Melihat Dengan Kacamata Positif

5 Juni 2017. Suasana hati saya sedang kurang bagus. Beberapa customer yang pesan souvenir nikah agak "rewel", diikuti dengan beberapa tagihan yang tak kunjung dibayar, sedang pengiriman sudah mendekati deadline. Andai barang tak segera dikirim, takutnya pas hari H, souvenir belum nyampai di kediaman customer.


Untuk menyegarkan pikiran, saya duduk di kasur depan TV, sandaran sambil sesekali melirik anak-anak yang sibuk dengan keranjang mainannya. Saya buka Facebook. Saya tuangkan beberapa kalimat di status siang itu. Saya menulis tentang hubungan kepercayaan kepada orang lain dan uang.


Satu paragraf yang lumayan panjang untuk sebuah status Facebook. Saya tambah ilustrasi gambar uang dilipat berbentuk baju dan kupu-kupu. Gambar saya ambil dari Pinterest. Kenapa? Biar unik, pikir saya.


Sebagai pengrajin souvenir dan mahar, saya merasa gambar tersebut wajar-wajar aja. Memang saya tidak menggunakan teknik lipat saat menghias mahar, saya menggabungkan paper quilling dan menggulung uang. Tapi secara umum, pengrajin mahar memakai teknik lipat dan tempel. Banyak saya jumpai teman-teman sesama pengrajin melakukannya.


Tak lama setelah posting, seorang teman berkomentar dengan menyertakan screenshoot artikel dari salah satu portal berita online. 
 Wow, saya terkejut membacanya. Ternyata membuat mahar dengan melipat uang bisa terancam pidana 5 tahun atau denda 1 milyar! Wah, saya merasa perlu share berita ini ke teman-teman pengrajin mahar yang lain. Saya yakin banyak diantara mereka yang belum tahu.


Saya tulis beberapa kalimat sederhana dengan mencantumkan nama bapak yang "mengingatkan" saya, kemudian saya copas artikel tersebut, supaya teman-teman tidak perlu repot membuka link. Lagi-lagi saya tambah ilustrasi gambar mahar yang disilang. Gambar saya ambil dari Pinterest. Karena, terus terang saya tidak membuat mahar dengan teknik lipat.



Tak disangka, dalam beberapa menit, postingan saya dishare puluhan kali oleh teman-teman di friendlist. Beberapa juga copas status saya dengan persis mengambil gambar ilustrasi dari facebook saya. Namun sepertinya keberuntungan memang sedang tak berpihak ke saya. Postingan teman saya tidak ada yang share sama sekali, sedang postingan saya?


Saya bingung, apakah saya harus merasa senang atau sedih.


Dalam 3 hari, postingan saya dishare 4.700 kali dengan lebih dari 1000 komentar. Gila. Jadi viral begini. Saya sempat menaggapi komentar-komentar di awal. Komentar bernada positif dan bijak. Ya, kebanyakan yang berkomentar di sana adalah pengrajin mahar dan pekerja seni.


Kemudian mulai hari kedua, komentar di bawah-bawah mulai bernada tidak enak. Banyak yang menyudutkan saya. Banyak yang menghujat saya dan memaki saya. Jantung saya berdegup kencang. Saya marah. Iya, saya marah dengan kelakuan mereka. Saya marah membaca kata-kata kotor dan jelek yang mereka lontarkan kepada saya.


Saya dibully di status saya sendiri. Saya dimaki-maki oleh sekelompok orang di status saya sendiri. Suasana hati saya semakin kacau. Pekerjaan saya banyak yang terbengkelai. Beberapa supplier di Jogja sampai lupa saya hubungi untuk segera mengirim barang-barang kebutuhan saya.


Saya butuh seseorang untuk diajak ngobrol. Seseorang yang ngerti betul dengan kondisi saya. Saya mencoba menghubungi teman dekat, tapi tanggapannya kurang memuaskan. Dia menagnggap viral di dunia sosial media adalah hal yang wajar. Kemudian lagi, saya mengirim pesan Whatsapp ke sahabat saya yang lain. Tanggapannya singkat. Oke, saya anggap usaha saya nihil.


Saya tunggu suami saya pulang kerja. "Sudah, lock aja statusnya, daripada bikin resah. Niat kita baik, berbagi informasi. Tapi masyarakat gak bisa menerimanya. Daripada sampeyan entek dibully, kunci aja statusnya, Yang."


Saya turuti perintah suami saya. Beberapa jam setelahnya, facebook jadi adem. Sehari kemudian, suasana kembali kondusif seperti hari-hari biasa. Request permintaan pertemanan yang belum saya konfirmasi hampir 300 akun, hanya dalam 3 hari. Saya diamkan saja.


Saya semakin sadar. Ada hal-hal yang kita anggap penting, ternyata di mata orang lain hal itu bisa jadi hanya sampah. Atau malah bisa jadi hal itu adalah senjata yang mematikan.


Mari melihat dengan kacamata positif sebelum kita menjudge orang lain.





*Griya Asri, Purwakarta

Posting Lebih Baru Posting Lama

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Follower

About Me

Foto saya

Crafter ala ala yang sok istimewa dan sok bisa segalanya