Sebua Cerita

Sebuah Cerita



Rina tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya. Dia terisak-isak di rumah orang tuanya. Namun dia mencoba sekuat mungkin menahan isakannya agar tak sampai terdengar oleh anggota keluarganya yang lain, terutama bapak ibunya. Di kamar, Rina membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal. Tubuhnya terlihat letih.


Sore itu dia kembali ke rumah orang tuanya. Pernikahan yang dia bangun sejak 9 bulan lalu bersama Ali ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Saat ini kehamilan Rina sudah menginjak bulan ke-7. Suaminya masih berada di tanah rantau karena tuntutan pekerjaan. Sembari menunggu kepulangan Ali kelak saat si jabang bayi tiba tanggal prediksi lahir, Rina diminta tinggal bersama mertuanya. Alasannya tak lain karena rumah mertua Rina berada di kota, supaya mudah memeriksakan kandungan ke dokter spesialis, bukan cuma bidan. Suatu alasan yang masuk akal karena orang tua Rina tinggal di pelosok, di kampung yang masih terpencil di mana bidan atau dokter sangat jauh.


Hari kepulangannya ke rumah orang tuanya adalah saat paling traumatis yang pernah Rina alami seumur hidup. Bisa jadi merupakan mimpi buruk yang akan selalu menghantui selama sisa usianya.


Adalah Yazid, seorang abang sepupu Ali. Saat itu dia berkunjung bersama keluarganya ke Jogja, ke rumah orang tua Ali, mertua Rina. Bersilaturahmi dan sekaligus ada beberapa urusan keluarga, salah satunya menghadiri pesta pernikahan putra saudara bapak mertua Rina yang tinggal di Jogja. Tak hanya Yazid, namun beberapa keluarga lain dari Tuban, Semarang, Solo, Jakarta, Bandung dan Salatiga juga berkumpul di rumah mertua Rina. Sepertinya moment itu dimanfaatkan  untuk saling bertemu karena sebagian  dari mereka adalah orang sibuk, orang terpandang di negeri ini. Rina yang notabene berasal dari sebuah keluarga mungil dari orang tua yang merupakan putra tunggal merasa sangat gembira, keluarga barunya ternyata mempunyai saudara yang sangat banyak. Baru pertama kali itu Rina bertemu. Dulu sewaktu pesta pernikahan, keluarga yang datang jumlahnya tak sebegitu banyak. 


Rina sebagai anak menantu perempuan sangat sibuk menyiapkan hidangan untuk para tamu. Tak henti-hentinya dia membuatkan minuman dan makanan untuk tamu mertuanya. Teh tubruk, air putih, sirup jeruk, kue-kue. Entahlah kenapa hari itu Rina sama sekali tak bisa beristirahat. Tak ada yang membantunya. Hanya dia satu-satunya perempuan di rumah itu kecuali ibu mertuanya. Jelas sang ibu sibuk menerima tamu, mana sempat beliau berada di dapur sementara tamu semakin banyak berdatangan. Menjelang malam, perut Rina seperti kram. Tegang dan nyeri menusuk-nusuk. Kelelahan. Namun dia tak bisa langsung beristirahat karena ternyata beberapa saudara tak pulang hari itu. Mereka terlalu capek melakukan perjalanan jauh. Jadilah sebagian menginap di kediaman mertua Rina.


Yazid berusia sekitar 30 tahun. Kata mertuanya, dia seorang haji muda. Di Tuban panggilan dia adalah “Pak Haji”. Memang hampir seluruh keluarga besar mertuanya sudah menunaikan rukun Islam ke-5. Dari keluarga bapak mertua, mereka adalah pembesar-pembesar pondok pesantren paling terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari keluarga ibu mertua, mereka adalah para akademisi yang mengabdikan ilmunya di perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama di Indonesia. Rata-rata mereka mendapat gelar S2 atau S3 dari luar negeri. Di keluarga itu, hanya Rina-lah yang tamatan SMU.



Saat Rina sedang merebahkan badan di kamar, tiba-tiba saja pintu kamar  dibuka oleh seseorang. Rina yang setengah tidur terbangun. Dia terperanjat melihat sesosok laki-laki masuk ke kamarnya… Yazid. Ternyata Yazid yang masuk ke kamar temaram berlampu 2,5 watt itu. Mengetahui Rina bangkit dari tempat tidur, buru-buru Yazid keluar dari kamar, tanpa menutup pintu. Aneh, pikir Rina. Mungkinkah dia salah masuk kamar? Entahlah. Rina sudah terlampau letih untuk menelisir dan menyimpulkan.


Keesokan hari, Yazid tampak berbeda di mata Rina. Sikapnya tidak seperti anggota keluarga yang lain. Sebentar-sebentar terlihat dia memandang ke arah Rina. Agak berlebihan sebagai seorang saudara. Beberapa kali dia mencoba mengajak ngobrol dan menawarkan bantuan. Rina menolaknya. Sikapnya menjadi kaku terhadap laki-laki itu. Dia kurang suka diperlakukan seperti itu. Beberapa kali mencoba menghindar dan memalingkan pandangan setiap kali berpapasan dengan Yazid. Bahkan saat sarapan pagi, Rina lebih memilih sarapan belakangan karena tak ingin satu meja bersama Yazid dan keluarga.


Tak berani Rina mengadu ke siapapun. Bahkan ke suaminya. Ada banyak kekawatiran jika Rina mengadukan hal itu ke suaminya, siapa tahu itu memang sifat dasar dari seorang Yazid.


Sore hari saat Rina sedang masak untuk makan malam, suatu yang diluar dugaan terjadi. Dapur sempit mamanjang itu menjadi saksi bisu. Di tengah asyiknya keluarga besar itu bercengkerama di ruang keluarga sambil menonton televisi, Yazid melakukan hal tak senonoh terhadap Rina. Tubuh Rina yang sedang menumis bumbu untuk bikin cah sawi itu dipeluknya kuat-kuat dari belakang. Sontak Rina meronta ketakutan. Namun tak berani dia menjerit. Yazid mengancam akan membunuhnya jika dia melawan atau berteriak. Tangan Yazid meraba-raba bahu Rina. Rina bersikeras meronta. Telapak tangannya digemnggam erat-erat oleh Yazid. Dia mendekatkan wajahnya ke wanita ayu itu, seperti hendak mencium. Dengan sekuat tenaga Rina meronta melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki gila itu. Rina yang tengah hamil besar itu melarikan diri ke garasi rumah. Dia terisak-isak sendiri. Setelah tenang, dia lekas meyelinap ke kamar. Kamar dirasanya sebagai tempat paling aman untuknya. Dia segera menelepon suaminya yang sedang di rantau. Dengan serta-merta suaminya marah kemudian menelepon orang tuanya. Namun aneh, tak ada tanggapan serius dari keluarga itu. Bahkan sepertinya seperti tidak ada kejadian apa-apa sore itu. Dengan tergopoh Rina mengambil telepon genggamnya. Dia menghubungi adik laki-lakinya. Memintanya untuk segera datang menjemputnya.


Dengan alasan bohong, Rina pulang ke rumah orang tuanya di desa. Dia bilang ke mertuanya bahwa ibunya sedang repot mempersiapkan arisan keluarga, dia dimintanya membantu. Jadilah sore itu dia kembali ke rumah orang tuanya. Sejak peristiwa itu terjadi, hanya pikiran skeptis yang ada terhadap keluarga mertuanya. Rina merasa terbuang.


Posting Lebih Baru Posting Lama

71 Responses to “Sebua Cerita”

  1. asiiiiiik, jdi inget nih stelah baca kisah itu ,,,,hehehehe salam ukhuwah ukhtiiii ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang inget apanya Mas?

      # bertanya-tanya

      Hapus
    2. inget pelajaran matematika pasti

      Hapus
    3. itu loh mba'e krn ada kata2 rantau jadi inget dulu rantau ke sulawesi ,,,,, hehehehe bukan inget matemtika mas Zachflazz ^_^

      Hapus
    4. oooh kirain ingat jenx Rina hehehe

      Hapus
    5. tak kira ingat saya mas..kan sama-sama laki-lakinya masak saling ingat sih

      Hapus
    6. owalah ingat masa-masa di rantau to Mas Fiu nih...saya pikir ingat hamil? hehehe
      tapi luar bisa loh bisa merantau sampai Sulawesi...kata teman saya, di sana unik banget loh...Toli-Toli...

      Mang Yono sama Pak Agus kok malah saling ingat to? saling merindu juga nggak?

      Hapus
    7. mas yono @ xixixixixi, ya nda toh masa mw ingetnya ama jenk rina...

      mas Agus @ haaaaaaaaaaaaaaa? tidaaaak jeruk makan jeruk donk klo gtu ....hahaha

      mBa husna @ perempuan kali mb klo hamil :P hehe, iya 5 thn disulawesi seru abiz dan unik mb'e .... heee

      Hapus
    8. nah, siapa tau nanti saya malah diajak merantau ke sana sama suami saya

      Hapus
    9. suami mba suka merantau juga toh ?

      Hapus
    10. aku malah belum baca
      *panjang bener...

      Hapus
  2. kisah nyata ya mb?,,,,,
    haji muda tergoda wanita,,,,

    memang susah ya mb,,,
    kasian rina, , dikira mengada"

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, tebakan Mbak Maya jitu banget deh...

      makanya tak heran lagi kalau petinggi negeri ini yang bergelar kesarjanaan panjang banget dan bertitel H juga masih korupsi.

      Hapus
    2. title gak menjamin baik bruknya seseorang, yg terpenting adalah akhlaq betul toh mba'e ... :)

      Hapus
    3. aklhak itu taunya setelah kita berinteraksi ya mas..

      Hapus
    4. iya Mas Fiu, Pak Agus...panjenengan leres...

      Hapus
    5. leres itu baju yg habis dicuci terus ditiriskan airnya yah mb ...hehehe :D

      Hapus
    6. peres Mas...pereeeeeesss..!!! hehe

      Hapus
    7. oya dink, peres yah mb ...... heeeee ^_^

      Hapus
    8. tuh kan, Mbak Nawang nih malah balik lagi, kan udah dijelasin kalau nyuci terus diperes...hehe

      leres itu betul Mbak

      Hapus
    9. hahahahaha mb nawang jadi ikut2an dweh .... tp ketauan bukan orang jawa yaaaaaah .....heee

      Hapus
    10. haji juga manusia...
      lagian urusan moral tak bisa melihat latar belakang pendidikan atau agama doang. tetap dominan dari diri kita masing masing

      di kalimantan ada daerah dimana haji jadi kewajiban
      namun kayaknya bukan unsur ibadahnya yang utama
      karena pemeo tak tertulis yang berlaku, kalo udah naik haji berarti sudah bisa nambah istri...
      *keren kan..?

      Hapus
  3. waduh ceritannya bersabung ya KK.. terusin dong sampai Rina lahiran ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sabar deh mang... nati juga diterusin ceritannya... mamang kemana aja baru nongol kesini?

      Hapus
    2. Mang Yono dan Mang Oprek...ntar kalau diterusin nggak bakalan selesai sampai blog ini tutup Mang...

      Hapus
    3. taruhan. mamang yono belum baca! hayo ngakuu

      Hapus
    4. Maaf nimbrung disini Yah Mbakyu Khusna..?
      Mau nanya saja saya Mbak. kalau Mbak Rina yang di ceritakan
      Di artikel Mbak Khusna ini Putrinya Mbak Khusna atau gimana

      Hapus
    5. saya udah baca mas zac.. judulnya 2 kali ceritannya baru tamat sekarang hehehe...

      kang Karys... pengen tau apa pengen tau banget?

      Hapus
    6. halah....mang yono alasan

      Hapus
    7. saya percaya Mamang sudah baca (walau judulnya saja...hayo ngaku)

      hehehe, mau tahu saja nih Mas Saud...siapapun Rina di atas nggak begitu penting Mas, yang penting adalah kisah ini betul-betul terjadi dan ada.

      Hapus
    8. rina itu tetangganya cak bud kali, makanya tanya rina terus, di cariin ibunya tuh suruh beli gorengan ndak pulang-pulang

      Hapus
    9. kasihan banget, mungkin kejebak macet pak, jemput gih...hehe

      Hapus
    10. yang pasti rina itu bukan saya xixixi

      Hapus
    11. trus siapa dong?

      Apa kabar Mbak, lama tak sua...

      Hapus
    12. yaudah aku aja gapapa...
      *pembagian sembako kan..?

      Hapus
  4. Mudahan ada sisi positif yang bisa kita ambil dari cerita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahh? positif? pake tespek ya Mas?

      Hapus
    2. siapa yang tanggung jawab coba ?

      Hapus
    3. makasih banyak Bang Abed...betul, semoga bisa diambil hikmahnya.

      tespek? Pak Zach pernah nyobain ya? buat apa Pak?

      Hapus
    4. Pak Agus sama Mamang, kalau main tespen jangan disini lho Pak, hati-hati nanti korslet...kalau ketularan korslet saya nggak bertanggung jawab loh.hehehe

      Hapus
    5. numpang lewat, ga mampir takut ketularan korslet :d

      Hapus
    6. silakan lanjut...hati-hati ya Mbak, jalan di tepi sebelah kiri...

      Hapus
    7. emang lik zach konslet kok pake testpen segala..?

      Hapus
  5. wah berbakat menulis novel rupanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. jelas dong siapa dulu temannya

      Hapus
    2. hehe, makasih banyak Pak Joe, endak kok, sekedar menulis ulang sebuah kisah nyata.

      yang jelas bukan teman Pak Agus, tapi saya muridnya...beliau banyak mengjarkan ilmu ke saya.

      Hapus
    3. saya juga mau di jadikan murid, jadikan saya muridmu guru

      Hapus
    4. Mbak, kalau mau daftar jadi murid, isi formulirnya dulu

      Hapus
  6. sebentar ya mba saya baca dulu...

    #alesan,penting komen masuk....xixixixixi

    BalasHapus
  7. gelar tidak menunjukkan status akhlaknya ya...
    lagi2 urusan syahwat nggak pandang bulu, tapi pandang tubuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya dampingi gelar sepanduk caleg ya

      Hapus
    2. pandang bulu siapa Pak Wong? hehe

      mungkin kita sering terlalu percaya kepada mereka yang bergelar dan berkedudukan tinggi, akibatnya timbuk ketidakwaspadaan

      Hapus
  8. Selamat Malam jelang Pagi Mbak Khusna Hairunnisa
    Salam Ukhuwah Islamiah Se nusantara yah Mbak Khusna
    Ijin simak artikel yang Mencritakan Seorang Ibu Rumah Tangga Mbak Rina
    Kalau gak salah yang jadi Figguranya yah Mbak ? hh saya salut dan terharu
    Atas Cerita Mbak diatas sangat Kreatif dan Inovatif Mbak Marangkai artikel
    Dengan baitan teks yang sangat mendetail sehingga saya mudah untuk
    Memahami artikulasi dari alur cerita yang menceritakan Problema Rumah
    Tangga Mbak Rina yang sedang Mengandung dan di tinggal Suaminya di
    Tanah Rantau untuk Ibadah. terima kasih sudah berbagi cerita yang bermanfaat ini
    Dan saya bisa mengambil HIKMAH dari alur cerita Mbak Khusna ini Salam Hormat Selalu Buat Mbak Khuna Hairunnisa Salam Hangat info Cemerlang

    BalasHapus
    Balasan
    1. pagi Mas Saud...makasih banyak sudah menyimak dengan sepenuh hati...moga menginspirasi

      Hapus
  9. Maafkan Mbak Khusna pada teks Comments saya yang paling Akhir
    Diatas nama Mbak gak kompiit Maksud hati Mbak Khusna Hairunnisa
    Namun hurup "S" malah gak kebawa gak di sengaja Mbak Mohon Maaf.
    Maklumlah Mbak saya Wong Ndeso yang kurang Pendidikan hhhh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah akang dah ngantuk ya... ya udah gak apa - apa kang orang tempatnya lupa dan khilaf... pakai S nanti Mbak KK nya kedinginan hehehe

      Hapus
    2. walah, ndak papa Mas, biasa aja kali...hehe

      Mamang sukanya gitu deh...masa saya mau dikasih es...ya udah sini, biar saya bikinkan es campur sekalian buat para tamu

      Hapus
  10. Kaji dan penyandang "GUS" atau anake kyai tapi kok cabul...dan parahnya lagi kok ya dari Tuban, itu tuban mencoreng pondok pesantren di tuban aja nih mbak. padahal di tuban itu ponpesnya angker-angker lho mbak..ealaah di rusak sama kaji cabul ini...
    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh mohon maaf Pak Agus, bukan maksud saya menjelekkan nama Tuban...saya yakin banyak orang baik di sana (Pak Agus contohnya)...saya hanya menulis ulang sebuah kisah kok Pak...bukan bermaksud mendiskreditkan suatu tempat.

      Hapus
  11. titel keagamaan juga profesi keagamaan tidak menjamin bahwa orang itu akan berjalan di jalan agama.. #sok tau kumat

    kira2 bagaimana kelanjutan hubungan Rina dan suami terhadap keluarga dari suami, mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hubungan masih baik mas, saya sudah dapat bocorannya...
      nantikan kisah selanjutnya ya..
      ini ada iklan saya pamer gigi saya..silakan dinikmati

      Hapus
    2. kira-kira begitu intinya Pak.

      Pak Budy...masih panjang cerita si Rina, suatu saat akan saya tulis lagi...sabar dulu ya Pak..hehe

      hehe Pak Agus kalau pamer giginya kelamaan nanti bisa masuk angin lho...

      Hapus
  12. Tetangga ku ada yang namanya Rina juga mbak, jangan-jangan dia pergi kerumah ibunya kemarin gara-gara kejadian diatas ya.. He.he.he..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe mungkin Bang, dan jangan-jangan saya nanti bakal ditagih royalti karena mempublish kisahnya...

      Hapus
  13. kasihan Rina, terus suaminya kemana saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. suaminya kaya bang thoyib mungkin .....hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya