Kok Jadi Begini

Kok Jadi Begini


Oke-oke-oke.
Kita setting situasinya begini.
Di rumah ini ada 6 orang penghuni. Empat orang dewasa, satu anak-anak, dan satu lagi bayi...ingat itu be-a-ye-i, baby. Begini. Malam ini adalah the last nite kami tidur di rumah ini. The last nite ya...malam terakhir tidur di rumah nomor F 68 komplek perumahan karyawan pabrik kertas dan pulp yang disebut dengan Riaupulp. Kalau ini adalah malam terakhir kami tinggal, artinya....artinya....artinya apa. Artinya besok kami harus angkat kaki dari komplek. Titik.

Nah, kalau besok kami harus sudah angkat kaki dari komplek, tak mungkin dong pergi plencing uwong thok, alias pergi begitu saja. Empat setengah tahun kami tinggal di sini. Four point five guys...4,5 tahun. Tentunya ada banyak perlengkapan dan barang-barang yang kami punya. Walaupun furniture, kasur, selimut, seprei dan korden jendela sudah dipinjami sama perusahaan, tapi kan masih banyak barang-barang yang lain. Alat dapur, perlengkapan masak, baju-baju, mainan anak, barang elektronik, buku-buku dan kawan-kawannya. Pokoknya banyak deh. Walaupun kami bukan termasuk orang yang suka menimbun dan menumpuk barang. Membeli barang yang nggak dibutuhkan...ney ney ney...kami nggak kayak gitu. Barang-barang kami barang-barang kebutuhan pokok saja.

Sejak kemarin, seingat saya sejak 3 hari yang lalu hanya saya yang tampak sibuk dengan packing-packing dan packing barang. Pilih-pilih barang, mana yang akan dibawa, mana yang akan dikasihkan orang, mana yang akan dibuang. Mengelompokkan barang, mana yang masuk kardus besar, mana yang masuk tas, mana yang masuk koper, mana barang yang perlu dibungkus plastik sebelum dumasukkan kardus, mana barang yang perlu dibungkus kertas sebelum dimasukkan kardus, mana yang harus dilabeli. Kayaknya hanya saya saja. Bangun jam 04.00 atau 05.00, setelah subuh, kemudian mencuci baju, masak, ngurusi anak-anak kemudian kembali lagi dengan aneka barang yang ngantri mau masuk kardus. Hoooo mai gattttt... Yang laen pada kemana bu? *berasa saya kena sindrom OCD

Nah, bahkan sampe detik ini...tunggu lirik jam dulu. Detik ini, jam 00.24 alias tengah malam alias jam kuntilanak gentayangan, saya masih gentayangan juga saudara-saudara. Ngapain. Nungguin mesin cuci berputar sambil blogging. Iya, blogging sebagai pelarian setelah tadi berkutat dengan stiker-stiker yang nempel di dinding. Netheli stiker-stiker Zaki rupanya cukup memakan waktu juga...

Oiya, lupa. Sore tadi kami masih sibuk kusak-kusuk mencari solusi siapa gerangan yang bisa membantu kami mengecat rumah. Rumah harus bersih dan rapi saat dikembalikan ke perusahaan lagi. Kalau belum rapi, ya nggak bisa serah terima kunci, kalau nggak bisa serah terima kunci, ya si ayah nggak dapat surat keterangan kerja dong...kalau nggak dapat surat keterangan kerja, nggak bisa ngambil Jamsostek dong.....dong dong kedondong.

Kok dadakan sih bunda nyarinya. Enggak say...ayah nggak dadakan nyari orang yang bisa bantuin ngecat rumah tuh...sudah sejak 3 minggu yang lalu saat ayah mulai kerja di Palembang, ayah udah dapat orangnya. Siapa eh siapa gerangan. Yaitu beliau karyawan housing dept. yang tadi (sore tadi) kami sewa untuk melepas AC sama TV kami yang masih kokoh tertempel di dinding. Jebulnya, beliaunya nggak bisa bantu. Bekaus....rupanya beliau menolak setelah awalnya setuju, alasannya karena mengecat rumah bukan kewenangan beliau, apabila beliaunya nekat kami sewa untuk ngecat rumah juga, beliau akan ditegur sama perusahaan dan kena penalti, secara ada divisi khusus yang kerjaannya memang khusus ngecat rumah doang. Lha kok nggak minta bantuan tukang khusus ngecat saja to bunda? Tidak bisa, karena tanggal merah, 25 Desember, hari libur nasional, artinya kantor housing departement tidak buka. Ya eya lah, namanya juga libur.

Jadi....setelah berkali kali dan kali dan kali. Entah Kali Kampar, entah Kali Siak. Berkali-kali telpon sana telpon sini hasilnya nihil juga. Bunda tiba-tiba punya ide. Wait! Ahaaaa, aku punya ide. Eurika!!! Bunda telpon embak asisten gosok saya, itu loh, Kak Lina, yang tiap hari datang ke rumah saya untuk nyetrika baju. Alhamdulillah suami Kak Lina bisa bantu, besok siang suami beliau akan datang untuk mengecat rumah kami. Kenapa kok suami Kak Lina, kenapa nggak sembarang orang aja, ya siapa gitu kek. Itu lho, masalah birokrasi masuk Town Site I tuh susahnya sundul langit alias susah banget. Kalau suami Kak Lina kan sudah biasa masuk Town Site I, kayaknya beliau sudah punya surat-suratnya gitu deh...

Ah, mesin cucinya udah berhenti...dah rampung nyuci...ngeluarin kain-kain dulu....

kayak gini nih dinding rumah saya...



Posting Lebih Baru Posting Lama

46 Responses to “Kok Jadi Begini”

  1. dinding keren mbk ....heeee ....pissss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kreatif, saya suka saya suka....

      Hapus
    2. haduh, keroyokan gini...maaf tuan rumah telat datang bapak-bapak ibu-ibu...

      Hapus
    3. Dindingnya sama kayak rumah saya, penuh graffiti imajinasi tingkat tinggi...

      Hapus
  2. kreasi seninya didinding oke banget :)

    BalasHapus
  3. Sekali kali review donk mba tentang Pabrik kertas/pulp "Riaupulp" ini. Soalnya ini pasti menarik karena sesuai dengan perusahaan background saya di MEdia. Kan perlu kertas juga sebagai bahan bakunya. Siapa tau perushaan kami order sama perusahaan "Riaupulp" ini

    BalasHapus
  4. wih kyak coretannya hayyu mbak :D

    BalasHapus
  5. keren ih dindingnya,terus berkreasi dek biar temboknya sering dicat :D

    BalasHapus
  6. semoga rumah yang baru lebih bagus ya mbak

    BalasHapus
  7. wah...selamat menempati rumah barunya ya KK, semoga ditempat yang baru semua perabotannya juga baru, kan sekarang mah udah di cat sama suaminya bu Lina itu.
    satu lagi semoga bahagianya tambah makjleb dengan rezeki yang kian berlimpah...aaaamiiiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, ini doa sejuk, semoga ijabah

      Hapus
  8. Yeaay pindahan nih yee...numpeng dooong. Eh disana ada tradisi numpeng gak ya?
    *lupakan*

    Oiya, itu dinding dedek nya yang gambar ya? Kalo saya jadi ayahnya, coretan bagaikan mural paling cantik & paling artistik sedunia, soalnya digambar oleh pikiran yang murni. Ngerti, kan? Enggak ya? Yaudah gapapa.
    *kok malah ngomentarin tembok ya?*

    BalasHapus
    Balasan
    1. tembok memang tegar ya Mas
      hebat ih si tembok

      Hapus
  9. asyik tu buh bunda, anaknya kreativ. jangan dimarahin ya. hehee salam kenal bunda

    BalasHapus
  10. wah kebayang banget gimana ribetnya mbak
    oh iya, salam kenal ya mbak :)

    BalasHapus
  11. waduuuh tuh dingdingnya kaya tempat belajar yaa mbak buat anak-anaknya :D

    BalasHapus
  12. dindingnya sama dengan dinding rumah saya, penuh coretan. tapi kalau saya malah lebih suka kalau dinding dicoret-coret sama anak asal jangan anak tetangga

    BalasHapus
  13. pantang menyerah dan pantang putus asa, hmm seperti pejuang ya mbak, tapi iya kok, kan memberishkan dinding yang kotor juga perlu perjuangan heehee, salam kenal :D

    BalasHapus
  14. lama nggak main ke-mari..ternyata ada yang mau pindahan....aduh kok sibuk sendiri sich bu...., padahal yang mau pindah kan bukan cuma ibu saja....
    btw-saat ini mungkin sudah pindah rumah ya...semoga mendapat tempat yang aman dan menyenangkan ya bu....
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  15. Balasan
    1. semoga tidak ke saliwangi - tritih
      kesenengen sampeyan mengko

      Hapus
  16. saya agak analog sama kasus ini
    cuma ceritanya rumah saya itu mau saya kontrakin
    ngecat ulang dinding yang ada parade komik anak-anak seperti tu jiaaann, bikin energi habis. saya berempat (sama istri dan anak2) tuh sampe malem2 masih ngecat

    BalasHapus
    Balasan
    1. harusnya bikin perjanjian mas, yang ngontrak harus ngembalikan kontrakannya seperti sedia kala... hehehe

      Hapus
  17. anak kecil gitu ya paling seneng bikin desain di dinding :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. malahan suka corat - coret di badannya sendiri he

      Hapus
    2. Malahan, badan saya dicoretin sama anak saya, karena stock tembok sudah penuh sama coretan anak saya...

      Hapus
  18. Ternyata mbak KK mau pindah dari Riau ya... semoga aja di tempat dan lingkungan baru lebih nyaman dan cocok dari pada di tempat yang lama ini ya mbak KK

    BalasHapus
  19. Semoga tempat barunya bisa menjadikan Rumah adalah Surga bagi keluarga..

    Salam..

    BalasHapus
  20. Ternyata sama, tembok di rumah juga penuh ama coretan :)

    BalasHapus
  21. Wah, hehe... dindingnya dijadiin kanvas... sungguh kreatif namun sayang tidak pada tempatnya ya, hehehe.. :)
    mba Khusna Apakabar? lama aku gak blogwalkingan kesini :)

    BalasHapus
  22. dinding khas anak anak ya Mbak..
    hehehhee

    BalasHapus
  23. wow... seneng sekali kalo bisa gambar di dinding

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya