Saya dan Adaptasi yang Lama

Pindah ke tempat tinggal yang baru, pastinya suasana juga baru. Saya dan keluarga mesti menyesuaikan diri. Tak boleh lama-lama, kalau bisa ya secepat mungkin.


Purwakarta saya anggap sebagai kota yang bangun lebih awal dari kota-kota lain di Indonesia. Kenapa? Anak-anak sekolah di daerah Purwakarta pinggiran, seperti tempat tinggal kami, masuk pukul 06.00 WIB. Wow! Iya. Baca-baca sih, Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi yang membuat kebijakan tersebut. Jam 05.00 pagi sudah banyak anak-anak sekolah dan guru-guru yang nunggu angkot di tepi jalan.


Jangan heran kalau kedai-kedai sayuran dan warung kelontong sudah buka sejak pukul 04.00 pagi. Kalau di Jogja atau di Riau, jam segitu boro-boro sudah buka, pemiliknya pun bisa jadi masih mlungker di tempat tidur.


Jam 04.30, sebelum shalat shubuh, biasanya saya sudah melenggang di gang kompleks, menuju kedai Mang Asep untuk membeli kebutuhan lauk dan sayur sehari-hari. Ya, awalnya sih nggak tau. Pertama kali belanja, tanya-tanya tetangga mana kedai sayuran, dijawab "Di sebelah sana Neng, blok F". Tak tik tok tik tak tik tok. Tau arah utara selatan saja sudah syukur, ini dibilang blok F lagi. Pening lah. Senjata utama, hape. Google Maps. Nemu kedai pertama kali, sudah sepi kosong mlompong yang dicari ludes gak ada. Iya lah waktu itu saya belanjanya jam enem.


Kejutan tiap pindah kota bagi saya adalah, saya selalu merasa bahwa kemampuan memasak saya tiba-tiba lenyap entah ke mana. Dengan takaran air yang sama, memasak nasi selalu berakhir dengan hasil yang tak memuaskan. Terlalu lembek lah, terlalu keras lah. Begitu juga memasak sayur. Dengan bumbu yang sama, tapi rasa masakan berbeda dari harapan. Kesimpulan saya, lain daerah, lain jenis berasnya, lain cita rasa sayurannya. Betul saja, bawang merah di Purwakarta berasa lebih tajam ketimbang bawang merah di daerah Bengkalis. Dan ikan nila di Purwakarta tercium sedikit lebih amis ketimbang ikan nila di Pangkalan Kerinci, yang biasanya dipasok dari wilayah Danau Maninjau. Butuh waktu sebulan dua bulan bagi saya untuk mempelajari karakteristik sekian jenis bahan kebutuhan dapur saya.


Mungkin Anda mempunyai pengalaman serupa?

Posting Lebih Baru Posting Lama

2 Responses to “Saya dan Adaptasi yang Lama”

  1. Lain ladang lain belalang kan ?
    Lain tempat lain budaya, lain kebiasaan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal awalnya judulnya memang itu, saya edit, belum Nemu yg pas, eh lupa sudah main posting aja

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya