kalimat mencemooh aliran sesat, kalo ada orang yang mengatakan seperti itu baiknya balik tanya lag mb contoh : " anda mengatakan kami sesat, apa anda sendir sudah betul menjalani sunnah Rasul dan hafal qur'an haditsnya" ... solanya sekarang banyak yang kata syair nya Gusdur " Akeh kang apal qur'an hadist'e # tapi senenge ngafirke marang liyane" ... gmn menurut mba husna ? ^_^

    BalasHapus
  7. Kl dulu saya-lah yg sering jd korban bully... mklum saya ini orgnya penakut banget... hiks, hiks...

    BalasHapus
  8. saya juga dulu lumayan sering jadi korban bullying ini mbak hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut saya sekarang, silakan membuly saya, saya lho tidak ngurus rai nya..
      hehehehe

      Hapus
  9. Dulu waktu jaman Tika sekolah, gak pernah di Bullying... Tapi saya tipikal anak yang suka membalaskan "sakit" teman-teman yang biasa di bullying, hehehehe.... semua perlakuan itu pasti ku balas kan, jadi teman2 yang biasa di bullying pasti sering ngelapor... uuuuhhhh bajingan kita eh waktu sekolah SD dulu hehehe :D

    BalasHapus
  10. Bully menurut saya adalah penyakit yg harus dibuang, karena memang sangat merugikan org lain. Seharusnya memang ortu tahu bagaimana cara mengatasi anaknya jika di bully dan juga mencegah seorang anak utk tdk menjadi pem bully.

    BalasHapus
  11. Saya juga saat masih kecil ( SD ) sering jadi korban bullying

    BalasHapus
  12. Sy sering mbak d bully t wktu sekolah dlu nggak pke kekerasan sih ... Cm sk ngomong di belakang aja .. Gr2nya bpk saya itu guru SD mbk ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. di belakang itu berarti di belakang rumah ya ?
      ada ayam, kucing, kadal, dan juga manuk..emang mereka bisa ngomong ?

      Hapus
    2. Dibelakang itu berarti dibelakang pohon (emang depan pohon yg mama ya)✌

      Hapus
  13. Saya pernah di bully di forum hanya karena berbeda pendapat. Pedahal kan negara kita negara demokrasi :)

    BalasHapus
  14. alhamdulillah, saya blm pernah mbak, soalnya dulu saya nyari temennya yg baik2 saja..yg gak baik2 gak saya deketin, trs wkt jamannya skolah kebetulan sekali saya yg seringkali jd ketua muridnya, jd ya gak ada yg brani mcm2 ama saya :)

    BalasHapus
  15. alhamdulillaah saya belum pernah mengalami bully mbak,,entahlah kalau secara verbal di belakang,yang jelas saya tidak mengetahuinya. mungkin saya termasuk orang yang berteman dengan orang2 yang baik,jadi lingkungannya baik..hehehe... pede banget deh saya :D

    BalasHapus
  16. Saya juga sering di bully waktu sekolah. .
    tapi saya tidak perduli. .dan mencoba untuk selalu sabar dan kuat. .
    alhasil saya sekarang menjadi manusia yang tegar dan kuat serta penyabar. .:)

    BalasHapus
  17. Wah saya malah Jadi penasaran kisah pisik secara verbal yang ta bisa di ceritakan, kira-kira kisah apa ya?

    BalasHapus
  18. OK Mbak ketangkep pesennya
    saya pun akan berkaca diri untuk memperbaiki sikap dan ungkapan saya

    BalasHapus
  19. saya juga pernah di bully, tapi itu cerita masa lalu, ya udah, lagi pula yang bully udah jadi temen, ya meskipun cukup aneh si

    BalasHapus
  20. akibat bully sangat fatal bgi prkmbngn anak. anak bisa mnjdi pendiam, pmurung, menutup diri bahkan sampai bunuh dri. dan brpikir bahwa dirinya hanylah smpah yg tak bernilai. setiap anak tdak ingin terlahir utk di bully. bkankh mereka manusia selayknya jga di manusiakan. bahkan yg membuat sedih indonesia adlah slah satu negara dg pembully terbanyak

    BalasHapus
  21. sudah akhir zamankah saat orang mengikuti agama islam dengan benar malah asing

    BalasHapus
  22. Gw awalnya dibully, lalu, karena nggak terima akhirnya gw jadi pembully.

    Gw sempat dinasehatin biar gak ngebully lagi, terus, akhirnya gw mulai temenan deh.
    Di SMP, pas gw dibully lagi, gw balas sih, tapi pada pengecut semua.. Habis pukul terus lari..

    Kompleks Bener kan??

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya